Jumat, 07 Agustus 2015

MAGIC - CERPENME

  

SINOPSIS :
 Track – Florida Ft Sia_Wild
                Lagu itu terus melantun, hingga membuat seisi seluruh ruangan ini harus bergerak dan saling menggila, music dengan dentuman yang kuat itu terus menguat. Teriakan demi teriakan menggema membuatku seakan ingin melayang dan jatuh untuk menghentikan aksi ini. mata terus tertuju demi lentik pergerakan anak-anak disana, mereka benar-benar gila.
“Siapa yang suruh kalian untuk berbuat gila seperti ini!!!” teriakku.
                Semua berhenti seperti lagunya yang sudah di Paused begitu cepat, mungkin lagu itu akan berhenti seperti radio rusak, terdengar klise memang. Pergerakan berhenti, mata mereka tertuju kepadaku dan menegang suasana.
“aku Tanya kalian, siapa yang suruh untuk berbuat gila seperti ini!” tekanku.
“tak seharusnya kamu mengatur kita, kita tahu! Kalau kamu adalah ketua dari komunitas ini tapi sungguh, kita juga ingin bersenang-senang” Ucap Gilang.
                Aku mengangguk dan tersenyum sinis terhadapnya, “bukan namanya Gilang seorang mantan ketua dengan senang hati berkata seperti itu, itu diluar logika. Kalian semua membuat berisik semuanya, seakan dunia ini milik kalian” ujarku.
“gak ada orang yang berani mengatur hak orang lain, well? Kita udah punya Plan, dan semoga Plan itu bisa ngebuat kamu sadar. Kita lepas dari nauangan kamu, dan ingin melawan kamu dan seluruh orang yang bersama kamu untuk terus menghadiri Tes Dance selalu” Kilah Sarah membuatku sedikit menggeram.
                Tanganku mengepal kemudian menatap manik sarah, “jadi kalian mau lepas naungan? Itu terserah kalian. Dan untuk Challenge, aku hormati kalian” kataku dengan tegas.
“oke, jadi kamu setuju. Mulai besok disekolah ataupun diluar sekolah kita saling kejar-mengejar popularitas untuk mendapatkan Awards” aku berlalu meninggalkan mereka.
---
                Track – Demi Lovato _ Fix a Heart
                Aku sesekali menyesap sedikit coklat panas yang dibuatkan Tasha tadi, hatiku masih gusar. Bagaimana bisa aku berani mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dulu, ini semua sudah terlanjur. Komunitas yang sudah ada diatas tahta tinggi itu harus terpecah menjadi dua, setelah kejadian dimana aku dalam keadaan  marah. Oke, awalnya mereka yang berani membuat berisik seisi ruangan kemarin. Itu adalah hal yang membuat semua sponsor akan tahu, kalau nyatanya kami tidak kompak.
“aku sudah bilang Ree??, kekompakan yang jika dipaksa itu akan berbuah kegagalan. Fatal, semuanya kan?” tukas Gaby yang duduk dihadapanku.
                Aku menunduk dan mengarah kearah Gaby lagi, “itu gak semudah yang kamu kira Gab? Aku lakuin kaya gini untuk menyelamatkan nama Baik Komunitas dan bukan Cuma itu Gab, sekolah kita tidak terlalu diburu Paparazzi. Nama baik sekolah dan termasuknya komunitas Dance itu terpuruk, itu karena mantan Ketua Dance kita dulu” ujarku.
                Gaby menghela nafasnya dalam-dalam, “yaya soal itu aku tahu. Siapa lagi kalau bukan Gilang??” timpal Tasha yang berjalan santai menuju aku dan Gaby.
“itu mantan kamu” ucap Gaby sambil tersenyum jahil.
“sekarang, gak lagi. Setelah aku tahu, kalau ternyata dia itu Players, masih mending Players doang tapi dia Bad Boy” ucap Tasha sambil bergidik jijik.
                Aku tersenyum miris melihat gerik Tasha, ya cewek ini alias sahabatku adalah Mantan pacar Gilang yang stress itu.
“gara-gara Gilang yang gonta-ganti cewek setiap kali, bukan itu doang. Dia pun sering cari sensasi, so dengan gampang nama komunitas juga terbawa. Bahkan sampai sekolah kita kaya buronan, gak malu tuh si Gilang” alih gaby.
                Aku mengedikan bahuku tanda tak mengerti, “si Oon mana?” Tanya tasha.
Aku dan Gaby menggeleng ,“sebaiknya,kita cari member yang lain dan kita bikin plan karena mulai besok kita Tour tapi bareng mereka, jangan sampai kita terkecoh” ujarku menatap Tasha dan gaby bergantian.
“jadi, kamu terima Challenge mereka? Itu lebih baik karena kita gak akan malu, soal pengunduran diri itu? kita punya alasan. Tapi sayangnya, di group yang tersisa ini, kita gak punya tenaga cowok” aku menyadari ucapan Tasha.
                Kita masing-masing harus terdiam dalam keheningan, iya tidak ada members cowok untuk bisa melawan challenge group Gilang, aku menghembuskan nafas berat. Bagaimana cara mencarinya? Aku tidak tahu, disekolah saja sudah banyak yang membuat Group sendiri ketimbang masuk komunitas. Karena jika masuk Komunitas hanya akan ada tantangan terus tantangan, jika membuat sendiri Group . mereka akan langsung jadi artis baru.
“kalian kenal Peter Diaz Pranata??” Tanya Tasha ragu-ragu.
                Kamu berdua mengangguk, “dia jago banget nge-dance, apapun bentuknya. Soal rumor kalau dia sekolah disekolah Art itu hanya untuk meneruskan pendidikan saja, itu salah. Dia akan bermain dibelakang dan menunjukan nanti saat waktu yang tepat” ujarnya.
“bukanya dia Rival Gilang, kalau kita ambil Peter berabe Sha. Masalahnya, kalau emang bener kita ambil dia, yang ada dia sama Gilang bakalan adu bacok kali” ujar Gaby songong.
                Aku menggeleng, “itu boleh, aku penasaran sama dia” aku tersenyum.
                Ucapanku itu membuat Tasha dan Gaby harus melongo dan tidak mempercayainya. Mungkin, kata-kataku tadi sangat menuju bahwa aku memang berharap Peter masuk, karena nyatanya dua sahabatku ini tahu bahwa aku menyukai Peter.
“oh, aku baru sadar. Kamu cari kesempatan yaa? Gak papa sih?” ucap Gaby sambil tersenyum jahil.
                Sedangkan Tasha, dia hanya tersenyum. Oke, aku tahu Tasha adalah mantan pacar Peter juga, namun itu dulu sedangkan sekarang tidak, karena dulu yang menembak duluan adalah Tasha. Jadi, yang memutuskan berakhirnya hubungan itu adalah Peter. Tasha, memang harusnya kau namakan sebagai teman saja. Karena dia baru beberapa minggu bergabung dengan kami bertiga.
“woy!! Aku datang” teriak Oon membuat kami bertiga harus tersentak.
                Dia tertawa renyah, hingga harus terduduk dengan mata yang meneteskan air mata. Dia adalah Oon yang sesungguhnya, cewek penuh keceriaan ini memang tiada tara jika sedang berbahagia. Aku hanya menggeleng tidak heran, sedangkan Gaby dan Tasha melihati oon saja.
“Wow, ada coklat panas. Aku minumlah, enak tuh kayanya” alisnya bergerak-gerak senang.
“eits, ini milikku” ucapku sambil mengambil cepat cangkir yang berisi coklat panas itu.
                Oon hanya mencibirku, “oke Guys gak papa sih, tadi aku kan habis  dari toko Cake biasa. Tapi, kemudian aku ketemu Peter, dia bilang dia mau masuk ke Group kita mulai BESOK!!” ucapannya membuat kita menganga.
                Aku menggeleng tak percaya, “dianya yang bilang kaya begitu apa kamu yang nyodorin??” ucap Gaby masih dengan mata tak percaya.
“pertanyaan yang bagus, dia yang nyodorin dia sendiri, well! Bukan aku….” Ucap Oon dengan aksi lebaynya.
“kok tahu kalau kamu di Group sisa?” kali ini Oon menatapku penuh senyuman jahil.
“dia tahu kamu nge-share foto group tersisa kita di IG, dan dia bilang kayanya group kita butuh members cowok soalnya dia udah tahu berita itu” jelas Oon, membuatku harus tersenyum tanpa sadar.
                Sedangkan Gaby mencibir, “masa Cuma Peter doang sih cowoknya??” ucapnya dengan gaya biasanya.
“itu pernyataan yang bagus, karena nyatanya bukan hanya peter tapi Pilo juga menyodorkan dirinya untuk  masuk ke group kita, gimana?? Duo Most wanted Guy sekolah kita tertarik sama Group yang udah jadi sisa ini” tutur Oon.
                Kali ini Gaby tersenyum tak jelas, iyalah soal Pilo? Gaby adalah orang terdekat Pilo, mereka juga sudah menjadi mantan, mungkin Gaby ingin pdkt kembali dengan Pilo. Dan ya, Pilo juga sudah mengklarifikasi bahwa dia juga masih menampung nama Gaby dihatinya.
“kan Cuma dua doang berarti?” ucap Tasha.
                Kali ini, aku menatap Oon penuh harap, dia menjawab tak ada lagi karena nyatanya tak semudah mencari tempe dipasar, sedangkan ini mencari members.
“masih banyak yang udah nyodorin diri buat masuk ke group kita Girls. Oke, aku sebutin ya namanya. Tadi, banyaknya yang sms gitu jadi ada 4 cowok lagi selain peter dan Pilo. Ada Adrian, Epep, Valdo, dan Ryan” kini Oon menatap kami bergantian.
“Epep? Dia kan members Gilang, kok bisa masuk ke group kita??” aku semakin Heran.
                Sedangkan orang yang aku tanggapi hanya mengedikkan bahunya, “berarti members cowoknya ada 6, dan aku rasa? Mereka semua udah pada nge posisi –in diri mereka sebagai apa?” ucap Gaby.
*
                Track – Selena Gomez _ falling Down
“hari ini latihan ya? Karena besok juga mulai ada challenge, so kita semua harus tunjukin ke mereka kalau group tersisa gak seburuk yang mereka kira” jelasku kepada semuanya.
                Setelah mengatakan seperti itu, aku menghembuskan nafasku. Dalam hati yang sudah lama kini aku pendam, aku merasakan bahwa aku ingin mundur menjadi ketua, hanya saja itu butuh waktu karena mendapat ketua untuk menaungi sebuah organisasi itu bukanlah hal mudah. Jadi, sekarang aku butuh sekali penggantiku namun kurasa aku akan bermain dari belakang dan akan menunjuknya jika memang dia benar-benar mau menanggung semuanya.
“siang bolong kaya gini, masih bisa bengong ya??” tanpa kusadari dia tersenyum tipis kepadaku.
                Aku menoleh kearah datangnya suara, Peter?. Aku mencoba senatural mungkin agar tak kelihatan gugup berada didekat sosok Peter, siapa sih yang gak mau didekat sosoknya. Akupun yang sudah merasakannya sekarang begitu Excited ,oke.
“kok, kamu bisa disini? Gak pulang??” tanyaku sebiasa mungkin.
                Dia menatapku dengan tatapan tak dimengerti, “suka-suka, dan kenapa bisa kamu juga disini? Gak pulang?” Tanya baliknya.
“suka-suka juga”
                Dia tersenyum sambil meninggalkanku sendirian, kulihat punggungnya yang sudah akan menjauh kesana. Mungkin, dia akan pulang. Astaga, aku tidak mimpikan? Ketika sosok yang kamu kagumi sekali nyatanya sekarang akan terus bertemu denganmu, pasti itu adalah hal yang sangat membuat hidupmu bahagia termasuk aku sendiri.
“ciee, yang abis ngobrol” tiba-tiba tangan usil Oon menyolek daguku.
                Aku mengibaskannya begitu saja, itu membuat jijik tau. Setidaknya, Oon masih mending ketimbang Gaby yang suka sekali menciumku padahal dia adalah cewek, dia menciumku seperti itu karena alasan bahwa dia menyayangiku ,sangat.
“apaan sih On??” dengusku.
                Matanya mengedip-ngedip untuk beberapa kali sambil cengengesan gak jelas, “yaelah, yang kena virus Fall in Love. Digituin aja langsung sensi deh? Hihihihi…. Gimana sih rasanya diajak ngobrol sang pangeran? Huu, pasti itu membuat hatimu berdebar-debar dan berhamburan kemana-mana, iya ‘kan? Ngaku deh….” Dia menuding-nuding dan songong.
                Aku hanya menggeleng melihat aksi Oon yang seperti anak kecil dan songong sekali, itu pasti virus Gaby yang selalu songong.
“jangan ampe yaa tuh kejadian ngobrol sama Pangeran kamu, bisa dibawa ke mimpi kamu. Inget? Kamu tidurkan sukanya nglindur, eh tapi gak papa sih? Aku mau lihat kamu nglindur pas bagian fall in love sama Pangeran. Hahaha…..” tuturnya lalu terpingkal-pingkal seperti anak domba kesurupan.
                Mataku berputar malas, “On, please deh!!” dia malah bertambah seperti sedang melawak di Teater.
                Aku sengaja meninggalkan Oon yang sudah seperti kucing kepanasan dan koprol-koprol ditanah karena gatal, oke. Itu lebay, tapi kenyataan. Nah, ini dia virus lebay Oon sudah menyebar kemana-mana. Astaga, kenapa gak jelas gini? Kakiku terus menyusuri jalanan menuju rumahku, oke tempatku latihan Dance dan rumah itu hanya kilasnya beberapa meter, jadi aku dapat melakukannya dengan berjalan.
                Sedangkan aku yang berjalan begitu cepat, kini aku merasakan ada yang mengikutiku. Awalnya memang aku sedikit heran, siapa sih yang sedang usil ngikutin? Aku menoleh kebelakang, tidak ada. Aku terus berjalan walaupun agak sedikit penasaran, apa benar ada atau tidaknya orang dibelakangku? Ya sudahlah.
                Tapi, “hey, namamu Claudya Rainee ‘kan?” orang itu menepuk bahuku hingga kau tersentak kaget, aku menoleh.
“eh! Siapa kamu??” tanyaku tanpa menjawab pertanyaan orang itu.
                Dia tersenyum lembut, “aku Dino, ini untukmu” ujarnya sambil menyodorkan secarik kertas kepadaku.
“apa itu??” tanyaku.
“sudahlah, ambil saja. Kamu bisa membukanya untuk mengetahui” ujarnya tapi dia langsung meninggalkanku.
*
Magic…?
                Itu yang tertera diawal lipatan kertas ini, aku bingung kenapa inisialnya bukan angka atau beberapa huruf. Tapi, ini sebuah kata ‘Magic’ bukannya itu sulap? Siapa sih ini orang, perlahan aku membukanya dan…
Magic…
Aku dengan mudah akan terus bertemu kamu. Karena kekuatan ‘Magic yang aku punya, aku bisa menyulap kamu menjadi kaget setelah terus bertemu denganku.
                Siapa yang akan bertemu denganku setiap hari?? Peterkah? Itu Impossible sepertinya.  Ya tapi ini siapa? Ini gila, aku bukan cewek yang begitu terkenal.
“ciieeee, yang di Stalker-in” colek Gaby.
                Dia duduk sambil merebut kertas itu, sedangkan aku hanya melihatinya. “aneh banget nih cowok, masa iya inisialnya Magic? Yang bener aja, tapi mungkin buat bikin berbeda dari stalker-stalker yang lain” ucapnya.
“ada apa Gab??” Tanya Oon yang tiba-tiba datang.
                Dia langsung melihat kertas yang berada di Gaby, “ini apaan sih? Surat cinta yaaa…” ucapnya seraya merebut kertas itu.
                Menurutmu respon apa yang Oon lakukan? Dia tertawa, terpingkal-pingkal. Ini anak, kalau sudah tertawa satu kali saja, dia akan terus menerus tertawa. Berarti hal itu menunjukan bahwa dia sedang senang hati.
“please deh, gak ada apa yaa stalker kek begini yang lebih professional?” ucapnya sambil masih menahan tawa menggelegarnya.
                Aku dan Gaby saling menatap bergantian, aneh memang? Sosok Stalker bisa seperti itu. yaa, mungkin benar apa kata Gaby, kalau stalker itu ingin membuat yang berbeda warna dan suasana dari Stalker yang lain.
“apa gak ada yang lebih Mainstream? Missal, diberi bunga mawar gitu atau enggak barang kesukaannya. Lah ini, gak modal banget” tutur Oon.
                Aku menghela nafas , “seenggaknya dia udah mau berusaha kenalin dirinya sama orang yang dia sukai” kilahku.
                Oon hanya berdehem, “iya deh yang punya Stalker, belain!” ucapnya.
“aku tahu On, selera kamu. Kamu maunya cowok yang ngasih bunga mawar, coklat, boneka yaaa…intinya yang unyu-unyu gitu. Itu terlalu mainstream On, sadar diri” jelas Gaby.
                Sedangkan Oon malah berjengit sambil cengengesan, “yang mainstream itulah yang sering dilakuin sama orang-orang yang lagi jatuh cinta” tuturnya sambil keluar dari kamar.
                Kali ini Gaby, dia berpindah tempat menuju layar laptop miliknya. Ia dia sahabat diantara kita bertiga yang selalu update di sosmed, gak Cuma itu dia juga udah jadi Fanbasenya group Band sub Korea-china yakni Exo. Sedangkan aku kali ini, aku hanya menatap layar ponselku. Karena tadi terdengar deringan.
1 Message Path
PiloRadian_ Ree….???
ReeClaudya yap! Ada apa Lo??
PiloRadian_ Gabynya ada gak sih Ree??
ReeClaudya ada Lo, tapi lagi update. Biasa di sosmed.
PiloRadian_ oh gitu…makanya. Ya udah Ree, thanks yaa infonya.
                Aku tersenyum, ada-ada saja. Pasti Gaby lagi manyun sama Pilo, pasti masalahnya sepele. Gabykan gitu-gitu manja banget jadi cewek. Makanya, dia dari dulu udah jadi Fangirling banget soal update di sosmed. Kemudian, setelah melihat balasan Pilo dengan senang hati aku membalasnya.
ReeClaudya anytime Lo.
“kenapa sih senyum-senyum aneh gitu??” Tanya Gaby.
                Oh ternyata dia sadar, “gak, tadi Ilo SMS di Path. Nanyain kamu” ujarku sejujurnya.
                Kini kulihat kening Gaby berkerut, “tumben nyari info ke kamu, biasanyakan sama Oon?” ujarnya lalu menghadap kearah laptopnya lagi.
KLING!
Ada sms??
                Oh bukan. Ini bukan SMS biasa, ini dari Emailku. Siapa sih? Pasti minta chattingan. Aku melihati layar ponsel begitu pukat, melihati nama yang tertera disana.
Tanyain_namanya_aja
Kenapa nama kamu kok kaya gitu??
NeverMissingHim
Masalah yaa? Suka-suka sih…
Tanyain_namanya_aja
Heheh… ASL?
NeverMissingHim
Boyish First Please
Tanyain_namanya_aja
Dimana-mana Ladies First oke, tapi ya udah sih. Ini Asli aku yaa, tapi kamu yang duluan.
NeverMissingHim
Aneh sih, oke aku ClaudyaRee/16/student/Jkt
Tanyain_namanya_aja
Asik! Oke greeting…..
NeverMissingHim
Ya… sekarang giliran kamu.
Tanyain_namanya_aja is Offline.
“rese nih cowok! Sialan! Aku di kerjain” umpatku lalu membanting Ponselku jauh-jauh.
“kenapa kamu??” aku menggeleng.
*
“sialan! Kenapa lagi Plan lancer begini, segala pake acara baterai Low!” aku menggaruki kepalaku yang tak gatal dengan gusar.
                Siapa sih yang gak kesel? Lagi enak-enak stalker-in cewek yang disukai malah baterai Low coba. Aku hampir saja menggigit mouse yang ada digenggaman tanganku sekarang. Sialan banget, tahu gini tadi di ponsel aja sih. Tapi, ponsel aku sendiri entah dimana? Sedari tadi dicari gak ada.
Kutu mana kutu? Aku butuh buat dipitesin satu-satu…
                “kenapa kamu Pit??” Tanya Abang Dave tiba-tiba.
                Kini aku berjalan mendekati Bang Dave yang tiduran diranjangku sambil melihat Tv yang dinyalakannya.
“kesel!!” umpatku lalu membanting tubuhku ke ranjang begitu keras.
“kenapa sih??”
                Aku menoleh ke Bang Dave, “tau gak cewek yang aku suka, Ree?” dia menggangguk.
“tadi, aku lagi chattingan sama dia tapi notebook tuh sialan! Masa lagi enak-enak Chatting baterai Low” gerutuku, sambil mengambil cemilan yang ada digenggaman Bang Dave.
“You gonna Calm Down, man ?? Masih banyak waktu” aku tersenyum kecut.
                Tapi sekarang keadaan kembali hening, dengan Bang Dave yang tiba-tiba menatapku begitu intens membuatku harus menatapnya balik penuh Tanya.
“ada apa Bang??”
                Dia menghentikan aksi makannya dan duduk dengan posisi yang menurutnya enak, “kamu masih  musuhan sama Gilang??” aku mengangguk.
“iyalah Bang, secara dia itu penghambat Plan ku yang mau deket sama Ree. Ketika sahabat menjadi bangsat itu kaya Gilang, udah punya cewek masih embat yang lain” ucapku.
                Dia menepuk bahuku pelan, “gak seharusnya begitu, cepet-cepet baikkan? Takut terjadi sesuatu yang lebih dari sekarang. Tapi Abang ngliat Gilang gak pernah nunjukin mau ngerebut Ree??” aku mencibirnya.
“dia itu dilihat dari depan emang kaya gitu, sok gak peduli sama Ree. Tapi nih Ya Bang, dia bakal bermain lebih dari biasanya untuk ngerebut Ree itu dari belakang” mata Bang Dave menyipit.
“kelihatanya iya…” dia manggut-manggut.
                Bang Dave kembali mengambil wadah jajan tadi dan memasukan jajan tersebut kedalam mulutnya. Aku yang sedaritadi melihatinya kini harus beralih menonton TV yang sudah dinyalakan tadi, suasana menjadi hening. Pikiran kita hanya dalam masing-masing, kita tidak ada pembicaraan lagi.

                Hingga pagi menjelang, aku dan Bang Dave tertidur dikamarku. Ya, habisnya bukan hanya menonton drama Korea kesukaan Bang Dave yang nyebelin dan gak jelas itu, tapi sesudahnya kita menonton acara pertandingan sepakbola antara Buyern Munchen Vs Manchester City. Tapi, tidak lama kita tertidur apalagi Bang Dave mengambil cemilan begitu banyak hanya untuk menonton pertandingan, padahal gak enak dilihat tapi kalau gak ada hiburan lagi, jadi pilihan itu lebih baik.
“Bang? Bang Dave mau kuliah pagi ‘kan? Sekalian dong” ucapku.
                Dia yang sedang semrawut karena memakai Kemeja yang menurutku sudah terlalu ketat dipakainya, dia memaksanya. Alasannya, hanya untuk memperlihatkan bagaimana Seterk bodynya itu.
“sekalian kemana, hah??” ucapnya sedikit membentak.
                Aku mencibir, tadi malam aja udah baik banget segala ada acara ngambilin minumlah, makananlah eh sekarang? Udah kaya singa yang habis bangun tidur aja. Alih-alih aku melihati reaksi Bang Dave, aku melihat ada sebuah kotak. Kotak kecil itu diberi sedikit hiasan pita, namun pita itu sudah rusak dan kumal.
“ini kotak apaan sih?” kataku seraya akan menyentuh kotak itu.
                Namun dengan cepat Bang Dave menepis tanganku, “jangan sentuh benda itu!” tukasnya.
                Aku hanya manggut-manggut, takut kalau saja aku membantah untuk terus mencoba menyentuh benda itu. mungkin akan terjadi perseteruan karena Bang Dave tipe cowok yang mudah sensi jika sudah merasakan gangguan.
“ya udah, kalau gitu aku berangkat duluan” ucapku langsung meninggalkan Bang Dave sendirian disana.
                Senambi aku berjalan, ponselku tiba-tiba saja bordering. Aku merogohi saku celanaku, mencari-cari ponselku. Dan setelah itu, aku membuka pesan yang terkirim di ponselku perlahan. Ketika tahu nama yang tertera disana adalah Tasha, aku hanya mengacuhkannya dan memasukan kembali ponselku kedalam saku dan kembali berjalan.
Tasha? Bocah itu masih berharap balikan denganku, jangan harap!....
                Selagi tanganku men-starter motorku, pikiranku tiba-tiba saja melayang kepada Tasha. Saat dimana Tasha, yang tiba-tiba datang hanya untuk menjadikanku pacarnya. Ternyata trick bodoh itu hanya untuk membodohiku ,karena nyatanya, dia mempermainkanku setelah dia kembali kepada Gilang. Dia menjadikanku pacar hanya sebuah prioritas kesepiannya yang ditinggal Gilang, jadilah aku sebagai pelampiasan. Ya, akhirnya aku memutuskan hubungan itu.
                Tapi dia sampai sekarang masih berharap, setelah aku tahu berita bahwa dia benar-benar sudah move on dari Gilang. Apalah Daya, nasi sudah menjadi bubur. Semua gak akan bisa bergulir semudah itu. dengan kecepatan tinggi, aku begitu tenang menjalankan motorku dan membelah hari pagi dijalanan. Sudah biasa, kalau menjalankan motor pelan itu rasanya seperti kura-kura, tidak enak. Itulah kebiasan cowok.
*
“hey bro! tumben agak gasik nih” sapa seorang Pilo terhadap karibnya, Peter.
                Aku melihati keadaan nyaman itu dari kejauhan. Peter, cowok yang selama ini kenapa bisa aku ada disini? Ya dia yang bisa jadi membuatku kesini, karena nyatanya aku bisa bertemu kembali dengannya tanpa dia sadari. Cowok yang udah pernah membuatku kelimpungan berhari-hari karena satu Group dalam MOS waktu SMP, siapa yang gak seneng? Semua members cewek dalam Group bersama Peterpun sama sepertiku. Malu berkata adanya kepada Peter, padahal dia adalah cowok biasa.
Astaga…pagi-pagi udah ngomongin Peter. Yang bener aja sih Ree??
“ciee, yang ngliatin Pangerannya pagi-pagi. Asik deh!” kini Gaby langsung mencolek daguku.
                Aku mengelus-elus daguku setelah Gaby mencoleknya, jijik. Kebiasaan yang emang gak akan pernah pergi begitu saja, karena Gaby selalu Kalut dalam hal apapun.
“mau sampai kapan kaya gini? Gak lihat orang deket, Tasha aja berani ngungkapin perasaannya sama Peter, masa kamu cemen? Kalah dong sama Tasha” tutur Gaby sedikit menyinggung.
“aku masih takut” gumamku sambil menundukan kepala.
                “dia gak akan pernah ngelakuin hal itu Gab?? Jangan paksa!” dan Oon pun tiba-tiba datang lalu merangkulku.
“terus, selamanya akan dipendam? Kapan Happy endingnya??” sedangkan Oon tersenyum,
                Kadang hati Oon bisa jadi seperti malaikat dan akan mengeluarkan rumus kata-kata yang begitu antic dan lentik jika didengar, seperti sekarang. Hatinya akan seperti malaikat, pasti habis baca Novel tuh si Oon, diakan kutu buku tapi khusus bukunya itu Novel genre Teenlit. Setidaknya, Oon mempunyai Hobby.
“ntar habis pulang kita latihan” ujarku di tengah-tengah keheningan.
                Kulihat mereka mengangguk sambil melihati sesuatu yang membuat mereka nyaman, namun keadaan berubah rusuh ketika aku mendengar sebuah sorakan demi sorakan dilorong koridor kelas 11, mereka semakin menjadi seakan-akan sudah mendekati telingaku. Aku dan kedua sahabatku menoleh, disana gerombolan pencari sensasi berkumpul.
“ada apa??” tanyaku entah kepada siapa.
“aku juga gak tahu” jawab Gaby dan Oon bebarengan, lalu kita berjalan menuju kerumununan itu.
                Sesampainya disana, kami bertiga membelah lautan manusia itu dengan perlahan walaupun banyak desisan yang keluar dari mulut mereka satu persatu.
“sekolah kita bakal ngadain Big Party Of art dan akan kita rayakan bersama disekolah, so? Bagi yang mau menampilkan bakat kalian, kalian bisa mendaftarnya kepadaku ,nanti habis sekolah dan tiga hari kedepan!!” ucap Sara dengan lantang.
                Ya, cewek itu berdiri ditengah-tengah kerumunan manusia yang membentuk bulat. Aku hanya melihatinya dengan tenang, ini saatnya dia yang menantangku. Mungkin, ini sebabnya dia bisa berada diatas, karena dia akan selalu menjadi perayu kepada sekolah hanya untuk ketenarannya. Dia akan halnya bak ketua OSIS yang akan selalu mengadakan acara agar orang-orang dan seisinya seakan hidup lalu penuh semangat.
                Aku menghela nafas, “hey Ree! Kelompok sisa kamu bisa tampil kok, asal tampilkan apa yang mau ditampilkan itu adalah yang bermutu” ucapnya sedikit sinis diakhir kata.
“semuanya bermutu, kalau gak bermutu kenapa harus dipaksa tampil??” tukas Pilo.
                Tapi wajah Sara menunjukan bahwa dia sedang meremehkan perkataan Pilo, karena nyatanya memang begitu, Sara adalah tipe cewek keras dan inginnya menang sendiri. dan itulah sebabnya ia ditakuti sekolah, padahal dia bukan siapa-siapa disekolah, dia cewek biasa.
                Setelah itu semuanya membubarkan diri tanpa aba-aba, Pilo yang tiba-tiba datang tadi pergi begitu saja bersama karibnya, Peter. Aku dan kedua sahabatku kali ini juga harus pergi daripada kena virus marahnya Queen bee yang satu itu.
“kalian coba kabur aja setelah apa yang dikatain Pilo? Oh, apa karena sekarang kalian sudah punya Pilo dan Peter, jadi seenaknya hah? Seterusnya itu gak akan semudah yang kalian kira” ucap Sara sambil menentangkan kedua tangannya dipinggangnya masing-masing.
                Kita mencoba untuk bersikap tak peduli dengan ajuan Sara kepada kita, toh anak itu pasti akan malu sendiri. dia enaknya digituin aja, biar tau rasa. Dia bahkan memang seharusnya pantas mendapat gelar Queen Bee itu karena nyatanya dia pencari sensasi dengan siapapun.
                Kemudian, setelah meninggalkan koridor tadi, aku sendiri berjalan sendirian meninggalkan Gaby dan Oon yang akan mampir ke kantin. Seperti biasa, jam istirahat aku lebih memilih untuk duduk manis menghadapi buku-buku yang aku suka sekali. Diperpustakaan itu, tempat favoritku. Suasananya yang tenang membuatku seakan tak mau pergi dari perpustakaan itu. sampai diperpustakaan, kini aku menghempaskan bokongku ke kursi begitu lincah, karena sudah mengambil buku yang kutemukan tadi.
Menarik buat dibaca!
                Aku tersenyum senambi tanganku membalikan perhalaman yang akan dibaca, buku ini Novel. Tapi bukan novel yang sering dibaca oon setiap hari, novel ini adalah novel bergenre nyata. Seenggaknya aku gak se-mainstream pikiran Oon yang suka ria dengan novel teenlit, ya yang sering menceritakan tentang kehidupan para remaja, yang begitu banyak diliputi kemanisan.
“kayanya gak bisa diganggu??” lirih orang tersebut.
                Kepalaku langsung bereaksi cepat, orang yang kini berada dihadapanku tersenyum manis seperti gula. Alisku menaik salah satunya, heran kenapa Peter bisa ada disini? Siapa yang suruh, tapi suka-suka sih. Aku kembali menatap novel tadi, namun ekor mataku masih melirik sedikit kearah Peter, dia masih tersenyum dan itu membuat suasana menjadi awkward.
Astaga,Kenapa bisa dia tersenyum seperti itu?
“aku tahu, aku mempunyai senyum yang begitu mengagumkan jika dilihat tapi seengaknya kamu bisa melihatnya tidak terlalu malu. Kita temankan? Lihat saja senyumku, sepuasmu” ucapnya.
                Hatiku benar-benar berdebar saat ini, membuat nafasku harus tercekak. Dan perasaanku kini harus campur aduk tak jelas saat Peter mengatakan hal tadi. Tubuhku agak merinding mendengar perkataan Peter tadi. Itu membuatku harus kikuk menghadapi cowok ini.
“do not shy to me,  we are friend, isn’t??” ucapnya lagi dan menatapku dengan senyuman itu.
“yeah, we are” ucapku sedikit kikuk.
                Dia merebut novelku dengan cepat, membuatku harus melongo. Untuk saat ini, menelan ludahku saja rasanya berat sekali.
“oh ya, nanti latihankan??” aku mengangguk.
                Mulutnya terkatup, dan tangannya kini harus menutup malas Novel yang tadi direbutnya. Kini, dia memulai aksi menatapku lagi.
“kamu ketua dance kan, dan aku adalah anggotamu. Kenapa kamu harus kikuk dengan anggotamu sendiri?” dia semakin membuatku gila saat ini.
                Aku mencoba untuk senatural mungkin, “kita masih dalam tahap perkenalan, jadi adaptasi dan waktu yang lama untuk saling berinteraksi lebih” ucapku.
“well, kamu tipe cewek yang susah untuk didapatkan perhatian” katanya.
“whats wrong with the type of me??” tanyaku.
                Dia harus tersenyum untuk kesekian kalinya, “I love girl who have type like you” ucapnya agak lirih, lalu meninggalkanku.
“kamu menyukainya?” tiba-tiba saja Pak Jono datang, dan aku harus tersentak kaget.
                Setelah mengelus dadaku Pak Jono sendiri duduk didepanku dengan menaruh Koran di meja, dia melihatiku dengan senyum paruh bayanya, pria paruh baya ini adalah penjaga perpustakaan. Dan ya dia adalah orang yang sudah tahu sekali aku, karena setiap harilah aku selalu kesini.
“are you sure with your joking to me??” kataku sambil terkekeh tidak jelas.
                Dia menggeleng, “bapak tidak sedang bercanda Ree, kamu tahu. Pemuda tadi sepertinya menyukaimu juga, kamu menyukainya dan dia menyukaimu. Bapak harap kalian bisa saling mengenal lebih jauh untuk saling mengenalkan perasaan kalian masing-masing” jelas Pak Jono.
“bapak ada-ada aja sih? Gak lah, masa iya aku suka sama…dia??” gumamku sedikit malu.
“wajah kamu yang bilang seperti itu, kamu gak bisa terlalu lama ngumpetin perasaan itu lho? Selamanya kamu ngumpetin pasti akan kelihatan juga” tutur Pak Jono membuatku harus merinding.
*
                Setelah tadi aku dari perpus kini aku sedang berjalan menelusuri koridor yang sebentar lagi akan menuju kelasku.
“heh, aku mau bicara sebentar denganmu!” ujar Sara yang tiba-tiba menghalangi jalanku.
                Kini dia sendirian, “aku ada challenge buat kamu, dan itu wajib kamu ikuti karena aku juga yang akan bertanding denganmu” ucapnya begitu lugas dan tukas.
“seperti apa Challenge yang akan kamu berikan kepadaku”  dia tersenyum sinis kepadaku.
“kita masing-masing group hanya akan menampilkan dance yakni dance berpasangan, cowok dan cewek. Dan untuk pilihan konsep, udah ada konsepnya dari kelompokku jadi kamu bisa pilih, diantara dua pilihan ini, Ballad atau romance. Its up to you” jelasnya.
“kok kamu belagak curang yaa, jangan picik! Terserahkan, nanti aku sendiri yang menentukan konsepnya, untuk konsep kamu sendiri tadi. Bisa kamu gunakan untukmu saja” telakkku.
                Dia terlihat menghela nafas begitu teratur. Dan akhirnya menatapku dengan tatapan sinis seperti biasanya.
“oke, wtf!”  dia berlalu.
                Aku menghembuskan nafasku, “aku rasa aku tadi mendengar sebuah Deal, boleh kita rundingkan nanti ‘kan??”
                Astaga, ini orang bikin aku kaget saja. Pilo, cowok ini ternyata menguping sedaritadi. Tak apa sih, untung saja dengan anggota ku sendiri, kalau saja Pilo adalah orang lain, rencana itu pasti hancur lebur apalagi yang menantang bukan aku melainkan group dari Sara dan Gilang, mau ditaruh dimana cover Group aku sendiri.
“Ilo, mungkin aku akan menunjukmu dengan… Gaby??” candaku entah darimana asalnya.
                Dia terkekeh, “ternyata ada yang masih shock mendengar challenge tadi, menurutku tidak dengan Gaby. Bisa jadi, kamu dengan Peter” ucapnya.
                Hatiku tersentak mendengar nama Peter, “tidak juga, bisa jadi… ya aku ketuanya. Jadi, aku yang harus memilih siapa yang berhak tampil nanti” jelasku.
“tidak, semua anggota yang akan memilih. Kamu tak boleh memaksanya, kalau para anggota memilih kamu dengan…. Aku, bagaimana??” tuturnya dengan muka Innocent.
“jangan harap!!” tukasku sambil meninggalkannya. Ya, pilo terkekeh renyah.
*
                Sehabis pulang sekolah, kini aku sedang menunggu kedatangan para anggota untuk latihan hari ini dan pemilihan yang akan tampil tiga hari nanti.
“hey ketua, kita semua sudah siap untuk rundiangan atas tantangan itu. kau jangan membengong mulu” tegur Pilo membuatku tersentak.
                Tanpa aku sadari bibirku naik keatas membuat lengkungan begitu lebar, agak sedikit malu juga. Karena nyatanya mereka semua sudah ada disini dan menegurku yang ternyata sedang membengong ini.
“oke, jadi menurut kalian siapa yang pantas untuk dijadikan pemain dance berpasangan nanti??” tanyaku kepada mereka semua.
                Kita membentuk sebuah lingkaran dan kitapun posisi duduk untuk lebih enak lagi, ketika itu juga sebuah tangan mengangkat begitu cepat.
“ya. Kau mau mengajukannya??” ternyata dia Epep.
                Dia tersenyum dan mengangguk kepadaku, “aku rasa, Peter dan Tasha.  Mereka lebih cocok, sepertinya” ucapnya begitu menohok hatiku.
                Aku begitu menghormati pendapatnya, aku tersenyum terpaksa namun aku melihat kedua sahabatku menunjukan ekspresi Shock ketika itu juga, dan kemudian kepalaku mengangguk-angguk mengerti.
“iya, aku kira Peter dan Tasha memang lebih cocok untuk jadi dance berpasangan tiga hari lagi. Great choice!!” ucapku begitu semangat.
                Tapi semua orang yang ada diruangan ini hanya meresponnya dengan keheningan, mungkin sikapku yang aneh membuat mereka bingung.
“setuju??” ucapku begitu menekan.
                Mereka hanya mengangguk membuatku harus menghela nafas, dan saat itu juga, aku membubarkan mereka untuk melatih diri sendiri dulu. Kini, aku hanya duduk melihati mereka semua yang melakukan apa saja.
“sebenarnya aku tak setuju” ucap seseorang yang ada dibelakangku.
                Aku menoleh, disana terduduk Pilo yang sedang santai, dan akhirnya dia mendekatkan kursinya kearahku agar berdekatan.
“kenapa kamu tak setuju? Seharusnya, kamu katakan hal itu sedaritadi” jelasku.
“kamu tahu, kali ini aku jujur. Aku tidak mau menyakiti Tasha dan disisi itu, aku juga tidak mau menyakitimu atau kali ini, seperti posisimu sekarang” tuturnya dengan penuh kejujuran.
                Aku menatapnya, tepat dimanik matanya. Pilo, apa yang sudah dikatakan Pilo membuatku merasa aneh sendiri, kenapa bisa Pilo mengatakan hal itu. ada apa sebenarnya? Apa yang mendorong Pilo berkata seperti itu.
Pilo aneh…
“maksudmu??” tanyaku penuh keheranan.
                Orang yang ditanya berdiri sambil  memasukan tanganya ke saku celananya, “lupakan saja” ujarnya dan meninggalkanku.
                Tapi setelah itu Gaby dan Oon menghampiriku, dengan terburu mereka mengambil kursi dan duduk dihadapanku, mereka menatapku penuh kemelasan.
“apa yang terjadi sama kamu?? Dan apa yang dilakukan Pilo tadi??” Tanya Gaby begitu cepat.
                Aku mengedikkan bahuku, “aku tidak tahu, karena dia mengatakan hal yang membuatku bingung sendiri” ujarku.
“Please, don’t be sad! Aku rasa, ada sesuatu dibalik Epep masuk ke Group kita?...” ditengah-tengah Oon berkata dia menghela nafas, lalu “sepertinya dia disuruh untuk menghancurkan group kita, aku merasakan bahwa penyuruhnya itu adalah Sara” lanjutnya begitu intens.
“tahu apa kamu??” tuntut Gaby.
                Kulihat Oon mencibir, “aku pernah mendengar pertengkaran antara Sara dan Epep, kalian tahu??” aku dan Gaby mengangguk. Lalu, “Epep menyukai Sara” dengan begitu, mataku sukses membulat.
Apa??....
“yang benar saja On, mana mungkin sih Epep suka sama Sara, kayanya biasa aja” kata Gaby tak percaya.
“yang biasa-biasa gitu malah yang ada apa-apanya” ujar Oon.
                Oh, aku tahu. Epep melakukan itu hanya untu Sara seorang, aku tahu dibalik dari itu. mungkin karena Sara membenciku dan ingin menghancurkan apa yang berbau denganku, apalagi nyatanya Epep menyukainya, jadilah pikiran busuk Sara untuk mengendalikan Epep dan menghancurkanku. Tapi karena alasan apa dia membenciku?.
                Namun kali ini, aku membiarkan hal Epep untuk menentukan konsep yang akan ditampilkan dihari lagi, nanti. Aku begitu focus terhadap pemilihan konsep, mungkin karena aku terpaksa melakukan hal itu padahal pikiranku sedang campur aduk, kemana-mana.
Calm down Ree, semuanya akan baik-baik saja….
                Begitu pula hatiku, kutenangkan perlahan dan “ya, kini kita akan menentukan konsep yang akan kita bawa untuk ditampilkan nanti. Oke, aku hanya menginginkan sedikit campuran hip hop dan sedikit natural dance yaa, that’s simple namun…aku juga menginginkan slow dance sedikit saja untuk…oh! atau sebagai pendinginan,  I think its enough! So, bagaimana??” jelasku beraturan.
                Mereka semua mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti dengan pemikiranku, aku tersenyum. Semoga ideku kali ini bagus untuk ditampilkan.
“Nice idea, menurutku itu tidak pernah dibawakan para dancer selama ini. maybe, ini akan menakjubkan. Kita setuju dengan konsep itu, that’s simple!” ucap popi, cewek yang sering dikuncir dua itu.
                Aku tersenyum lagi, “dan ya, aku rasa untuk Peter dan Tasha, Calm down, oke! Kalian disini seperti pemeran utama so menurutku akan banyak yang ditampilkan pada saat pertunjukan adalah kalian berdua .Before we begin, we better to pray” lalu aku memulai latihan hari ini dengan berdoa.
                Setelah itu, kami semua berlatih begitu semangat. Walaupun masih sedikit yang malu-malu untuk beraksi, aku tahu ada yang baru belajar untuk menunjukan bakat dance nya, dan aku memaklumi itu. tapi dengan Peter dan Tasha, mereka begitu menghayatinya seakan itu benar-benar terjadi. Konsep yang kini kita jalani, seperti gaya masa remaja yang saling jatuh cinta. Namun, agak sedikit sedih karena aku menambahkan musikalisasi puisi dipertengahan, dan puisi itu menunjukan ketika para remaja yang memadu kasih itu terpisah dan saling menjauhi, karena ada halnya orang ketiga.
                Dan setelah itu, berakhir dengan pasangan tersebut kembali lagi. Setelah mereka tahu bahwa, orang ketiga tersebut hanya ingin merusak saja, dan mereka percaya untuk tidak terlalu rapuh karena hal seperti itu. that’s simple, dan apa yang sudah kuprakirakan.


^^^
                Latihan ini terus berlanjut hingga sudah menuju kehari –H, dimana hari tersebut untuk menunjukan penampilan siapa yang terbaik, aku sebagai ketua hanya ikut tampil sebagai seperti anggota yang lain, disini konsepnya hanya ada Tasha dan Peter yang lebih banyak menggunakan waktu untuk tampil, ya mungkin aku seperti penghibur saja agar tak bosan.
                Suasana dibelakang stage ini begitu ramai dan saling sibuk, seperti ada yang hajatan. Para manusia yang biasanya bergerak tenang, kini harus seperti kendaraan tiba-tiba saja. Karena berhilir kesana-kemari. Itu tidak denganku, aku hanya bergerak dengan tenang, seakan tak terjadi apa-apa, aku memang sedikit gelisah karena dibalik tampil dan menunjukan Dance nanti, itu ada sebuah tantangan yang menyebalkan.
Astaga? Apa yang membuatku seakan-akan tidak ada yang harus dikerjakan? Tapi nyatanya memang seperti itu.
“Ree, sebentar lagi kita tampil” ujar Gaby dengan tatapan yang begitu… yasudahlah.
                Dia tahu, ya Gaby tahu kalau aku tidak begitu semangat hari ini. bahkan sebelum hari ini, dua hari yang lalupun aku sudah tak bersemangat, entah perasaanku saja yang tidak enak. Tapi ada sesuatu yang mungkin terjadi, untuk hari ini. kepalaku menggeleng-geleng setelah berpikir seperti itu.
“perasaanku juga tidak enak” kata oon merangkul dan mengelus pundakku.
                Dia tersenyum lembut sama seperti Gaby, tidak seperti biasanya. Mungkin aku dan kedua sahabatku memang sedang terlibat gegana karena perasaan masing-masing.
“tapi kalau kamu, aku tahu kenapa jadi kaya begini??” tutur Gaby membuatku harus mengerutkan dahiku.
                Aku menggeleng, “bukan masalah itu, hanya saja entahlah? Kenapa perasaanku begitu tidak enak” ucapku lemas.
“hey! Peter dan Tasha udah stay, kita harus Stay! Come on!” ucap cewek itu.
                Track – Justin Bieber_ Runaway Love.
                Lalu, kita bertiga mengikuti tapi sambil berlari kecil menuju dekat panggung. Tapi hatiku, tetap sama seperti itu, hingga lantunan Music dari Demi Lovato –Heart attack melantun dengan music dicampur sedikit remix itu. hatiku sama sekali tidak berdebar melainkan, sesak. Rasanya susah untuk bernafas, membayangkan akan terjadi sesuatu.
                Hingga pertengahan gerakan dance Peter dan Tasha, tiba-tiba saja music terhenti dan Tasha, dia terjatuh karena pertahanan Peter saat menjunjung tubuh Tasha tidak kuat dan akhirnya terjatuh. Itu benar, maksudku ? perasaanku benar, benar adanya kejadian sesuatu.
                Namun dengan ide yang melintas dipikiran ku sesaat tadi, membuatku yakin untuk menghibur kembali, aku menyuruh penata music untuk mengganti music tadi dengan yang baru, sedangkan music yang akan diproses, pembawa acara mengalihkan kejadian tadi dengan lelucon sedangkan aku dan semua yang tersisa merundingkan Dance yang pernah aku tampilkan namun bersama dengan Gaby dan Oon saja. Sekiranya itu lebih baik. Setelah itu, penata music memberi kode untuk bersiap, dan kini mataku beralih kearah anggotaku untuk bersiap, mereka mengangguk. Akhirnya kita sudah bersiap, semoga ini terakhir namun menakjubkan.
Track – Icona Pop_ We Got The world.
                Aku dan semua anggota memasuki panggung dengan begitu semangat, diawalan music ini kita berjalan santai namun ada juga yang berlari kecil da nada juga yang  mengangkat tubuhnya untuk beberapa kali, sambil tangannya yang melambai-lambaikan dengan semangat. Hingga pertengahan lagu, kita semua heboh dengan gaya dance yang serempak. Hingga music berakhir, kita yang penuh bercucuran dengan peluh tersenyum lebar. Banyak yang bertepuk tangan bahkan sorakan demi sorakan, tidak hanya itu juga ada yang bersiul begitu keras.
“kenapa penampilan group kamu yang ini lebih bagus ,ketimbang yang dibawakan oleh Peter dan Tasha. Apa mereka berdua tak bisa melakukan sesuatu yang lebih dari gerakan tadi, ternyata Peter lebih payah dariku” jelas orang yang ada dibelakang sana.
                Kita semua menoleh kearah datangnya suara tersebut, Gilang?? Ada apa sama perkataan Gilang? Aku mengerutkan dahiku, menatapnya yang ternyata Gilang juga menatapku, dia tersenyum.
“mungkin karena sang ketua, dalam hatinya tak ikhlas bahwa Tasha harus berpasangan begitu sweet dengan Peter” sindirnya.
“apa yang sedang kamu katakan, hah??” timpal Peter yang tiba-tiba datang.
                Kini suasana hening, hening sekali. “o..ow! ternyata kamu dengar, hey peter! Mantan sahabatku, cobalah rasakan dirimu sekarang bagaimana? Jangan jadi pengecut. Aku tahu, kamu menyukai Ree, ya tanpa Ree sadari….” Lalu setelah itu Gilang menatapku yang terkejut.
                Dan kudengar bisikan demi bisikan dari para penonton, aku menunduk. Apa benar yang dikatakan Gilang? Apa Peter….menyukaiku?, aku menggeleng.
“mulut kamu ternyata buaya yaa? Aku memang menyukai Ree, tapi apa kamu tak sadar bahwa diri kamu sendiripun Iya!” tukas Peter.
                Kini Gilang tersenyum sinis, “aku kira kali ini aku punya sahabat yang juga ikut sama hidup sepertiku, diliang yang sama!” ketus Gilang.
“kamu menjebakku!” ucap Peter penuh dengan keseriusan.
                Keadaan mulai menegang begitu saja, termasuk aku sendiri. mereka berdua sedang mengatakan hal apa sebenarnya, apa yang mereka lakukan didepan banyak orang seperti ini. Peter benar-benar dijebak, agar Kharisma yang dimiliki Peter sama halnya dengan Gilang. Ternyata Gilang Rese, cowok macam apaan dia?.
                Namun tepat saat itu juga, Tasha pergi meninggalkan orang-orang disekitar sini. Dan membuatku tahu, bahwa Tasha sakit hati. Aku tetap bergeming diposisiku, disini. Sungguh, aku tak bisa melakukan apa-apa lagi, awalnya niatku ingin mengejar Tasha dan memberinya penjelasan. Namun, rasanya kakiku berat sekali.
“kamu pengecut peter, sama sepertiku. Namun rasanya kamu tidak diberi embel pencari sensasi!!”  oceh Gilang lagi.
                Lalu Gilang menarik tanganku dengan keras, “kamu tahu Ree, orang yang kamu suka ini sama halnya denganku. Lalu, bagaimana menurut kamu hah?? Kamu memilih siapa diantara aku dan Peter. Dia yang pengecut dan aku yang lebih pengecut” ucapnya sambil menatapku.
                Tapi aksi itu berhenti ketika Peter melepas cengkraman Gilang dari tanganku, “jangan melakukan yang aneh-aneh, Lang!” tukasnya.
                Tapi dengan cepat aku melepas genggaman dari Peter, rasanya aku seperti dipermainkan oleh mereka berdua. Aku pergi sama halnya dengan Tasha, namun tanpa menangis. Aku harus kuat, mereka berdua bodoh, tak punya otak!.
*
                Track – Maudy Ayunda_ Tahu Diri.
                “pep, jelasin semuanya sama aku dan Gaby! Ini penting, ini semuanya kita lakuin buat menjadi seperti semula lagi. Ini terlalu rumit” paksa Oon terhadap Epep.
                Sedangkan Epep sendiri, dia hanya menghela nafas begitu berat. Dan akhirnya mengangguk dengan pasti, kitapun mengikuti Epep untuk mengetahui penjelasan yang sebenarnya.
“mau diceritain yang kaya apa??” ucapnya.
                Kita menatapnya penuh harap, “ya semuanya Pep, masa setengahnya” ucapku penuh dengan keegoan.
“oke, jadi awalnya itu….”
                Track – Miley Cyrus_ wrecking Ball
Flashback On
“Pep, aku jadian sama Gilang. Tapi, dia bilang kapan aja dia bisa mutusin aku tapi dia juga bisa kapan aja mau balikan sama aku, dan dia juga bilang kalau aku gak usah kaget dengan sikapnya yang seperti itu, maksudnya apa Pep??” ucap Gadis malang tersebut.
                Bibirnya berbentuk melengkung, “aku juga tidak tahu, mungkin putus tidaknya hubunganmu dengan Gilang tergantung Gilang, kalau dia bosen. Kapan saja dia bisa putusin kamu, dan missal dia mau balikan lagi sama kamu artinya….” Ucapanku menggantung, aku tahu yang sebenarnya namun aku tidak mau menyakiti hati Tasha.
“artinya aku percuma pacaran dengan Gilang, karena nyatanya aku hanya sebagai pelampiasan” tegasnya.
                Aku tercengang mendengar ucapan Tasha, aku benar-benar bersalah karena harus mengenalkan Tasha dengan Gilang.
“kenapa kamu tidak putuskan dia saja??” kataku, tapi dia menggeleng.
“Pep, aku sudah bilang dan kamupun juga. Aku percuma bilang putus sama Gilang, karena Gilanglah yang berhak mengatakan itu atau tidaknya” ucapnya dengan tetesan air mata.
                Namun setelah kejadian itu, tasha kembali mencurahkan hatinya kepadaku. Entah, aku bisa saja mau mendengarkanya, padahal akulah orang yang juga terlibat masalah ini.
“Pep, Gilang udah mutusin aku. Tapi, baru kemarin juga aku jadian sama Peter. Dan dia menerimaku, tapi….” Ucapnya menggantung dengan nada yang tidak enak didengar.
“tapi apa??” ucapku.
“tapi, sama seperti Gilang. Peterpun sama, dia mengatakan itu semua sama persis apa yang dikatakan Gilang” jelasnya.
                Hatiku tersentak, astaga. Apa gadis ini tak sadar dia sedang dipermainkan dua cowok itu, sadarlah dua cowok itu tidak sama sekali sedang memperebutkan Tasha melainkan Ree, cewek yang disukai dua cowok tersebut. Yaa, dulu mereka berdua adalah sahabat karib sekali, namun karena tahu mereka sama-sama menyukai satu cewek, mereka akhirnya menjadi musuh dan ingin saling memperebutkan Ree, dan pelampiasannya adalah Tasha.
                Astaga aku semakin bersalah, karena aku adalah orang yang telah mengenalkan pertama kalinya Tasha ke Gilang dan membuat Tasha harus terjerumus ke masalah bodoh ini.
“Sha, kamu seharusnya minta pendapatku. Kamu tahukan? Kamu sedang…” ucapakan terhenti setelah menatap Tasha penuh kenanaran.
“aku sedang melakukan hal itu lagi, dan akan jatuh ke jurang yang sama….lagi???” dan dia pun menangis.
                Aku mencoba menenangkannya, aku memeluknya. Entah, perasaan apa yang sudah bisa aku melakukan hal manis ini dengan Tasha, aku kasian dengannya. Tapi, setelah kejadian yang sama itu terulang kembali pada hidup Tasha, Tasha akhirnya kembali lagi bertemu denganku namun kini dia membawa seseorang yang aku suka, dan dambakan itu.
                Mereka berdua berdiri tepat didepanku, “pep, kita mau bicara….denganmu” ucap Tasha.
                Akupun mengiyakan hal itu, dan akhirnya mengikuti mereka berdua kearah entah kemana. Tapi setelah sampai ditempat itu, yang nyatanya adalah lapangan belakang, mereka mengajakku untuk duduk disamping mereka berdua, tepatnya samping Tasha.
“ada apa Sha??” tanyaku.
                Dia menoleh kearahku dan tersenyum, “pep, aku tahu kamu suka Sara. Sara udah tahu hal itu, jadi…” aku menunggu kelanjutan omongan Tasha.
“kamu tahu Sha, aku sedang dalam keadaan rumit dengan Gilang yang memutuskan untuk berpisah dengan group itu. dan sara pun juga iya, aku rasa Sara mengertikan itu, kamu juga” kataku tak masuk akal.
“bukan itu yang akan aku bahas Pep, kamu tahu aku sudah putus dengan peter dan sudah benar-benar move on dari Gilang, dan Sara menyukai Gilang” aku tersentak mendengar perkataan itu, namun senatural mungkin aku lakukan untuk tidak terlihat jelas.
                Aku menghela nafas, “lalu, apa masalahnya??” ujarku.
“aku dan Sara ingin kamu masuk ke group sisa itu secara Cuma-Cuma” ucapnya, dan mataku sukses membulat.
                Aku menyerngit, “apa maksudmu?? Itu sama saja kalian berdua mengendalikanku, tapi aku tidak mau” elakku dengan keras.
“pep, aku mohon. Aku tahu, kamu sangat menyukai Sara ‘kan? Apapun yang kamu lakukan pasti Sara sangat bangga denganmu, kumohon. Kita ingin mendapatkan apa yang kita ingin, dan satu-satunya cara hanyalah denganmu Pep” aku menelan ludahku begitu payah.
                Aku menatapnya begitu kasian, “pep, aku juga tahu kalau Gilang dan Peter musuhan itu karena Ree, maka dari itu aku ingin hidup Ree itu hancur. dan aku juga ingin Peter dan Gilang tidak menyukai Ree” ucapnya begitu sinis.
“Sha, Sara. Mereka menyukai Ree itu wajar, tapi untuk menghancurkan hidup Ree dan membuat Gilang, Peter bisa luluh karena kalian, aku tidak bisa melakukannya” ucapku begitu penuh penekanan.
                Tasha dan Sara menatapku dengan tatapan kaget, “tidak, kamu bisa Pep!, kalau kamu tidak bisa? Sara akan membenciku” ancamnya.
                Aku menghembuskan nafas untuk kesekian kalinya, aku masih bingung. Bagaimana caranya melakukan itu? bukankah itu hal jahat, setidaknya. Tapi nyatanya itu adalah kejahatan, bahkan lebih jahat.
Flashback Off
“nah, dari itu aku baru sadar kalaupun aku melakukan kejahatanpun aku tidak akan mendapatkan apa-apa. Aku baru sadar” ujarnya penuh kemalasan.
                Aku benar-benar Shock mendengar cerita Epep, “aku tahu bagaimana ada diposisimu, Pep??” ucapku dan menepuki pundaknya.
“tapi itu semua sudah jalannya, kita gak bisa salahin siapa-siapa ‘kan? Semuanya salah” ucap oon.
                Aku dan Epep manggut-manggut jelas. Ya, benar apa kata Oon, kita gak bisa salahin siapa-siapa? Karena seharusnya kita salahkan diri kita sendiri, semuanya salah.
*
“Gab, On. Kumohon, aku ingin bertemu Ree dan menjelaskan semuanya kepada Ree” paksa Peter.
                Ya, aku mendengar perkataan Peter dari depan rumah itu. aku pun mengintip dari arah jendela dan menguping, Peter kerumah inipun tak sendirian. Dia bersama Gilang, Pilo, Epep, Sara. Tapi disana tidak ada Tasha. Aku menghembuskan nafaskku.
“Ree gak ada dirumah, dia lagi liburan” ketus Oon.
                Tapi Peter malah cemberut sendiri, ya aku melihat Peter cemberut. Itu sangat lucu, tapi aku tidak mau menemuinya, karena disana juga ada Gilang. Dua cowok itu, mereka berdua sudah membuat hidupku semrawut, kali ini.
“masa iya, belum juga liburan. Aku tahu, Ree ada didalam” benar-benar??
                Peter benar-benar mengotot saat ini, tapi Gilang tidak. Dia masih biasa, berdiri dengan tangannya yang tetap diposisi seperti itu. aku menghembuskan nafasku…lagi.
Mungkin, aku harus berangkat….
                Dan keesokannya, aku benar-benar berangkat walaupun agak telat. Dengan berlari kencang menuju kelas, aku berlari kecil namun kenapa sekolah bisa jadi sepi begini?? Kepalaku clingak-clinguk, sukses. Ini benar-benar membuatku Shock, kenapa sepi banget begini??.
“Ree? Ini bunga buat kamu, kamu boleh jalan lagi. Tapi, lihat yaa kalau ada tanda panah didinding seperti ini, berarti kamu harus lewat situ yaa” ujarnya sambil menunjuk tanda panah yang ada didinding.
                Brarti sekarang, aku harus berjalan apa yang tanda panah tunjukan itu. aku pun benar-benar mengikuti perintahnya, mengikuti tanda anak panah untuk menuju tujuan. Tapi, aku masih bingung. Ada apa sebenarnya??.
Pada kemana sih semuanya??
                Sampai disebuah koridor kelas 10, disana menunjukan kearah kanan. Ya, anak panah itu menunjukan Kearah kanan, akupun terus berjalan seperti petunjuk dari anak panah itu. dengan yakin, aku berjalan namun kini aku dihalangi oleh segerombolan cowok.
“Ree ‘kan??” aku mengangguk. Dia menyodorkan bunga
                Ya, dia menyodorkan bunga mawar merah sama seperti bunga yang pertama. Aku mengambilnya, mereka tersenyum kepadaku.
“terus aja jalannya, semoga seneng” ucap salah satu dari mereka.
                Akupun mengangguk, dan terus berjalan tapi setelah berjalan cukup lama da nada-ada saja yang menghalangi lalu memberiku bunga mawar yang sama terus, itu membuatku sedikit kesal namun membuat terharu. Apa yang sedang mereka rencanakan? Aku benar-benar bingung.
                Tapi kini, cewek menghalangi jalan dengan muka menunduk namun dia memberiku secarik kertas yang di kreatifkan. Dia menyodorkannya, dengan perlahan aku mengambilnya penuh kelembutan. Setelahnya, dia minggir untuk memberiku jalan.
Magic…          
Cepet dong jalannya, sebentar lagi pasti nyampe! Semangat….
                Begitulah isinya, setelah itu disebuah dinding didepanku kini ada tanda panah dan symbol M. mungkin, M itu singkatan dari Magic. Tanganku perlahan membuka pintu, namun tiba-tiba saja telingaku mendengar suara piano begitu jelas.
You’ll never enjoy your life
Living inside the box
Your so afraid of taking chances
How your gonna reach the top
Rules and regulation
Forces you play it safe
Get rid of all a hesitation
Its time for you to seize the day
Instead of just sitting round
Your looking down on tomorrow
You gotta let your fit of the ground, the time is now.
I’m waiting….waiting….just waiting….i’m waiting…
Waiting outside the lines….
Track – Greyson Chance_ waiting outside the lines
                Hingga lagu itu selesai, aku hanya terpana melihat ruangan ini. dipenuhi banyak orang, dan mereka sangat menyambutku dengan baik. Aku tetap bergeming tak bergerak.
“makasih udah masuk sekolah, untuk hari ini. nice to meet you Ree” ucap Gilang dan menyodorkan bunga mawar yang sama seperti tadi.
                Dia tersenyum lembut, “ayo, kesini. Kita lagi pesta ngerayain kamu masuk sekolah” katanya.
                Aku berjalan begitu kikuk, semuanya melihatiku hingga sebuah sosok yang begitu aku rindukan kemarin-kemarin kini berdiri begitu menjulang tepat didepanku, dia membawa sebuah tishu dan sebuah api yang ditaruh dililin, ya lilin itu tak dipegang Peter melainkan sedang dipegang Tasha. Peter tersenyum, dan Tasha pun sama seperti peter.
                Namun semua yang ada diruangan ini berteriak histeris, ada juga yang bersiul. Dan itu semua membuatku harus terkatup diam berdiri ditempat ini, tak berucap apapun hanya dengan menatap mereka dengan tatapan tak dimengerti.
                Tapi dengan nafas yang sesak, akupun memberanikan diri untuk berbicara, “siapa yang sudah merencanakan ini semua??” tanyaku.
“maaf, kayanya kamu emang sama sekali gak tahu. Tapi, kita disini merencanakan ini semua karena kami minta maaf. Dengan semuanya, semua tentang kamu yang sama sekali tidak diberadakan menjadi Ketua di group Dance kamu sendiri, dan tentang kamu yang harus tegar menghadapi cobaan, menutup perasaanmu dalam-dalam yang padahal kamu sangat menyukai orang tersebut, dan tentang apa yang aku lakukan dengan Sara….” Ucapnya lalu berhenti untuk mengambil nafas.
                Dia tersenyum ,”aku dan Sara udah sekongkol buat nyakitin hidup kamu karena kami terlalu terbakar cemburu, yang padahal kamu emang wajar untuk disukai dengan cowok seperti Peter dan Gilang. Kita minta maaf” ucapnya, lalu tiba-tiba saja berdiri disamping Tasha.
                Dia tersenyum lembut, “aku juga minta maaf,  minta maaf sama kamu Ree. Aku emang udah diam-diam ikut serta dalam masalah ini. Dan aku juga minta maaf dengan Tasha” ucapnya.
“Ree, kamu emang kayanya gak bakal percaya kalau aku akan meminta maaf denganmu. Tapi, aku yakin dengan aku mencoba meminta maaf, kamu bisa memaafkanku. Maaf, karena selama kamu mengenalku. Aku sama sekali tidak menyapamu dalam kehidupan sehari-hari dengan baik” Lanjut Sara.
                Kini Gilang, ya dia berdiri tepat didepanku, “Ree, maaf. Maaf aku udah pernah nyakitin kamu, dengan cara itu. aku emang pengecut, mungkin itu lebih baik. Tapi, aku juga minta maaf karena nyatanya aku diam-diam menyukaimu” tapi keadaan menjadi tegang.
                Aku menegang ditempat ini, menatap Gilang takut-takut. Aku hampir menjatuhkan air mataku. Orang yang selama ini cuek dengan semua apa yang pernah aku katakana kepadanya, ternyata menyimpan namaku dihatinya. ya, kata pengecut itu mungkin memang lebih baik, untuk Gilang.
“dan, aku tahu kamu lebih menyukai Peter ketimbang aku. Ya, aku sudah tahu. Kita semua sudah tahu, aku rasa, kali ini aku tidak akan bermusuhan dengan Peter hanya untuk merebutmu” ucapnya dengan senyuman manis.
                Tapi kali inilah yang membuatku harus tersenyum, “aku juga minta maaf, maaf karena selama ini membuatmu menunggu” ucap Peter tiba-tiba saja.
                Sekarang dia ada didepanku sambil tersenyum. Lalu tangannya mengambil sebuah Tishu dan membakarnya namun KLAP!! Tishu terbakar itu telah menjadi bunga. Dan kemudian, Peter menyodorkan bunga itu untukku. Dan aku mengambilnya perlahan dari genggaman Peter.
Magic….???
                            Aku masih tersentak dan menatap Peter lekat-lekat, “jadi selama ini…..???” dia mengangguk.
“itu aku…..” ucapnya.
                            Aku melihat kearah Gay dan Oon, mereka berdua tersenyum sambil mengangguk. Aku pun ikut tersenyum kikuk.
“ayo dong Peter?? Lama banget sih!!” ucap Tasha.
                            Perkataan Tasha membuat semuanya terkekeh tapi kepalanya menggeleng-geleng, karena melihat tingkah Tasha yang aneh dan seperti anak kecil.
“kamu tahu ‘kan maksud bunga itu?” mulutku ternganga.
                            Namun wajah Peter melihatkan bahwa dirinya sedang mencibirku, “karena kamu sudah menungguku lama, jadi balasannya? Kamu mau tidak jadi milikku,  Are you want to be mine??”
                            Dengan kepalaku yang menunduk,karena menyembunyikan Blushing yang sudah merata keseluruh wajahku.Aku malu,baru pertama kali ini ada yang mau menembakku dengan cara yang secara langsung dan ditonton banyak orang. Dan akhirnya aku mengangguk.Sorakan demi sorakan sudah menggema keseluruh ruangan setelah aku menjawab pertanyaan Peter,rasanya seperti melayang diatas awan.
                            Ending Song, Track – Becky G Ft Austin Mahone_ Magic
EPILOGUE :
                Kamu tahu, setelah kejadian dimana Peter menembakku? Semua keadaan menjadi seperti semula, nyaman dan taka da perseteruan. Dan, bukan Cuma itu Groupku dan Gilang sudah menyatu kembali, apalagi karena kemarin ada Tournament. Kami bersyukur, bisa memenangkan Tournament itu. mungkin karena kita sudah menyatu.
                Tapi bukan hanya itu juga sih, aku dan Peter. Tasha dan Gilang, sedangkan Epep dengan Sara. Kami triple couple yang berteman dan menjadi Trending topic hot disekolah, dan juga kedua sahabatku ,mereka menjadi lebih baik. Namun Gaby juga sedang PDKT kembali dengan Pilo, sedangkan Oon? Dia masih sendiri. bahkan dia bilang. Dia tidak mau berhubungan special dengan siapapun, mungkin hanya takdir yang akan menentukannya nanti.
                Dan yaa akhirnya kita semua merasakan hidup yang happy ending
                Track – Selena Gomez_ Lover In Me & Kelly Clarkson_Catch My Breath.
~THE END~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar