SINOPSIS :
Track – Florida Ft
Sia_Wild
Lagu itu
terus melantun, hingga membuat seisi seluruh ruangan ini harus bergerak dan
saling menggila, music dengan dentuman yang kuat itu terus menguat. Teriakan
demi teriakan menggema membuatku seakan ingin melayang dan jatuh untuk
menghentikan aksi ini. mata terus tertuju demi lentik pergerakan anak-anak
disana, mereka benar-benar gila.
“Siapa yang suruh kalian untuk berbuat gila seperti ini!!!”
teriakku.
Semua
berhenti seperti lagunya yang sudah di Paused begitu cepat, mungkin lagu itu
akan berhenti seperti radio rusak, terdengar klise memang. Pergerakan berhenti,
mata mereka tertuju kepadaku dan menegang suasana.
“aku Tanya kalian, siapa yang suruh untuk berbuat gila
seperti ini!” tekanku.
“tak seharusnya kamu mengatur kita, kita tahu! Kalau kamu
adalah ketua dari komunitas ini tapi sungguh, kita juga ingin bersenang-senang”
Ucap Gilang.
Aku
mengangguk dan tersenyum sinis terhadapnya, “bukan namanya Gilang seorang
mantan ketua dengan senang hati berkata seperti itu, itu diluar logika. Kalian
semua membuat berisik semuanya, seakan dunia ini milik kalian” ujarku.
“gak ada orang yang berani mengatur hak orang lain, well?
Kita udah punya Plan, dan semoga Plan itu bisa ngebuat kamu sadar. Kita lepas
dari nauangan kamu, dan ingin melawan kamu dan seluruh orang yang bersama kamu
untuk terus menghadiri Tes Dance selalu” Kilah Sarah membuatku sedikit
menggeram.
Tanganku
mengepal kemudian menatap manik sarah, “jadi kalian mau lepas naungan? Itu
terserah kalian. Dan untuk Challenge, aku hormati kalian” kataku dengan tegas.
“oke, jadi kamu setuju. Mulai besok disekolah ataupun diluar
sekolah kita saling kejar-mengejar popularitas untuk mendapatkan Awards” aku
berlalu meninggalkan mereka.
---
Track –
Demi Lovato _ Fix a Heart
Aku
sesekali menyesap sedikit coklat panas yang dibuatkan Tasha tadi, hatiku masih
gusar. Bagaimana bisa aku berani mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih
dulu, ini semua sudah terlanjur. Komunitas yang sudah ada diatas tahta tinggi
itu harus terpecah menjadi dua, setelah kejadian dimana aku dalam keadaan marah. Oke, awalnya mereka yang berani
membuat berisik seisi ruangan kemarin. Itu adalah hal yang membuat semua
sponsor akan tahu, kalau nyatanya kami tidak kompak.
“aku sudah bilang Ree??, kekompakan yang jika dipaksa itu
akan berbuah kegagalan. Fatal, semuanya kan?” tukas Gaby yang duduk
dihadapanku.
Aku
menunduk dan mengarah kearah Gaby lagi, “itu gak semudah yang kamu kira Gab?
Aku lakuin kaya gini untuk menyelamatkan nama Baik Komunitas dan bukan Cuma itu
Gab, sekolah kita tidak terlalu diburu Paparazzi. Nama baik sekolah dan
termasuknya komunitas Dance itu terpuruk, itu karena mantan Ketua Dance kita
dulu” ujarku.
Gaby
menghela nafasnya dalam-dalam, “yaya soal itu aku tahu. Siapa lagi kalau bukan
Gilang??” timpal Tasha yang berjalan santai menuju aku dan Gaby.
“itu mantan kamu” ucap Gaby sambil tersenyum jahil.
“sekarang, gak lagi. Setelah aku tahu, kalau ternyata dia
itu Players, masih mending Players doang tapi dia Bad Boy” ucap Tasha sambil
bergidik jijik.
Aku
tersenyum miris melihat gerik Tasha, ya cewek ini alias sahabatku adalah Mantan
pacar Gilang yang stress itu.
“gara-gara Gilang yang gonta-ganti cewek setiap kali, bukan
itu doang. Dia pun sering cari sensasi, so dengan gampang nama komunitas juga
terbawa. Bahkan sampai sekolah kita kaya buronan, gak malu tuh si Gilang” alih
gaby.
Aku
mengedikan bahuku tanda tak mengerti, “si Oon mana?” Tanya tasha.
Aku dan Gaby menggeleng ,“sebaiknya,kita
cari member yang lain dan kita bikin plan karena mulai besok kita Tour tapi
bareng mereka, jangan sampai kita terkecoh” ujarku menatap Tasha dan gaby
bergantian.
“jadi, kamu terima Challenge mereka? Itu lebih baik karena
kita gak akan malu, soal pengunduran diri itu? kita punya alasan. Tapi sayangnya,
di group yang tersisa ini, kita gak punya tenaga cowok” aku menyadari ucapan
Tasha.
Kita
masing-masing harus terdiam dalam keheningan, iya tidak ada members cowok untuk
bisa melawan challenge group Gilang, aku menghembuskan nafas berat. Bagaimana cara
mencarinya? Aku tidak tahu, disekolah saja sudah banyak yang membuat Group
sendiri ketimbang masuk komunitas. Karena jika masuk Komunitas hanya akan ada
tantangan terus tantangan, jika membuat sendiri Group . mereka akan langsung
jadi artis baru.
“kalian kenal Peter Diaz Pranata??” Tanya Tasha ragu-ragu.
Kamu
berdua mengangguk, “dia jago banget nge-dance, apapun bentuknya. Soal rumor
kalau dia sekolah disekolah Art itu hanya untuk meneruskan pendidikan saja, itu
salah. Dia akan bermain dibelakang dan menunjukan nanti saat waktu yang tepat”
ujarnya.
“bukanya dia Rival Gilang, kalau kita ambil Peter berabe
Sha. Masalahnya, kalau emang bener kita ambil dia, yang ada dia sama Gilang
bakalan adu bacok kali” ujar Gaby songong.
Aku
menggeleng, “itu boleh, aku penasaran sama dia” aku tersenyum.
Ucapanku
itu membuat Tasha dan Gaby harus melongo dan tidak mempercayainya. Mungkin,
kata-kataku tadi sangat menuju bahwa aku memang berharap Peter masuk, karena
nyatanya dua sahabatku ini tahu bahwa aku menyukai Peter.
“oh, aku baru sadar. Kamu cari kesempatan yaa? Gak papa
sih?” ucap Gaby sambil tersenyum jahil.
Sedangkan Tasha, dia hanya
tersenyum. Oke, aku tahu Tasha adalah mantan pacar Peter juga, namun itu dulu
sedangkan sekarang tidak, karena dulu yang menembak duluan adalah Tasha. Jadi,
yang memutuskan berakhirnya hubungan itu adalah Peter. Tasha, memang harusnya
kau namakan sebagai teman saja. Karena dia baru beberapa minggu bergabung
dengan kami bertiga.
“woy!! Aku datang” teriak Oon membuat kami bertiga harus
tersentak.
Dia
tertawa renyah, hingga harus terduduk dengan mata yang meneteskan air mata. Dia
adalah Oon yang sesungguhnya, cewek penuh keceriaan ini memang tiada tara jika
sedang berbahagia. Aku hanya menggeleng tidak heran, sedangkan Gaby dan Tasha melihati
oon saja.
“Wow, ada coklat panas. Aku minumlah, enak tuh kayanya”
alisnya bergerak-gerak senang.
“eits, ini milikku” ucapku sambil mengambil cepat cangkir
yang berisi coklat panas itu.
Oon
hanya mencibirku, “oke Guys gak papa sih, tadi aku kan habis dari toko Cake biasa. Tapi, kemudian aku
ketemu Peter, dia bilang dia mau masuk ke Group kita mulai BESOK!!” ucapannya
membuat kita menganga.
Aku
menggeleng tak percaya, “dianya yang bilang kaya begitu apa kamu yang
nyodorin??” ucap Gaby masih dengan mata tak percaya.
“pertanyaan yang bagus, dia yang nyodorin dia sendiri, well!
Bukan aku….” Ucap Oon dengan aksi lebaynya.
“kok tahu kalau kamu di Group sisa?” kali ini Oon menatapku
penuh senyuman jahil.
“dia tahu kamu nge-share foto group tersisa kita di IG, dan
dia bilang kayanya group kita butuh members cowok soalnya dia udah tahu berita
itu” jelas Oon, membuatku harus tersenyum tanpa sadar.
Sedangkan
Gaby mencibir, “masa Cuma Peter doang sih cowoknya??” ucapnya dengan gaya
biasanya.
“itu pernyataan yang bagus, karena nyatanya bukan hanya
peter tapi Pilo juga menyodorkan dirinya untuk
masuk ke group kita, gimana?? Duo Most wanted Guy sekolah kita tertarik
sama Group yang udah jadi sisa ini” tutur Oon.
Kali
ini Gaby tersenyum tak jelas, iyalah soal Pilo? Gaby adalah orang terdekat
Pilo, mereka juga sudah menjadi mantan, mungkin Gaby ingin pdkt kembali dengan
Pilo. Dan ya, Pilo juga sudah mengklarifikasi bahwa dia juga masih menampung
nama Gaby dihatinya.
“kan Cuma dua doang berarti?” ucap Tasha.
Kali ini,
aku menatap Oon penuh harap, dia menjawab tak ada lagi karena nyatanya tak
semudah mencari tempe dipasar, sedangkan ini mencari members.
“masih banyak yang udah nyodorin diri buat masuk ke group
kita Girls. Oke, aku sebutin ya namanya. Tadi, banyaknya yang sms gitu jadi ada
4 cowok lagi selain peter dan Pilo. Ada Adrian, Epep, Valdo, dan Ryan” kini Oon
menatap kami bergantian.
“Epep? Dia kan members Gilang, kok bisa masuk ke group
kita??” aku semakin Heran.
Sedangkan
orang yang aku tanggapi hanya mengedikkan bahunya, “berarti members cowoknya
ada 6, dan aku rasa? Mereka semua udah pada nge posisi –in diri mereka sebagai
apa?” ucap Gaby.
*
Track –
Selena Gomez _ falling Down
“hari ini latihan ya? Karena besok juga mulai ada challenge,
so kita semua harus tunjukin ke mereka kalau group tersisa gak seburuk yang
mereka kira” jelasku kepada semuanya.
Setelah
mengatakan seperti itu, aku menghembuskan nafasku. Dalam hati yang sudah lama
kini aku pendam, aku merasakan bahwa aku ingin mundur menjadi ketua, hanya saja
itu butuh waktu karena mendapat ketua untuk menaungi sebuah organisasi itu
bukanlah hal mudah. Jadi, sekarang aku butuh sekali penggantiku namun kurasa
aku akan bermain dari belakang dan akan menunjuknya jika memang dia benar-benar
mau menanggung semuanya.
“siang bolong kaya gini, masih bisa bengong ya??” tanpa
kusadari dia tersenyum tipis kepadaku.
Aku
menoleh kearah datangnya suara, Peter?. Aku mencoba senatural mungkin agar tak
kelihatan gugup berada didekat sosok Peter, siapa sih yang gak mau didekat
sosoknya. Akupun yang sudah merasakannya sekarang begitu Excited ,oke.
“kok, kamu bisa disini? Gak pulang??” tanyaku sebiasa
mungkin.
Dia
menatapku dengan tatapan tak dimengerti, “suka-suka, dan kenapa bisa kamu juga
disini? Gak pulang?” Tanya baliknya.
“suka-suka juga”
Dia
tersenyum sambil meninggalkanku sendirian, kulihat punggungnya yang sudah akan
menjauh kesana. Mungkin, dia akan pulang. Astaga, aku tidak mimpikan? Ketika
sosok yang kamu kagumi sekali nyatanya sekarang akan terus bertemu denganmu,
pasti itu adalah hal yang sangat membuat hidupmu bahagia termasuk aku sendiri.
“ciee, yang abis ngobrol” tiba-tiba tangan usil Oon menyolek
daguku.
Aku
mengibaskannya begitu saja, itu membuat jijik tau. Setidaknya, Oon masih
mending ketimbang Gaby yang suka sekali menciumku padahal dia adalah cewek, dia
menciumku seperti itu karena alasan bahwa dia menyayangiku ,sangat.
“apaan sih On??” dengusku.
Matanya
mengedip-ngedip untuk beberapa kali sambil cengengesan gak jelas, “yaelah, yang
kena virus Fall in Love. Digituin aja langsung sensi deh? Hihihihi…. Gimana sih
rasanya diajak ngobrol sang pangeran? Huu, pasti itu membuat hatimu
berdebar-debar dan berhamburan kemana-mana, iya ‘kan? Ngaku deh….” Dia
menuding-nuding dan songong.
Aku hanya menggeleng melihat aksi
Oon yang seperti anak kecil dan songong sekali, itu pasti virus Gaby yang
selalu songong.
“jangan ampe yaa tuh kejadian ngobrol sama Pangeran kamu,
bisa dibawa ke mimpi kamu. Inget? Kamu tidurkan sukanya nglindur, eh tapi gak
papa sih? Aku mau lihat kamu nglindur pas bagian fall in love sama Pangeran.
Hahaha…..” tuturnya lalu terpingkal-pingkal seperti anak domba kesurupan.
Mataku
berputar malas, “On, please deh!!” dia malah bertambah seperti sedang melawak
di Teater.
Aku sengaja meninggalkan Oon yang
sudah seperti kucing kepanasan dan koprol-koprol ditanah karena gatal, oke. Itu
lebay, tapi kenyataan. Nah, ini dia virus lebay Oon sudah menyebar kemana-mana.
Astaga, kenapa gak jelas gini? Kakiku terus menyusuri jalanan menuju rumahku,
oke tempatku latihan Dance dan rumah itu hanya kilasnya beberapa meter, jadi
aku dapat melakukannya dengan berjalan.
Sedangkan
aku yang berjalan begitu cepat, kini aku merasakan ada yang mengikutiku.
Awalnya memang aku sedikit heran, siapa sih yang sedang usil ngikutin? Aku
menoleh kebelakang, tidak ada. Aku terus berjalan walaupun agak sedikit
penasaran, apa benar ada atau tidaknya orang dibelakangku? Ya sudahlah.
Tapi,
“hey, namamu Claudya Rainee ‘kan?” orang itu menepuk bahuku hingga kau
tersentak kaget, aku menoleh.
“eh! Siapa kamu??” tanyaku tanpa menjawab pertanyaan orang
itu.
Dia
tersenyum lembut, “aku Dino, ini untukmu” ujarnya sambil menyodorkan secarik
kertas kepadaku.
“apa itu??” tanyaku.
“sudahlah, ambil saja. Kamu bisa membukanya untuk
mengetahui” ujarnya tapi dia langsung meninggalkanku.
*
Magic…?
Itu
yang tertera diawal lipatan kertas ini, aku bingung kenapa inisialnya bukan
angka atau beberapa huruf. Tapi, ini sebuah kata ‘Magic’ bukannya itu sulap?
Siapa sih ini orang, perlahan aku membukanya dan…
Magic…
Aku dengan mudah akan
terus bertemu kamu. Karena kekuatan ‘Magic yang aku punya, aku bisa menyulap
kamu menjadi kaget setelah terus bertemu denganku.
Siapa
yang akan bertemu denganku setiap hari?? Peterkah? Itu Impossible sepertinya. Ya
tapi ini siapa? Ini gila, aku bukan cewek yang begitu terkenal.
“ciieeee, yang di Stalker-in” colek Gaby.
Dia
duduk sambil merebut kertas itu, sedangkan aku hanya melihatinya. “aneh banget
nih cowok, masa iya inisialnya Magic? Yang bener aja, tapi mungkin buat bikin
berbeda dari stalker-stalker yang lain” ucapnya.
“ada apa Gab??” Tanya Oon yang tiba-tiba datang.
Dia
langsung melihat kertas yang berada di Gaby, “ini apaan sih? Surat cinta yaaa…”
ucapnya seraya merebut kertas itu.
Menurutmu
respon apa yang Oon lakukan? Dia tertawa, terpingkal-pingkal. Ini anak, kalau
sudah tertawa satu kali saja, dia akan terus menerus tertawa. Berarti hal itu
menunjukan bahwa dia sedang senang hati.
“please deh, gak ada apa yaa stalker kek begini yang lebih
professional?” ucapnya sambil masih menahan tawa menggelegarnya.
Aku dan
Gaby saling menatap bergantian, aneh memang? Sosok Stalker bisa seperti itu.
yaa, mungkin benar apa kata Gaby, kalau stalker itu ingin membuat yang berbeda
warna dan suasana dari Stalker yang lain.
“apa gak ada yang lebih Mainstream? Missal, diberi bunga
mawar gitu atau enggak barang kesukaannya. Lah ini, gak modal banget” tutur
Oon.
Aku
menghela nafas , “seenggaknya dia udah mau berusaha kenalin dirinya sama orang
yang dia sukai” kilahku.
Oon
hanya berdehem, “iya deh yang punya Stalker, belain!” ucapnya.
“aku tahu On, selera kamu. Kamu maunya cowok yang ngasih
bunga mawar, coklat, boneka yaaa…intinya yang unyu-unyu gitu. Itu terlalu
mainstream On, sadar diri” jelas Gaby.
Sedangkan
Oon malah berjengit sambil cengengesan, “yang mainstream itulah yang sering
dilakuin sama orang-orang yang lagi jatuh cinta” tuturnya sambil keluar dari
kamar.
Kali
ini Gaby, dia berpindah tempat menuju layar laptop miliknya. Ia dia sahabat
diantara kita bertiga yang selalu update di sosmed, gak Cuma itu dia juga udah
jadi Fanbasenya group Band sub Korea-china yakni Exo. Sedangkan aku kali ini,
aku hanya menatap layar ponselku. Karena tadi terdengar deringan.
1 Message Path
PiloRadian_ Ree….???
ReeClaudya yap! Ada apa Lo??
PiloRadian_ Gabynya ada gak sih Ree??
ReeClaudya ada Lo, tapi lagi update. Biasa di sosmed.
PiloRadian_ oh gitu…makanya. Ya udah Ree, thanks yaa
infonya.
Aku
tersenyum, ada-ada saja. Pasti Gaby lagi manyun sama Pilo, pasti masalahnya
sepele. Gabykan gitu-gitu manja banget jadi cewek. Makanya, dia dari dulu udah
jadi Fangirling banget soal update di sosmed. Kemudian, setelah melihat balasan
Pilo dengan senang hati aku membalasnya.
ReeClaudya anytime Lo.
“kenapa sih senyum-senyum aneh gitu??” Tanya Gaby.
Oh
ternyata dia sadar, “gak, tadi Ilo SMS di Path. Nanyain kamu” ujarku
sejujurnya.
Kini
kulihat kening Gaby berkerut, “tumben nyari info ke kamu, biasanyakan sama
Oon?” ujarnya lalu menghadap kearah laptopnya lagi.
KLING!
Ada sms??
Oh
bukan. Ini bukan SMS biasa, ini dari Emailku. Siapa sih? Pasti minta
chattingan. Aku melihati layar ponsel begitu pukat, melihati nama yang tertera
disana.
Tanyain_namanya_aja
Kenapa nama kamu kok kaya gitu??
NeverMissingHim
Masalah yaa? Suka-suka sih…
Tanyain_namanya_aja
Heheh… ASL?
NeverMissingHim
Boyish First Please
Tanyain_namanya_aja
Dimana-mana Ladies
First oke, tapi ya udah sih. Ini Asli aku yaa, tapi kamu yang duluan.
NeverMissingHim
Aneh sih, oke aku
ClaudyaRee/16/student/Jkt
Tanyain_namanya_aja
Asik! Oke greeting…..
NeverMissingHim
Ya… sekarang giliran
kamu.
Tanyain_namanya_aja is Offline.
“rese nih cowok! Sialan! Aku di kerjain” umpatku lalu
membanting Ponselku jauh-jauh.
“kenapa kamu??” aku menggeleng.
*
“sialan! Kenapa lagi Plan lancer begini, segala pake acara
baterai Low!” aku menggaruki kepalaku yang tak gatal dengan gusar.
Siapa
sih yang gak kesel? Lagi enak-enak stalker-in cewek yang disukai malah baterai
Low coba. Aku hampir saja menggigit mouse yang ada digenggaman tanganku
sekarang. Sialan banget, tahu gini tadi di ponsel aja sih. Tapi, ponsel aku
sendiri entah dimana? Sedari tadi dicari gak ada.
Kutu mana kutu? Aku
butuh buat dipitesin satu-satu…
“kenapa
kamu Pit??” Tanya Abang Dave tiba-tiba.
Kini
aku berjalan mendekati Bang Dave yang tiduran diranjangku sambil melihat Tv
yang dinyalakannya.
“kesel!!” umpatku lalu membanting tubuhku ke ranjang begitu
keras.
“kenapa sih??”
Aku
menoleh ke Bang Dave, “tau gak cewek yang aku suka, Ree?” dia menggangguk.
“tadi, aku lagi chattingan sama dia tapi notebook tuh
sialan! Masa lagi enak-enak Chatting baterai Low” gerutuku, sambil mengambil
cemilan yang ada digenggaman Bang Dave.
“You gonna Calm Down, man ?? Masih banyak waktu” aku
tersenyum kecut.
Tapi
sekarang keadaan kembali hening, dengan Bang Dave yang tiba-tiba menatapku
begitu intens membuatku harus menatapnya balik penuh Tanya.
“ada apa Bang??”
Dia
menghentikan aksi makannya dan duduk dengan posisi yang menurutnya enak, “kamu
masih musuhan sama Gilang??” aku mengangguk.
“iyalah Bang, secara dia itu penghambat Plan ku yang mau
deket sama Ree. Ketika sahabat menjadi bangsat itu kaya Gilang, udah punya
cewek masih embat yang lain” ucapku.
Dia
menepuk bahuku pelan, “gak seharusnya begitu, cepet-cepet baikkan? Takut terjadi
sesuatu yang lebih dari sekarang. Tapi Abang ngliat Gilang gak pernah nunjukin
mau ngerebut Ree??” aku mencibirnya.
“dia itu dilihat dari depan emang kaya gitu, sok gak peduli
sama Ree. Tapi nih Ya Bang, dia bakal bermain lebih dari biasanya untuk ngerebut
Ree itu dari belakang” mata Bang Dave menyipit.
“kelihatanya iya…” dia manggut-manggut.
Bang
Dave kembali mengambil wadah jajan tadi dan memasukan jajan tersebut kedalam
mulutnya. Aku yang sedaritadi melihatinya kini harus beralih menonton TV yang
sudah dinyalakan tadi, suasana menjadi hening. Pikiran kita hanya dalam
masing-masing, kita tidak ada pembicaraan lagi.
Hingga
pagi menjelang, aku dan Bang Dave tertidur dikamarku. Ya, habisnya bukan hanya
menonton drama Korea kesukaan Bang Dave yang nyebelin dan gak jelas itu, tapi
sesudahnya kita menonton acara pertandingan sepakbola antara Buyern Munchen Vs
Manchester City. Tapi, tidak lama kita tertidur apalagi Bang Dave mengambil
cemilan begitu banyak hanya untuk menonton pertandingan, padahal gak enak
dilihat tapi kalau gak ada hiburan lagi, jadi pilihan itu lebih baik.
“Bang? Bang Dave mau kuliah pagi ‘kan? Sekalian dong”
ucapku.
Dia
yang sedang semrawut karena memakai Kemeja yang menurutku sudah terlalu ketat
dipakainya, dia memaksanya. Alasannya, hanya untuk memperlihatkan bagaimana
Seterk bodynya itu.
“sekalian kemana, hah??” ucapnya sedikit membentak.
Aku
mencibir, tadi malam aja udah baik banget segala ada acara ngambilin minumlah,
makananlah eh sekarang? Udah kaya singa yang habis bangun tidur aja. Alih-alih
aku melihati reaksi Bang Dave, aku melihat ada sebuah kotak. Kotak kecil itu
diberi sedikit hiasan pita, namun pita itu sudah rusak dan kumal.
“ini kotak apaan sih?” kataku seraya akan menyentuh kotak
itu.
Namun
dengan cepat Bang Dave menepis tanganku, “jangan sentuh benda itu!” tukasnya.
Aku
hanya manggut-manggut, takut kalau saja aku membantah untuk terus mencoba
menyentuh benda itu. mungkin akan terjadi perseteruan karena Bang Dave tipe
cowok yang mudah sensi jika sudah merasakan gangguan.
“ya udah, kalau gitu aku berangkat duluan” ucapku langsung
meninggalkan Bang Dave sendirian disana.
Senambi
aku berjalan, ponselku tiba-tiba saja bordering. Aku merogohi saku celanaku,
mencari-cari ponselku. Dan setelah itu, aku membuka pesan yang terkirim di
ponselku perlahan. Ketika tahu nama yang tertera disana adalah Tasha, aku hanya
mengacuhkannya dan memasukan kembali ponselku kedalam saku dan kembali
berjalan.
Tasha? Bocah itu masih
berharap balikan denganku, jangan harap!....
Selagi
tanganku men-starter motorku, pikiranku tiba-tiba saja melayang kepada Tasha.
Saat dimana Tasha, yang tiba-tiba datang hanya untuk menjadikanku pacarnya.
Ternyata trick bodoh itu hanya untuk membodohiku ,karena nyatanya, dia
mempermainkanku setelah dia kembali kepada Gilang. Dia menjadikanku pacar hanya
sebuah prioritas kesepiannya yang ditinggal Gilang, jadilah aku sebagai
pelampiasan. Ya, akhirnya aku memutuskan hubungan itu.
Tapi
dia sampai sekarang masih berharap, setelah aku tahu berita bahwa dia benar-benar
sudah move on dari Gilang. Apalah Daya, nasi sudah menjadi bubur. Semua gak
akan bisa bergulir semudah itu. dengan kecepatan tinggi, aku begitu tenang
menjalankan motorku dan membelah hari pagi dijalanan. Sudah biasa, kalau
menjalankan motor pelan itu rasanya seperti kura-kura, tidak enak. Itulah
kebiasan cowok.
*
“hey bro! tumben agak gasik nih” sapa seorang Pilo terhadap
karibnya, Peter.
Aku
melihati keadaan nyaman itu dari kejauhan. Peter, cowok yang selama ini kenapa
bisa aku ada disini? Ya dia yang bisa jadi membuatku kesini, karena nyatanya
aku bisa bertemu kembali dengannya tanpa dia sadari. Cowok yang udah pernah
membuatku kelimpungan berhari-hari karena satu Group dalam MOS waktu SMP, siapa
yang gak seneng? Semua members cewek dalam Group bersama Peterpun sama
sepertiku. Malu berkata adanya kepada Peter, padahal dia adalah cowok biasa.
Astaga…pagi-pagi udah
ngomongin Peter. Yang bener aja sih Ree??
“ciee, yang ngliatin Pangerannya pagi-pagi. Asik deh!” kini
Gaby langsung mencolek daguku.
Aku
mengelus-elus daguku setelah Gaby mencoleknya, jijik. Kebiasaan yang emang gak
akan pernah pergi begitu saja, karena Gaby selalu Kalut dalam hal apapun.
“mau sampai kapan kaya gini? Gak lihat orang deket, Tasha
aja berani ngungkapin perasaannya sama Peter, masa kamu cemen? Kalah dong sama
Tasha” tutur Gaby sedikit menyinggung.
“aku masih takut” gumamku sambil menundukan kepala.
“dia
gak akan pernah ngelakuin hal itu Gab?? Jangan paksa!” dan Oon pun tiba-tiba
datang lalu merangkulku.
“terus, selamanya akan dipendam? Kapan Happy endingnya??”
sedangkan Oon tersenyum,
Kadang
hati Oon bisa jadi seperti malaikat dan akan mengeluarkan rumus kata-kata yang
begitu antic dan lentik jika didengar, seperti sekarang. Hatinya akan seperti
malaikat, pasti habis baca Novel tuh si Oon, diakan kutu buku tapi khusus
bukunya itu Novel genre Teenlit. Setidaknya, Oon mempunyai Hobby.
“ntar habis pulang kita latihan” ujarku di tengah-tengah
keheningan.
Kulihat
mereka mengangguk sambil melihati sesuatu yang membuat mereka nyaman, namun
keadaan berubah rusuh ketika aku mendengar sebuah sorakan demi sorakan dilorong
koridor kelas 11, mereka semakin menjadi seakan-akan sudah mendekati telingaku.
Aku dan kedua sahabatku menoleh, disana gerombolan pencari sensasi berkumpul.
“ada apa??” tanyaku entah kepada siapa.
“aku juga gak tahu” jawab Gaby dan Oon bebarengan, lalu kita
berjalan menuju kerumununan itu.
Sesampainya
disana, kami bertiga membelah lautan manusia itu dengan perlahan walaupun
banyak desisan yang keluar dari mulut mereka satu persatu.
“sekolah kita bakal ngadain Big Party Of art dan akan kita
rayakan bersama disekolah, so? Bagi yang mau menampilkan bakat kalian, kalian
bisa mendaftarnya kepadaku ,nanti habis sekolah dan tiga hari kedepan!!” ucap
Sara dengan lantang.
Ya,
cewek itu berdiri ditengah-tengah kerumunan manusia yang membentuk bulat. Aku
hanya melihatinya dengan tenang, ini saatnya dia yang menantangku. Mungkin, ini
sebabnya dia bisa berada diatas, karena dia akan selalu menjadi perayu kepada
sekolah hanya untuk ketenarannya. Dia akan halnya bak ketua OSIS yang akan
selalu mengadakan acara agar orang-orang dan seisinya seakan hidup lalu penuh
semangat.
Aku
menghela nafas, “hey Ree! Kelompok sisa kamu bisa tampil kok, asal tampilkan
apa yang mau ditampilkan itu adalah yang bermutu” ucapnya sedikit sinis diakhir
kata.
“semuanya bermutu, kalau gak bermutu kenapa harus dipaksa
tampil??” tukas Pilo.
Tapi
wajah Sara menunjukan bahwa dia sedang meremehkan perkataan Pilo, karena
nyatanya memang begitu, Sara adalah tipe cewek keras dan inginnya menang
sendiri. dan itulah sebabnya ia ditakuti sekolah, padahal dia bukan siapa-siapa
disekolah, dia cewek biasa.
Setelah
itu semuanya membubarkan diri tanpa aba-aba, Pilo yang tiba-tiba datang tadi
pergi begitu saja bersama karibnya, Peter. Aku dan kedua sahabatku kali ini
juga harus pergi daripada kena virus marahnya Queen bee yang satu itu.
“kalian coba kabur aja setelah apa yang dikatain Pilo? Oh,
apa karena sekarang kalian sudah punya Pilo dan Peter, jadi seenaknya hah?
Seterusnya itu gak akan semudah yang kalian kira” ucap Sara sambil menentangkan
kedua tangannya dipinggangnya masing-masing.
Kita
mencoba untuk bersikap tak peduli dengan ajuan Sara kepada kita, toh anak itu
pasti akan malu sendiri. dia enaknya digituin aja, biar tau rasa. Dia bahkan
memang seharusnya pantas mendapat gelar Queen Bee itu karena nyatanya dia
pencari sensasi dengan siapapun.
Kemudian,
setelah meninggalkan koridor tadi, aku sendiri berjalan sendirian meninggalkan
Gaby dan Oon yang akan mampir ke kantin. Seperti biasa, jam istirahat aku lebih
memilih untuk duduk manis menghadapi buku-buku yang aku suka sekali.
Diperpustakaan itu, tempat favoritku. Suasananya yang tenang membuatku seakan
tak mau pergi dari perpustakaan itu. sampai diperpustakaan, kini aku
menghempaskan bokongku ke kursi begitu lincah, karena sudah mengambil buku yang
kutemukan tadi.
Menarik buat dibaca!
Aku
tersenyum senambi tanganku membalikan perhalaman yang akan dibaca, buku ini
Novel. Tapi bukan novel yang sering dibaca oon setiap hari, novel ini adalah
novel bergenre nyata. Seenggaknya aku gak se-mainstream pikiran Oon yang suka
ria dengan novel teenlit, ya yang sering menceritakan tentang kehidupan para
remaja, yang begitu banyak diliputi kemanisan.
“kayanya gak bisa diganggu??” lirih orang tersebut.
Kepalaku
langsung bereaksi cepat, orang yang kini berada dihadapanku tersenyum manis
seperti gula. Alisku menaik salah satunya, heran kenapa Peter bisa ada disini?
Siapa yang suruh, tapi suka-suka sih. Aku kembali menatap novel tadi, namun
ekor mataku masih melirik sedikit kearah Peter, dia masih tersenyum dan itu
membuat suasana menjadi awkward.
Astaga,Kenapa bisa dia
tersenyum seperti itu?
“aku tahu, aku mempunyai senyum yang begitu mengagumkan jika
dilihat tapi seengaknya kamu bisa melihatnya tidak terlalu malu. Kita temankan?
Lihat saja senyumku, sepuasmu” ucapnya.
Hatiku
benar-benar berdebar saat ini, membuat nafasku harus tercekak. Dan perasaanku
kini harus campur aduk tak jelas saat Peter mengatakan hal tadi. Tubuhku agak
merinding mendengar perkataan Peter tadi. Itu membuatku harus kikuk menghadapi
cowok ini.
“do not shy to me, we
are friend, isn’t??” ucapnya lagi dan menatapku dengan senyuman itu.
“yeah, we are” ucapku sedikit kikuk.
Dia
merebut novelku dengan cepat, membuatku harus melongo. Untuk saat ini, menelan
ludahku saja rasanya berat sekali.
“oh ya, nanti latihankan??” aku mengangguk.
Mulutnya
terkatup, dan tangannya kini harus menutup malas Novel yang tadi direbutnya.
Kini, dia memulai aksi menatapku lagi.
“kamu ketua dance kan, dan aku adalah anggotamu. Kenapa kamu
harus kikuk dengan anggotamu sendiri?” dia semakin membuatku gila saat ini.
Aku
mencoba untuk senatural mungkin, “kita masih dalam tahap perkenalan, jadi
adaptasi dan waktu yang lama untuk saling berinteraksi lebih” ucapku.
“well, kamu tipe cewek yang susah untuk didapatkan
perhatian” katanya.
“whats wrong with the type of me??” tanyaku.
Dia
harus tersenyum untuk kesekian kalinya, “I love girl who have type like you”
ucapnya agak lirih, lalu meninggalkanku.
“kamu menyukainya?” tiba-tiba saja Pak Jono datang, dan aku
harus tersentak kaget.
Setelah
mengelus dadaku Pak Jono sendiri duduk didepanku dengan menaruh Koran di meja,
dia melihatiku dengan senyum paruh bayanya, pria paruh baya ini adalah penjaga
perpustakaan. Dan ya dia adalah orang yang sudah tahu sekali aku, karena setiap
harilah aku selalu kesini.
“are you sure with your joking to me??” kataku sambil
terkekeh tidak jelas.
Dia menggeleng, “bapak tidak
sedang bercanda Ree, kamu tahu. Pemuda tadi sepertinya menyukaimu juga, kamu
menyukainya dan dia menyukaimu. Bapak harap kalian bisa saling mengenal lebih
jauh untuk saling mengenalkan perasaan kalian masing-masing” jelas Pak Jono.
“bapak ada-ada aja sih? Gak lah, masa iya aku suka sama…dia??”
gumamku sedikit malu.
“wajah kamu yang bilang seperti itu, kamu gak bisa terlalu
lama ngumpetin perasaan itu lho? Selamanya kamu ngumpetin pasti akan kelihatan
juga” tutur Pak Jono membuatku harus merinding.
*
Setelah
tadi aku dari perpus kini aku sedang berjalan menelusuri koridor yang sebentar
lagi akan menuju kelasku.
“heh, aku mau bicara sebentar denganmu!” ujar Sara yang
tiba-tiba menghalangi jalanku.
Kini
dia sendirian, “aku ada challenge buat kamu, dan itu wajib kamu ikuti karena
aku juga yang akan bertanding denganmu” ucapnya begitu lugas dan tukas.
“seperti apa Challenge yang akan kamu berikan kepadaku” dia tersenyum sinis kepadaku.
“kita masing-masing group hanya akan menampilkan dance yakni
dance berpasangan, cowok dan cewek. Dan untuk pilihan konsep, udah ada
konsepnya dari kelompokku jadi kamu bisa pilih, diantara dua pilihan ini,
Ballad atau romance. Its up to you” jelasnya.
“kok kamu belagak curang yaa, jangan picik! Terserahkan,
nanti aku sendiri yang menentukan konsepnya, untuk konsep kamu sendiri tadi.
Bisa kamu gunakan untukmu saja” telakkku.
Dia
terlihat menghela nafas begitu teratur. Dan akhirnya menatapku dengan tatapan
sinis seperti biasanya.
“oke, wtf!” dia
berlalu.
Aku
menghembuskan nafasku, “aku rasa aku tadi mendengar sebuah Deal, boleh kita
rundingkan nanti ‘kan??”
Astaga,
ini orang bikin aku kaget saja. Pilo, cowok ini ternyata menguping sedaritadi.
Tak apa sih, untung saja dengan anggota ku sendiri, kalau saja Pilo adalah
orang lain, rencana itu pasti hancur lebur apalagi yang menantang bukan aku
melainkan group dari Sara dan Gilang, mau ditaruh dimana cover Group aku
sendiri.
“Ilo, mungkin aku akan menunjukmu dengan… Gaby??” candaku
entah darimana asalnya.
Dia
terkekeh, “ternyata ada yang masih shock mendengar challenge tadi, menurutku
tidak dengan Gaby. Bisa jadi, kamu dengan Peter” ucapnya.
Hatiku
tersentak mendengar nama Peter, “tidak juga, bisa jadi… ya aku ketuanya. Jadi,
aku yang harus memilih siapa yang berhak tampil nanti” jelasku.
“tidak, semua anggota yang akan memilih. Kamu tak boleh
memaksanya, kalau para anggota memilih kamu dengan…. Aku, bagaimana??” tuturnya
dengan muka Innocent.
“jangan harap!!” tukasku sambil meninggalkannya. Ya, pilo
terkekeh renyah.
*
Sehabis
pulang sekolah, kini aku sedang menunggu kedatangan para anggota untuk latihan
hari ini dan pemilihan yang akan tampil tiga hari nanti.
“hey ketua, kita semua sudah siap untuk rundiangan atas
tantangan itu. kau jangan membengong mulu” tegur Pilo membuatku tersentak.
Tanpa
aku sadari bibirku naik keatas membuat lengkungan begitu lebar, agak sedikit
malu juga. Karena nyatanya mereka semua sudah ada disini dan menegurku yang
ternyata sedang membengong ini.
“oke, jadi menurut kalian siapa yang pantas untuk dijadikan
pemain dance berpasangan nanti??” tanyaku kepada mereka semua.
Kita
membentuk sebuah lingkaran dan kitapun posisi duduk untuk lebih enak lagi,
ketika itu juga sebuah tangan mengangkat begitu cepat.
“ya. Kau mau mengajukannya??” ternyata dia Epep.
Dia
tersenyum dan mengangguk kepadaku, “aku rasa, Peter dan Tasha. Mereka lebih cocok, sepertinya” ucapnya
begitu menohok hatiku.
Aku
begitu menghormati pendapatnya, aku tersenyum terpaksa namun aku melihat kedua
sahabatku menunjukan ekspresi Shock ketika itu juga, dan kemudian kepalaku
mengangguk-angguk mengerti.
“iya, aku kira Peter dan Tasha memang lebih cocok untuk jadi
dance berpasangan tiga hari lagi. Great choice!!” ucapku begitu semangat.
Tapi
semua orang yang ada diruangan ini hanya meresponnya dengan keheningan, mungkin
sikapku yang aneh membuat mereka bingung.
“setuju??” ucapku begitu menekan.
Mereka
hanya mengangguk membuatku harus menghela nafas, dan saat itu juga, aku
membubarkan mereka untuk melatih diri sendiri dulu. Kini, aku hanya duduk
melihati mereka semua yang melakukan apa saja.
“sebenarnya aku tak setuju” ucap seseorang yang ada
dibelakangku.
Aku
menoleh, disana terduduk Pilo yang sedang santai, dan akhirnya dia mendekatkan
kursinya kearahku agar berdekatan.
“kenapa kamu tak setuju? Seharusnya, kamu katakan hal itu
sedaritadi” jelasku.
“kamu tahu, kali ini aku jujur. Aku tidak mau menyakiti
Tasha dan disisi itu, aku juga tidak mau menyakitimu atau kali ini, seperti
posisimu sekarang” tuturnya dengan penuh kejujuran.
Aku menatapnya,
tepat dimanik matanya. Pilo, apa yang sudah dikatakan Pilo membuatku merasa
aneh sendiri, kenapa bisa Pilo mengatakan hal itu. ada apa sebenarnya? Apa yang
mendorong Pilo berkata seperti itu.
Pilo aneh…
“maksudmu??” tanyaku penuh keheranan.
Orang
yang ditanya berdiri sambil memasukan
tanganya ke saku celananya, “lupakan saja” ujarnya dan meninggalkanku.
Tapi
setelah itu Gaby dan Oon menghampiriku, dengan terburu mereka mengambil kursi
dan duduk dihadapanku, mereka menatapku penuh kemelasan.
“apa yang terjadi sama kamu?? Dan apa yang dilakukan Pilo
tadi??” Tanya Gaby begitu cepat.
Aku
mengedikkan bahuku, “aku tidak tahu, karena dia mengatakan hal yang membuatku
bingung sendiri” ujarku.
“Please, don’t be sad! Aku rasa,
ada sesuatu dibalik Epep masuk ke Group kita?...” ditengah-tengah Oon berkata
dia menghela nafas, lalu “sepertinya dia disuruh untuk menghancurkan group
kita, aku merasakan bahwa penyuruhnya itu adalah Sara” lanjutnya begitu intens.
“tahu apa kamu??” tuntut Gaby.
Kulihat
Oon mencibir, “aku pernah mendengar pertengkaran antara Sara dan Epep, kalian
tahu??” aku dan Gaby mengangguk. Lalu, “Epep menyukai Sara” dengan begitu,
mataku sukses membulat.
Apa??....
“yang benar saja On, mana mungkin sih Epep suka sama Sara,
kayanya biasa aja” kata Gaby tak percaya.
“yang biasa-biasa gitu malah yang ada apa-apanya” ujar Oon.
Oh, aku
tahu. Epep melakukan itu hanya untu Sara seorang, aku tahu dibalik dari itu.
mungkin karena Sara membenciku dan ingin menghancurkan apa yang berbau
denganku, apalagi nyatanya Epep menyukainya, jadilah pikiran busuk Sara untuk
mengendalikan Epep dan menghancurkanku. Tapi karena alasan apa dia membenciku?.
Namun
kali ini, aku membiarkan hal Epep untuk menentukan konsep yang akan ditampilkan
dihari lagi, nanti. Aku begitu focus terhadap pemilihan konsep, mungkin karena
aku terpaksa melakukan hal itu padahal pikiranku sedang campur aduk,
kemana-mana.
Calm down Ree,
semuanya akan baik-baik saja….
Begitu
pula hatiku, kutenangkan perlahan dan “ya, kini kita akan menentukan konsep
yang akan kita bawa untuk ditampilkan nanti. Oke, aku hanya menginginkan
sedikit campuran hip hop dan sedikit natural dance yaa, that’s simple namun…aku
juga menginginkan slow dance sedikit saja untuk…oh! atau sebagai pendinginan, I think its enough! So, bagaimana??” jelasku
beraturan.
Mereka
semua mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti dengan pemikiranku, aku
tersenyum. Semoga ideku kali ini bagus untuk ditampilkan.
“Nice idea, menurutku itu tidak pernah dibawakan para dancer
selama ini. maybe, ini akan menakjubkan. Kita setuju dengan konsep itu, that’s
simple!” ucap popi, cewek yang sering dikuncir dua itu.
Aku
tersenyum lagi, “dan ya, aku rasa untuk Peter dan Tasha, Calm down, oke! Kalian
disini seperti pemeran utama so menurutku akan banyak yang ditampilkan pada
saat pertunjukan adalah kalian berdua .Before we begin, we better to pray” lalu
aku memulai latihan hari ini dengan berdoa.
Setelah
itu, kami semua berlatih begitu semangat. Walaupun masih sedikit yang malu-malu
untuk beraksi, aku tahu ada yang baru belajar untuk menunjukan bakat dance nya,
dan aku memaklumi itu. tapi dengan Peter dan Tasha, mereka begitu menghayatinya
seakan itu benar-benar terjadi. Konsep yang kini kita jalani, seperti gaya masa
remaja yang saling jatuh cinta. Namun, agak sedikit sedih karena aku
menambahkan musikalisasi puisi dipertengahan, dan puisi itu menunjukan ketika
para remaja yang memadu kasih itu terpisah dan saling menjauhi, karena ada
halnya orang ketiga.
Dan
setelah itu, berakhir dengan pasangan tersebut kembali lagi. Setelah mereka
tahu bahwa, orang ketiga tersebut hanya ingin merusak saja, dan mereka percaya
untuk tidak terlalu rapuh karena hal seperti itu. that’s simple, dan apa yang
sudah kuprakirakan.
^^^
Latihan
ini terus berlanjut hingga sudah menuju kehari –H, dimana hari tersebut untuk
menunjukan penampilan siapa yang terbaik, aku sebagai ketua hanya ikut tampil
sebagai seperti anggota yang lain, disini konsepnya hanya ada Tasha dan Peter
yang lebih banyak menggunakan waktu untuk tampil, ya mungkin aku seperti
penghibur saja agar tak bosan.
Suasana
dibelakang stage ini begitu ramai dan saling sibuk, seperti ada yang hajatan.
Para manusia yang biasanya bergerak tenang, kini harus seperti kendaraan
tiba-tiba saja. Karena berhilir kesana-kemari. Itu tidak denganku, aku hanya
bergerak dengan tenang, seakan tak terjadi apa-apa, aku memang sedikit gelisah
karena dibalik tampil dan menunjukan Dance nanti, itu ada sebuah tantangan yang
menyebalkan.
Astaga? Apa yang
membuatku seakan-akan tidak ada yang harus dikerjakan? Tapi nyatanya memang
seperti itu.
“Ree, sebentar lagi kita tampil” ujar Gaby dengan tatapan
yang begitu… yasudahlah.
Dia
tahu, ya Gaby tahu kalau aku tidak begitu semangat hari ini. bahkan sebelum
hari ini, dua hari yang lalupun aku sudah tak bersemangat, entah perasaanku
saja yang tidak enak. Tapi ada sesuatu yang mungkin terjadi, untuk hari ini.
kepalaku menggeleng-geleng setelah berpikir seperti itu.
“perasaanku juga tidak enak” kata oon merangkul dan mengelus
pundakku.
Dia
tersenyum lembut sama seperti Gaby, tidak seperti biasanya. Mungkin aku dan
kedua sahabatku memang sedang terlibat gegana karena perasaan masing-masing.
“tapi kalau kamu, aku tahu kenapa jadi kaya begini??” tutur
Gaby membuatku harus mengerutkan dahiku.
Aku
menggeleng, “bukan masalah itu, hanya saja entahlah? Kenapa perasaanku begitu
tidak enak” ucapku lemas.
“hey! Peter dan Tasha udah stay, kita harus Stay! Come on!”
ucap cewek itu.
Track –
Justin Bieber_ Runaway Love.
Lalu,
kita bertiga mengikuti tapi sambil berlari kecil menuju dekat panggung. Tapi
hatiku, tetap sama seperti itu, hingga lantunan Music dari Demi Lovato –Heart attack melantun dengan music dicampur sedikit
remix itu. hatiku sama sekali tidak berdebar melainkan, sesak. Rasanya susah
untuk bernafas, membayangkan akan terjadi sesuatu.
Hingga
pertengahan gerakan dance Peter dan Tasha, tiba-tiba saja music terhenti dan
Tasha, dia terjatuh karena pertahanan Peter saat menjunjung tubuh Tasha tidak
kuat dan akhirnya terjatuh. Itu benar, maksudku ? perasaanku benar, benar
adanya kejadian sesuatu.
Namun
dengan ide yang melintas dipikiran ku sesaat tadi, membuatku yakin untuk
menghibur kembali, aku menyuruh penata music untuk mengganti music tadi dengan
yang baru, sedangkan music yang akan diproses, pembawa acara mengalihkan
kejadian tadi dengan lelucon sedangkan aku dan semua yang tersisa merundingkan
Dance yang pernah aku tampilkan namun bersama dengan Gaby dan Oon saja.
Sekiranya itu lebih baik. Setelah itu, penata music memberi kode untuk bersiap,
dan kini mataku beralih kearah anggotaku untuk bersiap, mereka mengangguk.
Akhirnya kita sudah bersiap, semoga ini terakhir namun menakjubkan.
Track – Icona Pop_ We Got The world.
Aku dan
semua anggota memasuki panggung dengan begitu semangat, diawalan music ini kita
berjalan santai namun ada juga yang berlari kecil da nada juga yang mengangkat tubuhnya untuk beberapa kali,
sambil tangannya yang melambai-lambaikan dengan semangat. Hingga pertengahan
lagu, kita semua heboh dengan gaya dance yang serempak. Hingga music berakhir,
kita yang penuh bercucuran dengan peluh tersenyum lebar. Banyak yang bertepuk
tangan bahkan sorakan demi sorakan, tidak hanya itu juga ada yang bersiul
begitu keras.
“kenapa penampilan group kamu yang ini lebih bagus
,ketimbang yang dibawakan oleh Peter dan Tasha. Apa mereka berdua tak bisa
melakukan sesuatu yang lebih dari gerakan tadi, ternyata Peter lebih payah
dariku” jelas orang yang ada dibelakang sana.
Kita
semua menoleh kearah datangnya suara tersebut, Gilang?? Ada apa sama perkataan
Gilang? Aku mengerutkan dahiku, menatapnya yang ternyata Gilang juga menatapku,
dia tersenyum.
“mungkin karena sang ketua, dalam hatinya tak ikhlas bahwa
Tasha harus berpasangan begitu sweet dengan Peter” sindirnya.
“apa yang sedang kamu katakan, hah??” timpal Peter yang
tiba-tiba datang.
Kini suasana
hening, hening sekali. “o..ow! ternyata kamu dengar, hey peter! Mantan
sahabatku, cobalah rasakan dirimu sekarang bagaimana? Jangan jadi pengecut. Aku
tahu, kamu menyukai Ree, ya tanpa Ree sadari….” Lalu setelah itu Gilang
menatapku yang terkejut.
Dan
kudengar bisikan demi bisikan dari para penonton, aku menunduk. Apa benar yang
dikatakan Gilang? Apa Peter….menyukaiku?, aku menggeleng.
“mulut kamu ternyata buaya yaa? Aku memang menyukai Ree,
tapi apa kamu tak sadar bahwa diri kamu sendiripun Iya!” tukas Peter.
Kini
Gilang tersenyum sinis, “aku kira kali ini aku punya sahabat yang juga ikut
sama hidup sepertiku, diliang yang sama!” ketus Gilang.
“kamu menjebakku!” ucap Peter penuh dengan keseriusan.
Keadaan
mulai menegang begitu saja, termasuk aku sendiri. mereka berdua sedang
mengatakan hal apa sebenarnya, apa yang mereka lakukan didepan banyak orang
seperti ini. Peter benar-benar dijebak, agar Kharisma yang dimiliki Peter sama
halnya dengan Gilang. Ternyata Gilang Rese, cowok macam apaan dia?.
Namun
tepat saat itu juga, Tasha pergi meninggalkan orang-orang disekitar sini. Dan
membuatku tahu, bahwa Tasha sakit hati. Aku tetap bergeming diposisiku, disini.
Sungguh, aku tak bisa melakukan apa-apa lagi, awalnya niatku ingin mengejar
Tasha dan memberinya penjelasan. Namun, rasanya kakiku berat sekali.
“kamu pengecut peter, sama sepertiku. Namun rasanya kamu
tidak diberi embel pencari sensasi!!”
oceh Gilang lagi.
Lalu
Gilang menarik tanganku dengan keras, “kamu tahu Ree, orang yang kamu suka ini
sama halnya denganku. Lalu, bagaimana menurut kamu hah?? Kamu memilih siapa
diantara aku dan Peter. Dia yang pengecut dan aku yang lebih pengecut” ucapnya
sambil menatapku.
Tapi
aksi itu berhenti ketika Peter melepas cengkraman Gilang dari tanganku, “jangan
melakukan yang aneh-aneh, Lang!” tukasnya.
Tapi
dengan cepat aku melepas genggaman dari Peter, rasanya aku seperti dipermainkan
oleh mereka berdua. Aku pergi sama halnya dengan Tasha, namun tanpa menangis.
Aku harus kuat, mereka berdua bodoh, tak punya otak!.
*
Track –
Maudy Ayunda_ Tahu Diri.
“pep,
jelasin semuanya sama aku dan Gaby! Ini penting, ini semuanya kita lakuin buat
menjadi seperti semula lagi. Ini terlalu rumit” paksa Oon terhadap Epep.
Sedangkan
Epep sendiri, dia hanya menghela nafas begitu berat. Dan akhirnya mengangguk
dengan pasti, kitapun mengikuti Epep untuk mengetahui penjelasan yang
sebenarnya.
“mau diceritain yang kaya apa??” ucapnya.
Kita
menatapnya penuh harap, “ya semuanya Pep, masa setengahnya” ucapku penuh dengan
keegoan.
“oke, jadi awalnya itu….”
Track –
Miley Cyrus_ wrecking Ball
Flashback On
“Pep, aku jadian sama
Gilang. Tapi, dia bilang kapan aja dia bisa mutusin aku tapi dia juga bisa
kapan aja mau balikan sama aku, dan dia juga bilang kalau aku gak usah kaget
dengan sikapnya yang seperti itu, maksudnya apa Pep??” ucap Gadis malang
tersebut.
Bibirnya berbentuk melengkung,
“aku juga tidak tahu, mungkin putus tidaknya hubunganmu dengan Gilang
tergantung Gilang, kalau dia bosen. Kapan saja dia bisa putusin kamu, dan
missal dia mau balikan lagi sama kamu artinya….” Ucapanku menggantung, aku tahu
yang sebenarnya namun aku tidak mau menyakiti hati Tasha.
“artinya aku percuma
pacaran dengan Gilang, karena nyatanya aku hanya sebagai pelampiasan” tegasnya.
Aku tercengang mendengar ucapan
Tasha, aku benar-benar bersalah karena harus mengenalkan Tasha dengan Gilang.
“kenapa kamu tidak
putuskan dia saja??” kataku, tapi dia menggeleng.
“Pep, aku sudah bilang
dan kamupun juga. Aku percuma bilang putus sama Gilang, karena Gilanglah yang
berhak mengatakan itu atau tidaknya” ucapnya dengan tetesan air mata.
Namun setelah kejadian itu,
tasha kembali mencurahkan hatinya kepadaku. Entah, aku bisa saja mau
mendengarkanya, padahal akulah orang yang juga terlibat masalah ini.
“Pep, Gilang udah mutusin
aku. Tapi, baru kemarin juga aku jadian sama Peter. Dan dia menerimaku, tapi….”
Ucapnya menggantung dengan nada yang tidak enak didengar.
“tapi apa??” ucapku.
“tapi, sama seperti
Gilang. Peterpun sama, dia mengatakan itu semua sama persis apa yang dikatakan
Gilang” jelasnya.
Hatiku tersentak, astaga. Apa
gadis ini tak sadar dia sedang dipermainkan dua cowok itu, sadarlah dua cowok
itu tidak sama sekali sedang memperebutkan Tasha melainkan Ree, cewek yang
disukai dua cowok tersebut. Yaa, dulu mereka berdua adalah sahabat karib
sekali, namun karena tahu mereka sama-sama menyukai satu cewek, mereka akhirnya
menjadi musuh dan ingin saling memperebutkan Ree, dan pelampiasannya adalah
Tasha.
Astaga aku semakin bersalah,
karena aku adalah orang yang telah mengenalkan pertama kalinya Tasha ke Gilang
dan membuat Tasha harus terjerumus ke masalah bodoh ini.
“Sha, kamu seharusnya
minta pendapatku. Kamu tahukan? Kamu sedang…” ucapakan terhenti setelah menatap
Tasha penuh kenanaran.
“aku sedang melakukan
hal itu lagi, dan akan jatuh ke jurang yang sama….lagi???” dan dia pun
menangis.
Aku mencoba menenangkannya, aku
memeluknya. Entah, perasaan apa yang sudah bisa aku melakukan hal manis ini
dengan Tasha, aku kasian dengannya. Tapi, setelah kejadian yang sama itu terulang
kembali pada hidup Tasha, Tasha akhirnya kembali lagi bertemu denganku namun
kini dia membawa seseorang yang aku suka, dan dambakan itu.
Mereka berdua berdiri tepat
didepanku, “pep, kita mau bicara….denganmu” ucap Tasha.
Akupun mengiyakan hal itu, dan
akhirnya mengikuti mereka berdua kearah entah kemana. Tapi setelah sampai
ditempat itu, yang nyatanya adalah lapangan belakang, mereka mengajakku untuk
duduk disamping mereka berdua, tepatnya samping Tasha.
“ada apa Sha??”
tanyaku.
Dia menoleh kearahku dan
tersenyum, “pep, aku tahu kamu suka Sara. Sara udah tahu hal itu, jadi…” aku
menunggu kelanjutan omongan Tasha.
“kamu tahu Sha, aku
sedang dalam keadaan rumit dengan Gilang yang memutuskan untuk berpisah dengan
group itu. dan sara pun juga iya, aku rasa Sara mengertikan itu, kamu juga”
kataku tak masuk akal.
“bukan itu yang akan
aku bahas Pep, kamu tahu aku sudah putus dengan peter dan sudah benar-benar
move on dari Gilang, dan Sara menyukai Gilang” aku tersentak mendengar
perkataan itu, namun senatural mungkin aku lakukan untuk tidak terlihat jelas.
Aku menghela nafas, “lalu, apa
masalahnya??” ujarku.
“aku dan Sara ingin
kamu masuk ke group sisa itu secara Cuma-Cuma” ucapnya, dan mataku sukses
membulat.
Aku menyerngit, “apa maksudmu??
Itu sama saja kalian berdua mengendalikanku, tapi aku tidak mau” elakku dengan
keras.
“pep, aku mohon. Aku
tahu, kamu sangat menyukai Sara ‘kan? Apapun yang kamu lakukan pasti Sara
sangat bangga denganmu, kumohon. Kita ingin mendapatkan apa yang kita ingin,
dan satu-satunya cara hanyalah denganmu Pep” aku menelan ludahku begitu payah.
Aku menatapnya begitu kasian,
“pep, aku juga tahu kalau Gilang dan Peter musuhan itu karena Ree, maka dari
itu aku ingin hidup Ree itu hancur. dan aku juga ingin Peter dan Gilang tidak
menyukai Ree” ucapnya begitu sinis.
“Sha, Sara. Mereka
menyukai Ree itu wajar, tapi untuk menghancurkan hidup Ree dan membuat Gilang,
Peter bisa luluh karena kalian, aku tidak bisa melakukannya” ucapku begitu
penuh penekanan.
Tasha dan Sara menatapku dengan
tatapan kaget, “tidak, kamu bisa Pep!, kalau kamu tidak bisa? Sara akan
membenciku” ancamnya.
Aku menghembuskan nafas untuk
kesekian kalinya, aku masih bingung. Bagaimana caranya melakukan itu? bukankah
itu hal jahat, setidaknya. Tapi nyatanya itu adalah kejahatan, bahkan lebih
jahat.
Flashback Off
“nah, dari itu aku baru sadar kalaupun aku melakukan
kejahatanpun aku tidak akan mendapatkan apa-apa. Aku baru sadar” ujarnya penuh
kemalasan.
Aku benar-benar
Shock mendengar cerita Epep, “aku tahu bagaimana ada diposisimu, Pep??” ucapku
dan menepuki pundaknya.
“tapi itu semua sudah jalannya, kita gak bisa salahin
siapa-siapa ‘kan? Semuanya salah” ucap oon.
Aku dan
Epep manggut-manggut jelas. Ya, benar apa kata Oon, kita gak bisa salahin
siapa-siapa? Karena seharusnya kita salahkan diri kita sendiri, semuanya salah.
*
“Gab, On. Kumohon, aku ingin bertemu Ree dan menjelaskan
semuanya kepada Ree” paksa Peter.
Ya, aku
mendengar perkataan Peter dari depan rumah itu. aku pun mengintip dari arah
jendela dan menguping, Peter kerumah inipun tak sendirian. Dia bersama Gilang,
Pilo, Epep, Sara. Tapi disana tidak ada Tasha. Aku menghembuskan nafaskku.
“Ree gak ada dirumah, dia lagi liburan” ketus Oon.
Tapi
Peter malah cemberut sendiri, ya aku melihat Peter cemberut. Itu sangat lucu,
tapi aku tidak mau menemuinya, karena disana juga ada Gilang. Dua cowok itu,
mereka berdua sudah membuat hidupku semrawut, kali ini.
“masa iya, belum juga liburan. Aku tahu, Ree ada didalam”
benar-benar??
Peter
benar-benar mengotot saat ini, tapi Gilang tidak. Dia masih biasa, berdiri
dengan tangannya yang tetap diposisi seperti itu. aku menghembuskan
nafasku…lagi.
Mungkin, aku harus
berangkat….
Dan
keesokannya, aku benar-benar berangkat walaupun agak telat. Dengan berlari
kencang menuju kelas, aku berlari kecil namun kenapa sekolah bisa jadi sepi
begini?? Kepalaku clingak-clinguk, sukses. Ini benar-benar membuatku Shock,
kenapa sepi banget begini??.
“Ree? Ini bunga buat kamu, kamu boleh jalan lagi. Tapi,
lihat yaa kalau ada tanda panah didinding seperti ini, berarti kamu harus lewat
situ yaa” ujarnya sambil menunjuk tanda panah yang ada didinding.
Brarti
sekarang, aku harus berjalan apa yang tanda panah tunjukan itu. aku pun benar-benar
mengikuti perintahnya, mengikuti tanda anak panah untuk menuju tujuan. Tapi,
aku masih bingung. Ada apa sebenarnya??.
Pada kemana sih
semuanya??
Sampai
disebuah koridor kelas 10, disana menunjukan kearah kanan. Ya, anak panah itu
menunjukan Kearah kanan, akupun terus berjalan seperti petunjuk dari anak panah
itu. dengan yakin, aku berjalan namun kini aku dihalangi oleh segerombolan
cowok.
“Ree ‘kan??” aku mengangguk. Dia menyodorkan bunga
Ya, dia
menyodorkan bunga mawar merah sama seperti bunga yang pertama. Aku
mengambilnya, mereka tersenyum kepadaku.
“terus aja jalannya, semoga seneng” ucap salah satu dari
mereka.
Akupun
mengangguk, dan terus berjalan tapi setelah berjalan cukup lama da nada-ada
saja yang menghalangi lalu memberiku bunga mawar yang sama terus, itu membuatku
sedikit kesal namun membuat terharu. Apa yang sedang mereka rencanakan? Aku
benar-benar bingung.
Tapi
kini, cewek menghalangi jalan dengan muka menunduk namun dia memberiku secarik
kertas yang di kreatifkan. Dia menyodorkannya, dengan perlahan aku mengambilnya
penuh kelembutan. Setelahnya, dia minggir untuk memberiku jalan.
Magic…
Cepet dong jalannya,
sebentar lagi pasti nyampe! Semangat….
Begitulah
isinya, setelah itu disebuah dinding didepanku kini ada tanda panah dan symbol
M. mungkin, M itu singkatan dari Magic. Tanganku perlahan membuka pintu, namun
tiba-tiba saja telingaku mendengar suara piano begitu jelas.
You’ll never enjoy
your life
Living inside the box
Your so afraid of
taking chances
How your gonna reach
the top
Rules and regulation
Forces you play it
safe
Get rid of all a
hesitation
Its time for you to
seize the day
Instead of just
sitting round
Your looking down on
tomorrow
You gotta let your fit
of the ground, the time is now.
I’m
waiting….waiting….just waiting….i’m waiting…
Waiting outside the
lines….
Track – Greyson Chance_ waiting outside the lines
Hingga
lagu itu selesai, aku hanya terpana melihat ruangan ini. dipenuhi banyak orang,
dan mereka sangat menyambutku dengan baik. Aku tetap bergeming tak bergerak.
“makasih udah masuk sekolah, untuk hari ini. nice to meet
you Ree” ucap Gilang dan menyodorkan bunga mawar yang sama seperti tadi.
Dia
tersenyum lembut, “ayo, kesini. Kita lagi pesta ngerayain kamu masuk sekolah”
katanya.
Aku
berjalan begitu kikuk, semuanya melihatiku hingga sebuah sosok yang begitu aku
rindukan kemarin-kemarin kini berdiri begitu menjulang tepat didepanku, dia
membawa sebuah tishu dan sebuah api yang ditaruh dililin, ya lilin itu tak
dipegang Peter melainkan sedang dipegang Tasha. Peter tersenyum, dan Tasha pun
sama seperti peter.
Namun
semua yang ada diruangan ini berteriak histeris, ada juga yang bersiul. Dan itu
semua membuatku harus terkatup diam berdiri ditempat ini, tak berucap apapun
hanya dengan menatap mereka dengan tatapan tak dimengerti.
Tapi
dengan nafas yang sesak, akupun memberanikan diri untuk berbicara, “siapa yang
sudah merencanakan ini semua??” tanyaku.
“maaf, kayanya kamu emang sama sekali gak tahu. Tapi, kita
disini merencanakan ini semua karena kami minta maaf. Dengan semuanya, semua
tentang kamu yang sama sekali tidak diberadakan menjadi Ketua di group Dance
kamu sendiri, dan tentang kamu yang harus tegar menghadapi cobaan, menutup
perasaanmu dalam-dalam yang padahal kamu sangat menyukai orang tersebut, dan
tentang apa yang aku lakukan dengan Sara….” Ucapnya lalu berhenti untuk
mengambil nafas.
Dia
tersenyum ,”aku dan Sara udah sekongkol buat nyakitin hidup kamu karena kami
terlalu terbakar cemburu, yang padahal kamu emang wajar untuk disukai dengan
cowok seperti Peter dan Gilang. Kita minta maaf” ucapnya, lalu tiba-tiba saja
berdiri disamping Tasha.
Dia
tersenyum lembut, “aku juga minta maaf,
minta maaf sama kamu Ree. Aku emang udah diam-diam ikut serta dalam
masalah ini. Dan aku juga minta maaf dengan Tasha” ucapnya.
“Ree, kamu emang kayanya gak bakal percaya kalau aku akan
meminta maaf denganmu. Tapi, aku yakin dengan aku mencoba meminta maaf, kamu
bisa memaafkanku. Maaf, karena selama kamu mengenalku. Aku sama sekali tidak
menyapamu dalam kehidupan sehari-hari dengan baik” Lanjut Sara.
Kini
Gilang, ya dia berdiri tepat didepanku, “Ree, maaf. Maaf aku udah pernah
nyakitin kamu, dengan cara itu. aku emang pengecut, mungkin itu lebih baik.
Tapi, aku juga minta maaf karena nyatanya aku diam-diam menyukaimu” tapi keadaan
menjadi tegang.
Aku
menegang ditempat ini, menatap Gilang takut-takut. Aku hampir menjatuhkan air
mataku. Orang yang selama ini cuek dengan semua apa yang pernah aku katakana
kepadanya, ternyata menyimpan namaku dihatinya. ya, kata pengecut itu mungkin
memang lebih baik, untuk Gilang.
“dan, aku tahu kamu lebih menyukai Peter ketimbang aku. Ya,
aku sudah tahu. Kita semua sudah tahu, aku rasa, kali ini aku tidak akan
bermusuhan dengan Peter hanya untuk merebutmu” ucapnya dengan senyuman manis.
Tapi kali
inilah yang membuatku harus tersenyum, “aku juga minta maaf, maaf karena selama
ini membuatmu menunggu” ucap Peter tiba-tiba saja.
Sekarang
dia ada didepanku sambil tersenyum. Lalu tangannya mengambil sebuah Tishu dan
membakarnya namun KLAP!! Tishu terbakar itu telah menjadi bunga. Dan kemudian,
Peter menyodorkan bunga itu untukku. Dan aku mengambilnya perlahan dari
genggaman Peter.
Magic….???
Aku
masih tersentak dan menatap Peter lekat-lekat, “jadi selama ini…..???” dia
mengangguk.
“itu aku…..” ucapnya.
Aku
melihat kearah Gay dan Oon, mereka berdua tersenyum sambil mengangguk. Aku pun
ikut tersenyum kikuk.
“ayo dong Peter?? Lama banget
sih!!” ucap Tasha.
Perkataan
Tasha membuat semuanya terkekeh tapi kepalanya menggeleng-geleng, karena
melihat tingkah Tasha yang aneh dan seperti anak kecil.
“kamu tahu ‘kan maksud bunga itu?”
mulutku ternganga.
Namun
wajah Peter melihatkan bahwa dirinya sedang mencibirku, “karena kamu sudah
menungguku lama, jadi balasannya? Kamu mau tidak jadi milikku, Are you want to be mine??”
Dengan
kepalaku yang menunduk,karena menyembunyikan Blushing yang sudah merata keseluruh wajahku.Aku malu,baru pertama
kali ini ada yang mau menembakku dengan cara yang secara langsung dan ditonton
banyak orang. Dan akhirnya aku mengangguk.Sorakan demi sorakan sudah menggema
keseluruh ruangan setelah aku menjawab pertanyaan Peter,rasanya seperti
melayang diatas awan.
Ending
Song, Track – Becky G Ft Austin Mahone_ Magic
EPILOGUE :
Kamu
tahu, setelah kejadian dimana Peter menembakku? Semua keadaan menjadi seperti
semula, nyaman dan taka da perseteruan. Dan, bukan Cuma itu Groupku dan Gilang
sudah menyatu kembali, apalagi karena kemarin ada Tournament. Kami bersyukur, bisa memenangkan Tournament itu. mungkin karena kita sudah menyatu.
Tapi
bukan hanya itu juga sih, aku dan Peter. Tasha dan Gilang, sedangkan Epep
dengan Sara. Kami triple couple yang
berteman dan menjadi Trending topic hot
disekolah, dan juga kedua sahabatku ,mereka menjadi lebih baik. Namun Gaby juga
sedang PDKT kembali dengan Pilo, sedangkan Oon? Dia masih sendiri. bahkan dia
bilang. Dia tidak mau berhubungan special dengan siapapun, mungkin hanya takdir
yang akan menentukannya nanti.
Dan yaa
akhirnya kita semua merasakan hidup yang happy
ending…
Track –
Selena Gomez_ Lover In Me & Kelly Clarkson_Catch My Breath.
~THE END~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar