Selasa, 18 Agustus 2015

NO BROKEN HEARTED GIRL



PROLOGUE :
                Ada yang tahu ‘kah? Aku diam karena terlalu banyak jahitan dihatiku, menyayatku habis-habisan. Hingga rasanya kaku untuk diperbaiki lagi. Ada yang tahu? Bahkan mendengar hembusan nafasku pun tak ada yang tahu. Ketika cinta itu benar-benar khianat, semuanya sendirian. Sendirian…. Merasakan senyap begitu menyuruput.
                Sesak hingga menusuk kedalam pori-pori, menusuk hingga darah berhambur-hamburan. Aku lakukan seperti ini karena aku tidak mau, aku tidak mau semua orang mengetahui kesakitan ini dan mengubahnya menjadi bulan-bulanan. Biar aku menjaganya, walaupun berat dan enek kutimang. Ini adalah satu-satunya cara agar aku terlihat biasa saja.
                Menangis, aku terus menangis. Siapa bilang aku tidak menangis, aku menangis setiap hari. Setiap apa yang dia lakukan adalah kesakitanku, tapi dia tak tahu. Dia tak tahu yang sebenarnya, apa yang harus dia lakukan pun dia tak tahu. Dia hanya seperti orang asing, orang asing yang membuat hidupku hancur berkali lipat. Dan sampailah rasa benci itu terhadapku, dia datang penuh sejuta rumus yang dia lakukan.
                Namun, aku tetap diam. Melihatnya dirubung karma. Melihatnya yang begitu susah untuk mendapatkan apa yang dia mau, lagi. Aku hanya akan diam dan melihatnya, seolah-olah menuntunnya melewati batin masing-masing. Aku akan tetap diposisi itu sampai dia memang benar-benar menggapaiku, memperbaiki semuanya hingga tak ada sisa luka.
                Ya, tapi itu hanya sebentar. Sekejap kilat petir saja, dia melakukannya hanya setengah, tak semuanya dia lakukan secara tegas. Dia tak lagi melakukannya, dan kembali seperti keadaan sebelumnya, senyap merasuki hidupku lagi. Selama waktu begitu lama, dia tak ada kabar. Sampai hatiku benar-benar rusak, sampai benar-benar suara tangisanku seperti radio rusak. Dan memoryku terhadapnya seperti kaset eceran. Itu semua membuatku semakin hancur, semakin hancur lebur.
                Dan seperti tak ada lagi jiwa dan ragaku untuk hidup, mungkin dia akan kembali setelah karmanya benar-benar terpenuhi. Dan semuanya berakhir dengan tangisan haru.
---
Ada yang mau ketemu kamu, besok….
                Kata-kata itu terus mengiang dipikiranku, membuatku onar sendiri dikamar ini. ya, Adel orang yang memberitahuku tentang itu. oke, aku masih gadis SMP kelas 2. Aku merasakan seolah-olah mendengar ada yang akan bertemu denganku , itu membuat nyawaku akan hilang.
KLING!
FROM : UNKNOWN
Besok kita bertemu dilapangan basket belakang, aku akan menunggumu. Datanglah tepat waktu, karena aku akan disana sekitar pukul 6 pas.
                Hatiku bertambah degupan, degup demi degupnya menandakan aku semakin takut, orang  ini semakin membuatku gusar. Siapa dia? kenapa tiba-tiba saja membuat hidupku seperti diombang-ambing. Ini sudah tiga hari, dia menerorku. Sebenarnya, dia penculik ataukah… kepalaku menggeleng. Tidak, tidak mungkin penculik, toh Adel sahabatku juga memberitahuku.
*
                Dan sampailah hari ini, hari dimana aku harus bertemu dengan orang itu. aku hembuskan nafasku, menunggu ayah yang akan mengantarkanku kesekolah hari ini. tapi, aku sudah terlambat 5 menit, bahkan sudah berlalu dari tadi. Aku takut orang itu akan menerkamku jika aku terlambat menemuinya.
“ayah, cepatlah!” tuturku penuh penekanan.
                Ayahku hanya manggut-manggut lalu menyalakan mesin mobilnya, “kenapa kamu hari ini terlalu buru-buru, biasanya tidak?” ucapnya ditengah perjalanan.
                Aku yang sedari tadi membengong, tidak. Aku tidak membengong, maksudku, aku sedang memikirkan orang yang sedang menunggu dilapangan basket belakang itu.
“aku ada piket, yah??” kataku dengan ragu-ragu.
                Dia tersenyum lembut, “wah, kamu sangat rajin. Tidak seperti biasanya” aku ikut terkekeh dengan ayah namun sangat garing.
                Ya akhirnya berbincangan antara aku dan ayah berakhir, berakhir dengan sampainya kita didepan sekolah. Hatiku benar-benar tak bisa berkompromi, dia semakin cepat memompa, dan membuatku kaku. Setelah keluar dari mobil, aku berjalan tanpa pikiran jernih menuju lapangan basket belakang. Aku benar-benar akan kehilangan nyawaku karena telat.
                Dan sampailah aku disana, tapi tidak ada orang. Kecuali cowok yang sedang bermain basket, dia Adrian. Hanya dia disini, lalu sebenarnya dia dimana? Aku benar-benar sudah terburu-buru, tapi nyatanya seperti ini. ya, aku begitu lemas dan berbalik untuk kembali arah, aku akan masuk ke kelas.
“Hey!!” teriakan itu membuat kakiku terhenti.
                Kepalaku menoleh kebelakang, ya Adrian yang berteriak. Aku hanya menatapnya datar, namun dia berlari semakin mendekat kepadaku. Membuatku tidak bisa apa-apa. Dan akhirnya dia sampai, tepat didepanku.
“kenapa pergi??” aku hanya menggeleng.
                Kudengar hembusan nafasnya, “kamu telat, terlalu telat” ucapnya membuatku semakin tertekan.
                Mataku berkedip berkali-kali, menatap cowok berbadan tinggi ini dengan penuh keraguan. Aku malu, yaa intinya campur aduk terhadapku.
“maksudmu??” ucapku.
“aku orang yang menunggumu sedaritadi, tapi kamu datang telat dan membuatku enek” ujarnya dengan santai.
                Mataku membulat tak bisa diragukan lagi, apa yang dia katakana tadi. Sontak membuat hatiku meledak, benar-benar tak bisa dipungkiri…. Orang itu adalah… Adrian Valdiano. Cowok yang aku suka sejak pertama kali masuk SMP ini.
“ya, aku orang yang ingin menemuimu” lanjutnya.
                Aku pun berhenti menegang, itu terpaksa, “jadi, apa alasanmu ingin menemuiku??” kataku penuh keterpaksaan.
Astaga…dia membuatku harus bungkam.
“aku ingin menemuimu, karena aku ingin kau menjadi milikku. Dan tentu kamu harus menerimaku” ujarnya.
                Alisku berkerut, apa yang dia maksud? “maksudmu, kita…”
“pacaran”
                Ya allah, apa hari ini hari bahagiaku ataukah awal mula permasalahan. Dan akan datang permasalahan lebih dari ini, apa hal ini yang akan membuat hidupku berwarna ataukah pupus. Aku tidak tahu, tapi kejadian ini membuatku harus bungkam dan dia meninggalkanku…sendirian.
*
                Setelah kejadian hari itu, aku merasakan biasa saja. Tak ada perubahan dalam hidupku, ya walaupun sebenarnya semua orang sudah tahu bahwa aku dan Adrian sudah memiliki hubungan khusus. Tapi kamu tahu, hari inipun aku tidak menemui sosoknya, dikantinpun tidak. Di jalanan koridor, apalagi itu.
                Itu membuatku semakin gusar, aku bingung apa yang dimaksud Adrian kemarin. Sebenarnya, dia benar-benar mengatakan seperti itu ataukah hanya sekedar bercandaan. Apa mungkin dia bermain Truth or dare dengan para temannya. Aku tidak tahu.
“ssst, itu Adrian” senggol Adel.
                Tapi kemudian kepalaku menoleh kearah dimana Adrian duduk. Dia duduk di tempat duduk lapangan basket tersebut, ini bukan lapangan basket belakang tapi lapangan utama sekolah ini. dia duduk ditepiannya. Ya, dia sedang berlatih untuk mengikuti Tournament beberapa hari lagi. Dan info itupun yang memberitahu adalah Adel.
Apa mungkin Adrian benar-benar hanya bercanda kepadaku, dan aku terlalu dibuat sepertinya terjadi. Lihat! Dia benar-benar biasa saja.
“hey! Kenapa Jessica mengelap keringat Adrian, apa dia sedang membuatmu cemburu, dia benar-benar…” ucap Adel, membuat tanganku menghentikan aksi mencaknya kali ini.
                Kepalaku alih-alih mencari Jessica, dimana dia katanya mengelap keringat Adrian. Hatiku sesak seketika, apa aku pantas cemburu. Padahal aku belum tahu pasti apa hubunganku dengan Adrian.
“Raisa, lihat deh! Kok bisa Jessica yang ngelap gitu, kenapa bukan kamu??” ucap salah satu cewek yang berdiri disampingku tak jauh.
                Aku hanya menatapnya penuh kebingungan, aku tidak tahu. Aku tidak tahu, hey aku masih gadis SMP. Bahkan aku tidak tahu caranya untuk menunjukan kasih sayangku terhadap pacar, tapi sadarlah aku juda tidak tahu. Aku punya pacar atau tidaknya? Aku bingung.
“aku harus memberinya perhitungan Sa, enak aja dia! semua ini kan karena dia yang memulai, aku muak Sa! Aku muak, kalau ada cowok yang berani-beraninya buat kamu sedih” tukas Adel penuh emosi.
                Tapi aku hanya tersenyum, aku menyembunyikan sakit hatiku agar tak terlihat. Aku masih remaja SMP, aku ingat itu. bahkan perjalanan hidupku masih panjang, aku tak usah membuat hal ini menjadi bulan-bulananku. Ingat, aku masih anak remaja SMP, yang tidak tahu apa-apa.
“Del, kamu tahu. Aku juga tidak tahu kenapa bisa dia tiba-tiba datang kepadaku, tapi ingat ,aku tidak akan membalasnya, biarkan saja. Sepuasnya dia saja” ucapku.
“apa aku tidak salah dengar? Apa kamu mau disakiti terus-menerus, awalnya saja sudah gak baik Sa, apalagi kedepanya” timpalnya.
                Aku menatap dimana Adrian dan Jessica kini berbincang ria, “Adel, aku tahu aku menyukainya. Tapi jika caraku salah untuk menunjukan rasa sukaku, aku yang akan tertimpa banyak masalah. Jadi, kumohon jangan coba-coba untuk melakukan sesuatu tanpa aku tahu. Dan biarkan dia sampai sadar apa yang telah dia lakukan, karena pada dasarnya aku bukan siapa-siapa” ucapku lalu berjalan cepat menuju entah kemana.
                Dan hingga aku sampai di koridor Lab.Musik ini, aku berhenti dan duduk dipinggirannya. Tapi aku kira dengan duduk saja aku akan cepat bosan, mungkin aku harus masuk kedalam Lab. Musik. Itu lebih baik.
TING…
                Suara tekanan not Piano terdengar, membuatku berjalan penuh hati-hati. Siapa yang sudah ada didalam Lab Musik ini? dia cowok atau cewek, membuatku semakin penasaran akhirnya aku berjalan cepat.
“hmmm…..”
                Sontak deheman keras itu membuatku terlonjak dan terhenti akan aksiku. Kepalaku mengalih kearah dimana Piano itu ditempatkan, di sana ada seorang cewek. Aku rasa dia adik kelasku.
“hey, kamu kah yang bernama kak Raisa??” ucapnya sambil tersenyum.
                Aku yang berdiri tanpa bergeming ini, hanya menatapnya tak dapat dimengerti. Tapi, dengan ragu kakiku terpaksa ku angkat sekuat tenaga untuk mendekati cewek itu.
“iya. Namamu?” ucapku.
                Dan dia bergeser seakan menawariku untuk duduk disebelahnya, dan memainkan piano tersebut.
“Yoona Valdiano” ucapnya dengan seutas senyuman.
                Awalnya aku kaget namun kini ku netralkan, “jadi, kamu adiknya Adrian” ucapku.
                Dia mengangguk, “iya, yang sekarang sudah menjadi pacarmu” katanya lalu menekan tuts-tuts piano tersebut begitu lentik.
“apa hobbymu bermain piano??” tanyaku diselih-selih permainannya.
“iya, aku sangat menghobbykannya. Bagaimana denganmu??” katanya berbalik.
“wah, kita punya kesamaan. Aku juga menghobbykannya” ucapku.
                Dia menoleh kepadaku seakan tak percaya, “seharusnya Kak Adrian membawamu kerumah, agar aku bisa battle denganmu. Itu ide yang bagus bukan??” ujarnya penuh semangat.
                Tapi karena dia berkata seperti itu, membuat ingat sesuatu. Bahwa aku pun masih bingung, entah aku sebenarnya siapa untuk Adrian? Siapa coba. Aku menghembuskan nafasku.
“apa ada yang salah dengan perkataanku??” aku menggeleng.
*
“kak, aku ingin kakak membawa kak Raisa kerumah. Kamu tahu, dia hobby bermain piano, aku ingin battle dengannya” ucap adikku itu.
                Aku hanya mendengarkannya penuh lesu, membuatku ingat. Ya, aku ingat bahwa aku sudah mempunyai pacar dan itu sangat cepat, karena aku dan dia masih SMP. Aku yang sedaritadi tiduran kini beralih duduk, dan menatap adikku. Ya Yoona, yang sudah masuk dan duduk ditempat belajarku.
“aku baru ingat, kalau aku punya pacar” ucapku penuh kejujuran.
                Alih-alih aku berkata seperti itu, adikku terkejut. “apa? Apa maksudnya kak??” ucapnya.
“kak, aku mohon. Jangan sakiti banyak cewek kak, kakak tahu sendiri. kakak punya aku, aku cewek kak. Kakak, gak mau kan kalau aku juga disakiti cowok macam kakak, gak ‘kan??” ucapnya penuh emosi.
                Aku tersenyum sinis, “salahnya sendiri, kenapa suka dengan kakak” dan kali ini pun membuatnya harus menghembuskan nafas keras.
“kakak, jaga omongan kak! Please, sudah berapa banyak cewek yang kakak sakiti hah? Apa kakak gila?” timpalnya membuat darahku meninggi.
“ini semua karena ibu! Maka dari itu aku benci semua perempuan macam apapun, karena ibu!” bentaku.
                Awalnya Yoona terdiam, “kak, itu sudah lalu bahkan ibu sudah tidak ada lagi dalam checklist kehidupan kita kak. Sudah tidak ada lagi, apa kakak gak mikir? Kakak pasti nikah pun dengan cewek kan kak?” tegasnya.
“kakak tidak akan menikah…. Dengan siapapun dia!” tekanku lalu menghentakan pintu kamarku.
                Ya, aku meninggalkan adikku Yoona. Dia benar-benar cerewet jika mempermasalahkan soal cewek, ya aku tahu posisi dia.
                Hingga ragaku sekarang, berdiri dirumah karibku Bobby. Dia benar-benar orang yang tepat untuk menjadi sandaran.
“Bob, kamu gak sibukkan??” dia menggeleng.
                Dan akhirnya aku dan Bobby terduduk ditaman miliknya. “pasti, kamu kesini ada masalah. Kalau gak sama ayahmu, yaa sama Yoona. Iya ‘kan??” aku mengangguk.
                Dia menghembuskan nafasnya, “kenapa gak coba kerumah pacarmu??” tanyanya. Membuatku menoleh.
“aku tidak mau” ketusku.
“sebenarnya apa alasanmu menembak dia? aku tidak mau semakin banyak cewek yang kamu sakiti, semakin besar karma yang akan kamu hadapi man?? Hati-hati” ujarnya penuh keseriusan.
                Kini aku juga menatapnya lebih dari serius, “apa karena itu aku akan mendapatkan Karma??”
“iya, itu jelas Yan. Aku pikir, sudah cukup. Dan jangan sakiti Raisa, masalahnya dia cewek baik-baik, jangan permainkan dia Yan” lanjutnya.
                Kini aku yang hembuskan nafasku, “salahmu mengenalkan aku dengan Raisa, katamu dia benar-benar menyukaiku. Jadilah aku merasa itu menarik” kataku.
“sebenarnya, aku mempunyai rencana Yan. Aku ingin merubah perlakuanmu terhadap cewek, aku tahu kamu trauma karena ibumu. Tapi, please. Mungkin dengan aku perkenalkan kamu dengan Raisa, akan berbuah hasil” tuturnya.
                Aku terkekeh sinis, “Bob, Raisa mana bisa? Aku sudah memulainya dengan kebencian” perkataanku itu membuat Bobby terkejut.
“ya allah Yan, seharusnya kamu confirm hal itu dong Yan. Yan, rubahlah? Aku rasa. Kamu benar-benar akan mendapatkan yang setimpalnya” dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
*
“ibu dengar kamu ada hubungan dengan anaknya Pak Valdiano??” Tanya ibu tiba-tiba.
                Ya, kini aku berada dimeja makan. Aku sedang berkumpul dengan semuanya, tai diselah-selah itu ibuku membuatku harus mengeluarkan kembali makanan yang akan masuk kedalam mulutku.
“aku tidak tahu” dan ucapanku itu malah membuat semuanya terkejut.
“kenapa kamu tidak tahu??” ucap Bang Afran.
                Kakaku, aku benar-benar lupa aku sedang berkumpul dengan semuanya. Aku benar-benar bingung harus menjawab apa sekarang, tapi aku memang lebih bingung dengan hubunganku.
“ya, maksudku… kalian tahukan aku baru pertama kali. Jadi, beberapa hari setelah kejadian itu, aku masih bingung” ucapku dengan tergagap.
                Malah semuanya terkekeh, “ya ampun, keponakan tante yang polos ini? ternyata masih kaku yaa soal begituan, ya semoga dengan kebiasaan kamu akan lebih tahu. Tapi, tante mohon. Jaga harga diri kamu” tuturnya, aku mengangguk.
“ayah sebenarnya mendengar hal itu agak sedikit kecewa, tapi disisi itu ada rasa senangnya. Kamu sudah mengenal cinta dengan kamu yang masih siswa SMP? Tapi sisi senangnya, kamu sudah tahu memilih cowok yaa…. Dan benar apa kata Tante mu Raisa. Jaga harga diri kamu” timpal ayah membuat semakin merasa ada sesuatu.
                Tapi dengan itu aku menunduk untuk menyembunyikan rasa gugupku, aku benar-benar seperti sedang melamar pekerjaan, dan tahap inilah aku sedang di wawancarai.
“tak usah gugup, memangnya sudah berapa banyak Adrian memanggilmu sayang??” ledek Ibuku.
                Membuatku semakin plonga-plongo, aku benar-benar tidak tahu lagi harus melakukan apa dan berkata apa, aku bahkan sepertinya sudah agak labil untuk menghadapi sesuatu. Mungkin ini saatnya.Aku tersenyum kikuk mendengar ucapan ibuku, dipanggil Sayang… tak tahukah. Memberi pesanpun tidak, apalagi harus memanggilku sayang. Bertemupun seperti orang asing.
                Setelah makan malam tadi, aku langsung berlari menuju kamar. Hatiku benar-benar sakit, aku harus apa? Apa aku harus bertanya kepada Adrian soal hubungan ini. tapi sepertinya itu tidak mungkin, karena gak mungkin kan kalau Adrian akan membalas Pesan ataupun telfon dariku. Jangan berharap yang aneh.
KLING!
FROM : ADRIAN
Besok kamu harus kerumahku… jadi kita pulang bareng tapi kerumahku.
                Sontak itu membuatku senang tapi nyatanya isi pesan tersebut seperti ini. hal itu lantas membuatku menjadi lemas kembali, tapi ada apa yaa kok bisa Adrian mengirimi pesan, dan menyuruhku untuk kerumahnya.
                Awalnya aku ingin membalas pesan tersebut, tapi karena aku yakin sepertinya aku tak pantas buat membalasnya lebih baik aku tidur saja. Yang penting aku sudah tahu informasinya.
KLEK!!
“Raisa, abang mau bicara sebentar denganmu. Bolehkah??” aku menghentikan pergerakan.
                Dan kini menatap Bang Afran yang tengah memandangi diambang pintu, dia samar-samar tersenyum tipis kepadaku. Lalu aku mengangguk, dan akhirnya Bang Afran berjalan mendekatiku. Setelahnya, dia duduk disampingku.
“ada apa Bang??” tanyaku untuk mengawalinya.
                Kudengar hembusan nafas dari Bang Afran, “Abang Cuma mau menyarankan kamu. Supaya kamu tahu, Abang mohon, sesuka kamu dengan Adrian. Abang tidak mau kamu menjadi korban gadis yang dia akan lakukan, mungkin ini awalnya memang seperti ini, tapi? Abang tidak mau setelah itu kamu harus menangis karena Adrian. Hati-hati dengannya” ujar Bang Afran.
                Ya itu membuatku sangat takut, tubuhku sudah berkeringat dingin dan campur aduk rasanya. Apa maksud Bang Afran dengan aku setelah ini menangis.
“apa ada sesuatu yang sudah Abang ketahui, dari Adrian” ucapku dengan takut-takut.
                Dia menatapku dengan nanar, “yang tadi Abang ucapkan itu adalah yang Abang ketahui dari Adrian, tenang saja. Kalau memang Adrian berbuat sesuatu yang membuatmu sakit hati, dia harus menanggung semuanya” mataku sontak melotot.
“kenapa Bang Afran bisa mengenal Adrian?” ucapku penuh penasaran.
                Namun respon yang Bang Afran tanggapi hanyalah tersenyum, lalu dia berdiri dan mengelus rambutku.
“tidurlah, sudah malam” ucapnya dan berlalu.

                Dan hingga terik matahari menusuk, mataku perlahan bangun. Entahlah, rasanya malam ini aku tidak merasakan nyenyak saat tidur, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Bahkan pikiranku selalu melayang pada perkataan orang-orang terdekatku, termasuk Adel, Tante Hilmi, ayah,  dan yang selalu mengiang adalah perkataan Bang Afran.
                Namun kini aku tepis semua pikiran itu, dan beralih untuk bersiap kesekolah. Setelahnya, aku benar-benar sudah berniat tidak akan sarapan pagi untuk pagi ini. aku begitu malas.
“Raisa, makan dulu gih. ibu sudah buatkan makanan kesukaanmu” ujar ibu sambil tersenyum.
                Disana bukan hanya ibuku, tapi seperti tadi malam. Banyak orang yang kini melihatiku, menatapku seolah olah berkata ‘ada apa dengan Raisa?’ tapi aku menjawab ucapan ibu dengan gelengan kepala.
*
                Sampai disekolah sudah begitu banyak siswa yang berangkat, tapi yang kucari kini hanyalah Adel seorang. Cewek supel yang satu itu memang benar-benar karibku. Dia bahkan sudah aku anggap seperti keluarga, dan yaa kami berdua sudah bersahabat dari zaman orok, bukan hanya itu ibu Adel dan aku juga bersahabat semenjak zaman yang juga oroknya.
Dimana yaa Adel??
                Kepalaku clingak-clinguk mencari sosok Adel, biasanya dia adalah siswa tergasik, karena setiap hari dia orang pertama yang sudah duduk manis dibangkunya. Sedangkan aku sendiri, berbeda sekali walaupun aku dan Adel sama-sama pinternya, tapi tetap ada perbedaannya.
“heh! Kamu Raisa, ikut aku!” tukas cewek itu.
                Ya cewek itu adalah Jessica, aku hanya menatapnya penuh keheranan. Kenapa yang datang Jessica, kenapa bukan Adel. Dia tidak sendirian melainkan seperti biasa, membawa dua sidekick – nya, Amel dan Masha.
“seret dia ketempat itu!” suruh Jessica.
                Dan ya dua Sidekick nya ini menyeretku begitu kasar, mereka bahkan selalu mencak-mencak tak jelas, awalnya memang aku memberontak tapi kini sudah aku netralkan. Kemudian aku dilempar hingga menabrak sebuah wadah yang entah apa itu, ini tempat gudang. Mereka bertiga membawaku ketempat yang senyap ini.
“kalian mau mengapakanku??” ucapku bernada tinggi.
                Tapi mereka malah tertawa meremehkanku, “apa benar kamu sudah jadian dengan Adrian, hah??” ucapnya dan mengangkat daguku dengan jari telunjuknya.
                Setelah itu aku menepisnya, dan berani menatap cewek tolol ini dengan tatapan sinisku. Dia hanya tersenyum sinis.
“iya” ucapku lantang.
                Dia tersenyum miris lalu mengambil pisau kecil lancip yang tiba-tiba saja ada di sekitar sini, aku kira memang mereka sudah merencanakan hal ini untuk membuatku takut.
“putuskan hubungan kalian, karena toh Adrian tak menyukaimu melainkan menyukaiku” katanya lalu menempelkan ujung lancip pisau itu ke wajahku, tepatnya di daguku.
                Namun kemudian, ia menekan pisau itu hingga terasa sakit. Benar-benar, bahkan sebelum aku bergerak tanganku dicekal dua sidekick –nya yang tolol. Dan dengan tenaga yang kukeluarkan keras, hingga dua orang yang mencekal tanganku harus terlempar. Tapi pisau itu sudah menyayat hingga darahku harus mengalir dibagian dagu.
“ternyata kamu tipe orang yang menjaga harga diri kamu” ujarnya membuang kasar pisau itu.
                Kemudian tanganya tiba-tiba meremas kerah seragamku, namun bukan itu yang dia lakukan dia akan menamparku.
“berhenti!” teriakan itu membuat aksi Jessica terhenti.
                Jessica sangat terkejut, termasuk dua gerombolannya itu. aku hanya menatap datar Bobby dan Adel yang kini berdiri dan mendekat kearah sini.
“apa yang….astaga. kalian ternyata tolol ya, cari-cari masalah. Kalian gak ngaca apa? Kalian cewek” bentak Adel.
                Adel langsung menggeret lenganku untuk berada dibelakangnya, mencoba melindungiku. Sedangkan Bobby, dia kini menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu mendekat lagi kearah dimana ketiga orang yang sudah menganiayaku.
“jangan lakukan hal itu lagi, cukup satu kali. Kalau emang iya, rasakan apa yang sudah kalian lakukan itu!” ancam Bobby.
                Mereka bertiga mencibir, “oh, sekarang banyak yang membela anak lemah seperti Raisa ini. semakin banyak orang yang membelanya semakin kejam aku menganggunya” itu kata Jessica, dan mereka pergi.
                Ya mereka pergi dengan sengaja menyenggol keras kami bertiga, tanpa sadar aku sudah menangis karena terlalu diam. Adel memelukku, dia ikutan menangis, lalu mengelap wajahku dengan bajunya.
“Adel….” Lirihku dengan suara membeku.
“aku tahu” kita masih berpelukan.
                Dan akhirnya Adel melepaskan pelukan itu, dia menyentuh luka didaguku. Sambil menatapku dengan senyuman tipisnya.
“kita obati luka ini, kelihatannya pisau itu menusuk terlalu dalam. Hingga sobek seperti ini, ayo Bob!” ajak Adel.
                Ya kita bertiga, dan mereka berdua yakni Adel dan Bobby mengantarku ke UKS untuk mengobati luka sayatan tadi. Rasanya perih, tadipun kata Adel bahwa luka sayatannya sudah merobek. Didalam sana, di UKS aku mengaduh-aduh. Sakit sekali rasanya.
“tuh ‘kan lukanya tambah robek Sa. Jangan ngeyel kalau lagi diobatin, mau cepet sembuh gak” ujarnya.
                Bahkan dia sudah seperti ibuku, cerewet tapi ngangenin ini. ya, Adel dan Bobby memang sudah berpacaran, namun mereka tetap nyaman dengan hubungan yang biasa saja. Karena tahu kalau mereka masih SMP, mereka tahan.
“terima kasih Del” kataku dengan tulus.
                Selesai sudah mengobatiku, dia mendongak kearahku “anytime for you” ucapnya.
“oh ya Sa, sebaiknya kamu ke kelas dulu. Aku dan Bobby harus pergi dulu, hati-hati jalannya yaa” aku mengangguk.
*
                Hingga akhir pelajaran hari ini berakhir, aku hanya bertemu Adel ketika itu juga. Aku tiba-tiba saja ingin menceritakan keluhanku kepadanya, namun nyatanya dia kini sedang bersama Bobby. Ya sudahlah, dan mungkin hari ini aku harus jalan kaki sendirian.
TAP!
Oh iya, aku kan ada janji untuk kerumah Adrian…
“heh, cepet! Kenapa bengong sih disitu??”  kata seseorang membuatku tersentak.
                Aku terpengarah keambang pintu, disana berdiri Adrian dengan tangan yang dimasukan ke saku celana masing-masing, aku berhembus. Ya allah, dia sudah ada disana nyatanya. Kini aku berjalan santai menujunya.
“kamu gak ikhlas yaa mau kerumahku??” katanya lagi membuatku memandanginya.
                Aku mencoba untuk berani menatapnya, “apa ada yang salah sama perlakuanku?” tapi aku mencoba untuk setenang mungkin.
                Dan ya, dia tak merespon melainkan mengacuhkanku dengan berjalan. Tapi aku juga tidak peduli dengan sikapnya, aku juga mengikuti arah jalannya Adrian. Suasana hening dan senyap sepertinya adalah satu-satunya suasana yang cocok saat aku dan Adrian bertemu.
“kita pulang jalan kaki” ujarnya ketus.
                Ya setelah itu aku hanya menuruti apa kata Adrian, tak masalah kalau dia mengajakku untuk berjalan kaki, karena toh sudah biasa buatku karena setiap haripun aku dan Adel selalu berjalan kaki, walaupun jauh sekolahnya.
                Dan beberapa lama kemudian, aku mengikuti langkah Adrian yang sudah memasuki pekarangan rumahya, rumah dengan desain yang sederhana tapi menarik ini adalah desain Komplek khas untuk blok B. ya ternyata rumahnya ada di Blok B, berarti dia bertetangga dengan Bobby, jelas dia dan Bobby adalah karib.
“masuk gih! Aku mau pergi” mataku sontak harus melotot.
                Tapi dia menatapku dengan tatapan datarnya, “kamu menyuruhku kesini, tapi kenapa kamu harus pergi? Aneh” kataku penuh heran.
                Kudengar decakan sebal darinya, “adikku yang menyuruhku untuk kamu kerumah ini, jadi pahamkan? Aku mau pergi dulu” ketusnya.
                Sebelum dia pergi, aku mencoba mencegatnya. Tanpa rasa takut yang seperti biasanya, aku kini sudah berani mencekal tangan Adrian. Walaupun sebentar, karena dia menepis kasar tanganku membuatku sakit hati awalnya.
“memangnya kamu mau pergi kemana?” tanyaku intens.
“urusan kamu!” timpalnya.
                Aku menghembuskan nafasku dalam-dalam, “aku hanya ingin tahu” ucapku dengan lirih.
“aku akan pergi untuk menemui Jessica, puas!” tindasnya.
                Setelah dia mengucapkan kata itu, kepalaku melengos hingga dia benar-benar telah pergi dari hadapanku sekarang. Aku benar-benar sudah muak dan ingin menjotos wajahnya agar dia sadar, dia telah membuat permainan hitam didalam kehidupanku. Awas saja yaa, aku akan membalasnya walaupun dengan diam. Aku akan mendoakanmu Adrian, mendoakan agar kamu cepat sadar dari mimpi hitammu.
Aku akan membencimu Adrian, suatu saat nanti…akan kucoba.
“kak Raisa, ayo masuk” ucap Yoona yang tiba-tiba saja datang.
                Aku hanya mengangguk, lalu mengikuti alur jalannya yoona. Dan sampailah kita disebuah ruangan penuh music ini, ada banyak alat music, percusi pisah bahkan Drum, gitar, dan juga piano tapi tidak itu juga. Ada banyak yang lainnya lagi seperti harmonica, suling, biola, ya banyaklah.
“ayo kak, duduk” dia menepuk kursi yang didepannya piano.
                Aku tersenyum ,”apa kamu ingin kita battle” kataku.
                Tapi ketika aku mengucapkan seperti itu, Yoona sendiri tiba-tiba menunjukan wajah kusam membuatku aneh sendiri. dia kenapa, aku pun tidak tahu. Dia memegang tanganku senambi tersenyum lembut. Ya, dia meneteskan air matanya. Membuatku menduga bahwa ada masalah sepertinya.
“kak, kenapa kakak tidak mencoba untuk berhenti. Aku ingin kakak tidak jadi korban untuk yang kesekian kalinya” ujarnya.
                Alisku bertaut, “apa maksudmu??”
“aku ingin kakak berhenti berharap kepada kak Adrian, aku tidak mau hidup kakak berubah karena Kak Adrian. Aku tidak mau, kak Raisa membenci keluargaku seperti orang-orang sekitar ataupun cewek yang sudah kak Adrian jadikan korban, aku tidak mau” ucapnya begitu deras, ya dia benar-benar menangis.
                Namun aku hanya meneteskan air mata setitik saja, dan mengelapnya dengan cepat. Lalu aku menatap kembali wajah cantiknya yang mirip sekali dengan Adrian.
“aku masih bingung Yoona, entah kenapa aku merasakan bahwa aku tidak bisa apa-apa kecuali hanya diam” ucapku.
“aku tahu, kalaupun kak Raisa hanya bisa diam. Aku tahu, karma sedang menguntit kak Adrian” ujarnya.
                Ya, kita berdua tak jadi Battle, karena Yoona selalu mengajakku untuk berbicara tentang Adrian, dan lebih mengejutkan lagi setelah tahu apa yang sebenarnya telah terjadi dan merubah hidup Adrian. Hingga sepertinya sudah larut malam, akupun pamit untuk pulang awalnya Yoona memaksaku untuk diantarkan sopirnya namun aku menolak, aku akan naik kendaraan umum saja.
“sampai jumpa Yoona, sampai ketemu lagi” ucapku senambi berjalan menuju luar rumah.
                Setidaknya aku harus berjalan kaki hingga menemukan jalan raya disana, karena jika menunggu diarea komplek itu tidak akan terjadi. Karena tidak akan ada kendaraan umum yang lewat, jadi jangan berharap.
“neng mau ngojek?” orang itu menepukku dari belakang.
                Sontak aku kaget dan menoleh kearahnya, “ya allah, kok mamang Ojek bisa disini??” dia nyengir sangat lebar.
“iya neng, soalnya mamang disuruh Bang Afran buat jemput neng kesini” ucapnya, akupun heran, Bang Afran?
“kok bisa Bang Afran tahu aku disini” gumamku, aku merasakan keganjalan dengan Bang Afran.
“ayo neng, naik! Udah mau maghrib, nanti solatnya bisa telat neng” aku mengangguk dan langsung naik ke motor Mamang Ojek.
*
“dari mana saja kamu?” tuding Bang Afran.
                Aku baru sadar ternyata Bang Afran sudah berdiri di depan rumah seperti ini. aku benar-benar shock.
“bukannya Bang Afran sudah tahu ‘kan?” dia memutarkan bola matanya.
“Raisa, Abang mohon. Jauhi Adrian!” tuntut Bang Afran.
                Aku meneteskan air mataku, “sebenarnya aku juga ingin menjauhinya, tapi… aku tidak bisa Bang. Karena aku tidak bisa untuk jauh dari Adrian, ini kesempatanku untuk bisa bersama Adrian walaupun dia tidak mau” ujarku.
“kamu masih SMP sa, masih panjang perjalanan hidup kamu. Apa Cuma Adrian? Masih banyak lagi ‘kan?” katanya dengan enteng.
“perasaan itu tidak bisa dipaksa Bang, aku sudah memaksanya tapi tetap! Aku masih tidak bisa menjauhinya apalagi harus melupakannya!” tegasku.
                Kulihat Bang Afran meraup wajahnya dengan gusar, “Abang tidak mau kamu masih gadis SMP seperti ini harus merasakan pedih, karena kamu sebenarnya harus merasakan hidup yang lebih bahagia, kamu tidak pantas berada diposisi seperti itu Sa! Abang tidak terima!” tukas Bang Afran senambi  membentak.
                Aku bungkam, “Abang itu sayang sama kamu Sa, Abang tidak mau adik abang satu-satunya harus seperti ini” ujarnya dengan penuh kasih sayang.
                Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi setelah Bang Afran berkata seperti, yang aku lakukan hanyalah pergi dari hadapan Bang Afran. Aku sedang muak dan bercampur bingung, entahlah… aku bimbang. Diantara menjauhi Adrian atau bertahan.
“Raisa! Raisa!” teriak Bang Afran.
                Aku mencoba untuk tidak memedulikan teriakanya, aku hanya ingin beristirahat penuh agar aku bisa berpikir bagaimana caranya untuk mengatasi masalah ini.
                Sampai dikamarku, dan sudah membersihkan badanku. Aku sengaja untuk rebahan diranjang dan menatap langit-langit kamarku, aku menangis tapi tidak dengan suara. Suara Bang Afran pun masih menggema ditelingaku.
“sebenarnya aku juga ingin menjauhinya, tapi… aku tidak bisa Bang. Karena aku tidak bisa untuk jauh dari Adrian, ini kesempatanku untuk bisa bersama Adrian walaupun dia tidak mau”
“kamu masih SMP sa, masih panjang perjalanan hidup kamu. Apa Cuma Adrian? Masih banyak lagi ‘kan?”
“perasaan itu tidak bisa dipaksa Bang, aku sudah memaksanya tapi tetap! Aku masih tidak bisa menjauhinya apalagi harus melupakannya!”
“Abang tidak mau kamu masih gadis SMP seperti ini harus merasakan pedih, karena kamu sebenarnya harus merasakan hidup yang lebih bahagia, kamu tidak pantas berada diposisi seperti itu Sa! Abang tidak terima!”
“Abang itu sayang sama kamu Sa, Abang tidak mau adik abang satu-satunya harus seperti ini”
                Benar semua kata Bang Afran, namun aku mencoba untuk menenangkan segalanya yang sedang aku rasakan.
*
“Adrian! Kamu keterlaluan yaa? Ngapain kamu pergi bersama Jessica hah! Seharusnya kamu jaga perasaan dengan Raisa! Apa kamu tidak tahu kalau…”
                Aku menghembuskan nafasku, “Bob, aku main kesini bukan untuk membahas Raisa, aku kesini ingin bersantai denganmu. Sudahlah, tidak usah membelanya” ucapku penuh santai walaupun aku benar-benar muak sekarang.
“Yan, Raisa sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masalahmu, bahkan dia orang lain, dia bukan siapa-siapa! Dia tidak tahu dan tidak bersalah!....” dia sejenak berhenti.
                Lalu, dia berkacak pinggang dengan menatapku, “sebenarnya apa sih kemauanmu! Sudahkah belum puas dengan menyakiti satu perempuan? Apa motto kamu Yan?” katanya.
“Bob, kamu punya Adel. Tapi kenapa kamu sungguh-sungguh sekali membela Raisa… apa kamu menyukainya?” sontak perkataanku membuatnya terkejut.
                Dia awalnya menggaruki tengkuk leher yang tak gatal itu, “aku membelanya karena dia sama sekali tidak tahu apa-apa! Dan kamu pengecut yang sudah membuat hidupnya sengsara, kamu bukan tuhan. Seenaknya mempermainkan hidup orang lain!” bentaknya, lalu dia masuk kerumahnya sambil membentak pintu.
                Aku hanya menghembuskan nafasku dalam-dalam, dan menuju kerumah dengan semua yang masih melekat dipikiranku hingga rasanya telinga ini benar-benar panas, terus mengiang perkataan orang terdekatku dari Yoona hingga Bobby, karibku.
                Sampai dirumah aku tiba-tiba saja sudah dihadang Ayah yang berdiri tegak, dia memasukan sakunya kedalam celana, wajahnya menatapku datar.
“Adrian” sahutnya.
                Kini kepalaku mendongak kearahnya, “besok bawa pacarmu kerumah, untuk makan malam bersama” ujarnya dengan datar.
                Alisku berkerut, darimana Ayah tahu Raisa. Kenapa tiba-tiba saja ia berkata seperti itu seolah-olah memang dia sudah tahu, aku hanya diam dan meneruskan jalanku untuk menuju kekamar. Beribu pertanyaan yang masih memutari otakku begitu banyak, soal ayah tadi membuatku penasaran apa yang terjadi sebenarnya.
Ya sudahlah, tidak penting mengurusi hal itu…
KLEK!
                Ketika aku membukan knop pintu, terdengar suara kecil yang membuatku harus terhenti. Disana terlempar kado besar, tapi kelihatannya isinya enteng dan ya mengapa bisa sampai terlempar. Aku perlahan mengambilnya, kado berwarna merah hati dengan pita yang berwarna cream.
                Diatasnya terdapat sebuah tulisan ‘give it for your girlfriend’ . sepertinya ini dari ayahku, kenapa bisa dia membelikan sebuah gaun yang  begitu mahal untuk perempuan yang sama sekali tidak kusukai.

                Dan sampailah dipagi hari ini, aku benar-benar malas untuk masuk sekolah namun ya begitulah. Dengan jalan yang begitu malas, aku berjalan untuk kebawah rumah. Mungkin aku berangkat jam sekarang sajalah, dengan berjalan kaki pasti sampai sana seperti biasa aku berangkat. Dengan mau tidak mau aku  berjalan, tapi tak lupa aku memasukan kado ayah kemarin untuk Raisa.
                Tidak lama sudah aku berjalan, nyatanya sudah sampai didepan gerbang sekolah. Benarkan dugaanku, aku akan sampai disekolah seperti biasanya. Kini aku berjalan agak cepat untuk sampai kekoridor kelas Raisa, mumpung tidak banyak yang masuk sekolah jadi tidak akan melihatnya. Sampai disana, mula-mula aku berhenti diambang memastikan tidak ada siapa-siapa, ya Raisa dan Adel sudah ada dikelas, mereka berdua sedang berbincang-bincang ria.
“hmm, Raisa!” panggilku, dia menoleh.
                Ya seperti biasanya, wajah Raisa akan berekspresi seperti orang takut jika aku yang memanggilnya. Dia berlari kecil menuju dimana aku berdiri, sebenarnya aku tahu dia malu dan kaku denganku, namun aku tak memedulikannya.
“ini untukmu” kataku sambil menyodorkan kado tersebut.
                Dia pun segera mengambilnya tapi, “haaa so sweet! Woy guys! Lihat sini, Adrian ngasih kado ke Raisa coba! Woy sini!” teriak cewek Toa itu.
                Mataku melotot, ketahuan. Aku benar-benar kesal dengan ini, aku bahkan sudah berusaha untuk tidak ketahuan siapa-siapa tapi nyatanya… gara-gara cewek tadi membuatku ilfeel sendiri. ingin sekali membekap mulutnya yang toa itu, tidak malu apa berteriak dipagi hari. Dengan kekesalanku ini, sudah kulihat gerombolan anak-anak lain sudah berada disini, membuatku semakin kesal.
“ciieeeeee…….” Sorak mereka.
“waaah, aku juga dong Adrian masa Raisa doang sih”
“hih, aku pengen kaya gitu”
“kapan aku kaya gitu?”
“haaah, pengen punya pacar tapi gak dapet-dapet, huuh! Sebel!”
                Gumaman demi gumaman dari gerombolan ini jelas terdengar oleh telingaku. Entahlah, aku merasakan bahwa aku sedang melayang? Benarkah itu, tiba-tiba kepalaku menggeleng, itu tidak mungkin. Jangan kesampean, aku tidak mau.
“siapa yang ngasih kado? Dan siapa yang nerima?” ucap suara itu membuat semuanya hening.
                Dia keluar dari kerumunan dengan dua karibnya, iya dia Jessica. Lalu dengan percaya diri, tangannya melipat dan menatapku dengan Raisa bergantian.
“oh! Jadi kamu ngasih kado ke Raisa, huuuh…” ucapnya dengan nada sinis.
                Tapi awalnya aku membiarkan dia mendekatiku dengan Raisa, namun tiba-tiba dia merebut kado itu dan membuka isinya.
“wow! Gaun mahal ternyata… apa kalian mau kencan, hah?” ujarnya.
                Setelah itu dia menatapku dengan Raisa, “tapi itu tidak akan terjadi!”
SREK!
                Kita semua dibuat melongo karena aksi yang satu ini, dia benar-benar nekad. Membuatku harus tidak percaya, dia perempuan galak. Aku tidak tahu dia benar-benar segalak ini.
“lihat ‘kan?  Kencan itu tidak mungkin bisa terjadi!” lalu dia menginjak-injak gaunnya.
                Aku meringis melihat gaun malang itu, “rasakan ini, jalang!!” dan Adelpun ikut beraksi dengan menyiram air minumnya ke Jessica.
                Aku melihat dia terkaget, “sudah kubilang ya jalang, jangan coba-coba ganggu sahabatku! Rasakan ini sekali lagi!” dia benar-benar marah sampai dasi yang dipakai Jessica harus ditariknya.
“kamu!!” bentak Jessica.
“apa hah! Makanya, kalau tidak mau merasakan hal itu seharusnya kamu itu pikir dong! Punya OTAK gak sih!” teriak Adel dengan menunjuk kepalanya.
                Dia Adel, kini berkacak pinggang “satu sama jalang! Sadar ‘kan, apa yang sudah kamu lakukan kepada Raisa. Tidak lihat luka pisau yang sengaja kamu sayatkan ini! dan hari ini giliranmu merasakannya!” semuanya bersorak.
“what!, jadi Jessica nyiksa Raisa nih maksudnya? Wah, dasar jalang emang!” tutur salah satu dari gerombolan diikuti sorakan.
                Tapi setelah itu Jessica pergi meninggalkan gerombolan ini, diikuti dua karibnya. Sedangkan gerombolan ini juga berakhir, aku pun ikut meninggalkan tempat ini. aku sengaja meninggalkannya karena aku rasa sudah cukup.
*
KLING!
FROM : ADRIAN
Kamu tetap kerumahku, pakailah pakaian yang menurutmu nyaman.
“Adel…”
                Aku sengaja memberikan ponselku ini kepada Adel, karena aku bingung harus menjawab apa kepada Adrian. Ya, sebenarnya pesan ini sudah lama sekali, bahkan sampai aku sudah berada dikamarku bersama dengan Adel. Pesan ini sudah ada sejak istirahat pertama disekolah, tapi aku biarkan.
“balas saja, ‘ya’ sudah ‘kan?” katanya.
                Akupun mengikuti alurnya. Setelah membalasnya, aku mengambil pungutan gaun dan kado tadi ketanganku, diatas kado itu terdapat secarik kertas biasa yang menempel pada kado bagian atas itu.
Pakailah gaun ini, dan kerumahku untuk makan malam bersama. Datanglah tepat waktu.
“tak usah memandangi tulisan si Brengsek Adrian, percuma!” ketus Adel dan merebut kado tersebut.
                Setelah itu dia membuangnya, dan itu membuatku terkejut. Aku tahu Adel sedang benar-benar marah, dengan apa yang terjadi beberapa hari ini terhadapku. Dia bahkan antusias sekali jika aku berada disekolah dan sendirian tanpanya.
“apa kamu bisa mendandaniku?” tanyaku dengan ragu.
                Dia menoleh kearahku, “kamu mau kesana, sendirian?” Tanya balik Adel namun aku menganggukan kepalaku.
“aku akan menemanimu” ucapnya membuat sukses harus terdiam.
“tapi tidak dirumah Adrian melainkan…aku akan main kerumah Bobby. Dan disana mungkin aku bisa menjagamu, jadi kalau ada apa-apa aku berada dirumah Bobby” jelasnya.
                Aku menghela nafas, “kamu begitu… ya maksudku. Kamu seperti pahlawan, kamu wanita sejati. Terima kasih Del, kamu memang sahabatku yang paling hebat. Terima kasih atas semuanya” kataku lalu memeluk Adel.
                Dan setelah itu dia benar-benar mendandaniku, memakai gaun sederhana ini. entah aku mau diapakan disana, tapi yang jelas sebelum hujan turun aku harus menyiapkan payungku, agar disana tak memalukan sekali, karena yang pasti Adrian bahkan sampai membelikanku gaun, berarti acara makan malam itu sangat membuatku antusias.
                Setelah selesai mendandani kini Adel mulai berdandan kasual untuk mengikutiku, dia memang sahabat yang baik, misalnya sekarang. Yang dia lakukan adalah serepot mungkin menurutnya dia akan melakukannya dengan kesabaran maksimal, membuatku selalu merasakan dia terbebani, karena dia menyayangiku. Akupun sebaliknya, bahkan sangat menyayanginya.
“apa kamu benar-benar ingin mengikutiku, dengan menuju kerumah Bobby??” dia mengangguk.
                Lalu dengan sigap dia mengambil Tas gendong kecil, dan memakainya dengan cepat. Kemudian, dia menatapku tanpa ragu untuk berangkat sekarang. Selain perempuan sejati, dia adalah perempuan cekatan.
“apa perlu aku tunggu saja disini, sedangkan kamu… mungkin disana ternyata sedang mengintai marabahaya” ucapnya dengan gaya bahasa yang agak membuatku risih.
“kamu sepertiku pacarku” ujarku.
                Tetapi yang dia respon adalah terkekeh, tidak lama dia menggaet tanganku untuk menuju kebawah. Katanya mobil sudah disiapkan, tinggal kita take up kerumahnya Adrian.
*
                Sampailah mobil ini dipekarangan rumah Adrian, dengan menuju tepat depan rumahnya, aku dan Adel masing-masing memandangi rumah sederhana ini. aku sungguh ingin pulang saja, aku takut jika didalam sudah sangat siap menerimaku sedangkan aku sendiri, aku masih gugup ya walaupun Adrian tidak sama sekali mengantusiaskan keberadaanku.
“berdoalah sebelum kamu masuk, hati-hati!” tegas Adel. Aku mengangguk.
                Lalu pak Ijal membukakan pintu penumpang dibagianku, diapun mempersilahkanku dengan lembut seperti biasannya. Aku meresponnya dengan senyuman yang lembut juga.
“selamat datang dikediaman rumah keluarga Valdiano” ucap salah satu dari dua pelayan tersebut.
                Yang tadi mempersilahkanku berambut lurus pendek, dan yang satunya sama namun badannya agak tinggi dia, mereka berdua tersenyum. Membuatku ikut tersenyum.
“silahkan masuk, nona” ucap yang agak tinggi.
                Dengan jalan yang begitu gemetar, aku terus mengikuti dua pelayan ini dari belakang awalnya mereka mengizinkanku untuk aku berada didepan mereka namun, aku bahkan menolak mentah-mentah izin mereka.
“hey, kak Raisa! Kamu sangat cantik, ayolah duduk!” teriak Yoona dari meja makan.
                Dia tersenyum lembut kearahku, aku pun juga tersenyum. Namun, tiba-tiba saja aku sengaja mengalihkan pandanganku kearah ayah Adrian dan Yoona, dia ikut tersenyum, aku juga membalasnya dengan senyuman yang sama. Dan kali akhir ini, aku memandangi dimana Adrian duduk, dia hanya menunduk. Tapi tak lama menatapku dengan wajah datar biasanya.
“kenapa pacarmu tidak memakai gaun yang sudah dibelikan yan??” Tanya ayah Adrian, setelah aku sudah duduk manis berhadapan dengan Adrian.
“dia tidak menyukai gaun itu” ucap Adrian.
                Awalnya aku ingin menjawab namun sudah terlebih dahulu dijawab oleh Adrian, membuatku harus bungkam karena jawaban Adrian benar-benar salah, itu membuatku kesal. Sedangkan Yoona, kini dia menatapku dengan alis berkerut.
“tidak, bahkan setelah kado itu diterima. Ayah tahu, gadis yang bernama Jessica? Dialah penyebab kak Raisa tak memakai gaun itu” ujar Yoona sangat menyolot karena tidak terima.
                Ayahnya kini yang bergantian berkerut, “maksudmu??” ucapnya.
“ayah, Jessica anaknya pak Jono itu sengaja merobek gaun untuk kak Raisa. Karena pada dasarnya dia menyukai kak Adrian, dia menyebalkan ayah. Bahkan, luka didagu kak Raisa itu karena disayat pisau miliknya” tegasnya dengan tukas.
                Aku melihat wajah Adrian yang geram dengan perlakuan adiknya, “sudahlah cukup Yoona!” bentak Adrian.
                Namun dengan bentakan Adrian, ayahnya melotot. Dia memperlihatkan wajah paruh baya yang tegas itu, membuatku takut. Aku juga takut jika ayahku seperti itu apalagi ayah Adrian. Mungkin dia benar-benar kaget dengan perlakuan anaknya sendiri. dengan begitu suasana berubah begitu hening dan senyap.
“kenapa kamu berani sekali membentak adikmu sendiri!” ketus ayahnya.
                Sekarang giliran Adrian menatap tajam ayahnya, “karena aku tidak suka dia mengada-ada!” sekaknya.
BRAK!
                Adrian marah, dia pergi menyisakan aku, ayahnya, dan adiknya dimeja makan ini. sedangkan ayahnya, sekarang hanya mengusap wajahnya dengan kasar. Dan kupandangi Yoona, dia menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
“maafkan aku, sudah menghancurkan acara ini” dia pun ikut meninggalkanku dan ayahnya.
“tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Karena sudah merepotkan kalian, aku minta maaf” aku berdiri dan sanggup berbicara.
                Kulihat ayah Adrian menatapku tak percaya, “karena masalah sepele seperti itu, membuat kalian harus bertengkar. Itu semua karena aku! Karena kehadiranku, aku minta maaf!” ucapnya, dan tanpa sadar air mataku menetes.
“kak Raisa jangan menangis, aku tidak tahu kalau perlakuan keluargaku membuatmu sakit hati. Kita minta maaf” ucap Yoona begitu lembut, dengan tangan yang memegangi tanganku.
“iya Raisa, maafkan keluarga saya. Dan maafkan tingkah laku Adrian” dia pun ikut berdiri dan tersenyum kepadaku.
                Namun senyumnya hilang sekejap, “sebenarnya kamu dan Adrian benar-benar ada hubungan atau tidak??” katanya dengan shock.
                Tidak hanya ayah Adrian, aku dan Yoona pun ikut shock mendengar ucapan alias pertanyaan mengejutkan itu. aku bingung harus menjawab seperti apa. Sedangkan mereka berdua kini sudah menungguku untuk menjawab.
“ayah, biarkan kak Raisa tenang” timpal Yoona.
                Ayahnya mengangguk, dia meninggalkanku dan Yoona disini. “Yoona, aku harus pulang” ujarku.
“kenapa pulang? Ini masih jam sore bukan?” katanya.
“aku tidak mau berlama-lama disini, aku harus pulang” elakku.
                Akhirnya Yoona mengangguk, walaupun aku sedikit tenggang rasa dengannya. Mungkin dia ingin berbincang denganku namun kali ini aku tidak bisa. Aku harus pulang agar melupakan semuanya malam ini.
*
Tiga bulan kemudian…
                Setelah kejadian dimalam hari itu, aku benar-benar vakum dengan semuanya yang berhubungan dengan Adrian. Yoona pun aku tidak pernah bertemu, aku hanya selalu bersama Adel, selama tiga bulan ini. aku begitu sudah berniat untuk melupakan semuanya. Awalnya aku sudah berpikir, setelah kejadian malam itu aku ingin memutuskan hubungan ini kepada Adrian. Namun aku tidak berani dan inilah salah satu cara untuk menjauhkan aku dan melupakan hubungan itu.
“Raisa, apa kamu tidak dengar kalau Adrian sudah jadian dengan Jessica!” ucap Dinda.
                Dia juga teman sekelasku, bahkan selama kurang lebih dua tahun ini berteman dekat dengannya. Karena dia gadis yang cermat untuk diajak berbicara, dan sangat supel sekali.
“aku tidak tahu” dia melongo.
“apa!! Yang benar saja, apa kamu sudah putus dengan Adrian? Apa yang terjadi Raisa?” ucapnya begitu antusias.
                Aku hanya menatapnya dengan datar, walaupun sebenarnya aku sakit sekali mendengar berita bahwa Adrian sudah jadian dengan Jessica, bukannya hubunganku dengan Adrian sama sekali belum ada yang memutuskan. Apa yang sebenarnya terjadi selama tiga bulan ini.
“aku tidak menyangka Adrian Playboy, aku kasian denganmu. Tapi aku sangat Respect sekali dengan hubunganmu itu, kalian sangat cocok walaupun tidak selalu terlihat bersama” ujarnya dengan tersenyum.
                Aku kaget dengan ucapan Dinda, kenapa dia memuji hubunganku. Aku bahkan tidak sama sekali menganggap ini sebuah hubungan antara aku dengan Adrian, melainkan aku yang dipermainkan oleh Adrian. Bahkan aku sampai menyesali itu semua sampai aku bermuslihat untuk membenci Adrian karena perlakuannnya terhadapku.
Tapi apanya yang cocok?
“apa benar seperti itu beritanya, Dinda??” Tanya Adel yang tiba-tiba saja datang.
                Kulihat Dinda mengangguk, “bukannya yang nembak duluan Jessica? Bukan Adrian ‘kan, kemarin dilapangan basket iya ‘kan??” lanjut Adel.
                Mataku melotot, aku lega mendengar bahwa Jessica lah yang menembak duluan Adrian bukan Adrian. Berarti aku lebih dihargai ketimbang harga diri Jessica yang mudah sekali itu.
“iya benar, tapi aneh.. bukannya Adrian belum putus dengan Raisa yaa? Tapi kenapa dia menerima Jessica, apa yang terjadi ‘kan??” ucap Dinda begitu intens.
                Sedangkan aku dan Adel hanya menatap bergantian, aku tahu maksud Dinda. Dia curiga dengan masalah ini, apa jangan-jangan dia akan melakukan hal nekad setelah tahu masalah ini? apa yang akan Dinda lakukan? Aku menghembuskan nafasku dalam-dalam.
“sudahlah, tak usah dipermasalahkan. Toh mereka sudah bersatu, buat apa diributkan? Hanya menguras emosi saja” ucapku lalu meninggalkan mereka berdua di kantin ini.
                Didalam aku berjalan menelusuri koridor demi koridor kelas ini, semua anak-anak benar-benar melihatiku penuh keanehan, apa yang terjadi ‘kan? Bahkan ada juga yang tiba-tiba saja tersenyum kepadaku walaupun aku sama sekali tidak mengenalinya. Tapi aku mencoba untuk tidak memedulikan tatapan mereka, aku hanya ingin kekelas dan duduk manis disana, menunggu bel masuk.
“apa yang sebenarnya terjadi yaa??”
“kenapa Adrian setega itu dengan Raisa?”
“hiih, aku jijik deh sama pernyataan Jessica kemarin. Dia tidak tahu diri”
“ini benar-benar membuatku merasa kasian dengannya, dasar cowok pengecut!”
“dua-duanya sama-sama gatel, kepengen pacaran aja sampai segala pakai perantara orang lain, gak tahu diri banget jadi bocah! Gak nalar tuh Adrian sama Jessica, amit-amit dah!”
                Gumaman dari anak tiap anak terdengar jelas ditelingaku, hanya saja aku tepis semua perkataan mereka. Itu hanya akan membuatku kesal sendiri.
“apa ingin bersatu harus mengorbankan perasaan yang lain, bukannya itu sama saja dengan egois? Mereka berdua egois, ya! Tanpa tahu dan sadar atas perlakuan mereka. Mereka telah menyakiti hatimu. Aku turut berduka Raisa” kata Dandy.
                Aku menyerngit, “kamu terlalu lebay Dan, aku biasa saja kok? Tak usah dipikirkan, sudah berlalu” ucapku, dia tersenyum lembut.
“tapi mereka jadian sedangkan kamu dan Adrian belum putus ‘kan??” ucapnya dengan intens.
                Mataku berkedip-kedip tak karuan, “aku sudah putus kok Dan” dia menatapku seolah-olah berkata ‘yakin?’. Dan akupun mengangguk.
                Perjalananku kembali ku lanjutkan untuk menuju ke kelas, namun tiba-tiba saja gerombolan Jessica dari kejauhan terlihat, mereka berjalan cepat. Sepertinya mereka akan menuju kepadaku, dengan segera kakiku kuarahkan untuk menjauh dari gerombolan itu, kalau saja bertemu dan bertengkat dengan mereka hanya akan memakan hati sendiri.
“HEH! Mau lari kemana kamu!” teriaknya.
                Aku tetap berlari kecil untuk menjauhi mereka, dan tetapi tubuhku tiba-tiba seperti ada yang membawanya, aku seperti diambil seseorang untuk mengumpet di tempat ini.
“sssttt, jangan berisik nanti ketahuan” bisik orang tersebut.
“siapa kamu??” lirihku.
                Tangannya membekap mulutku, karena sudah terdengar telapak kaki kasar menuju kearah sini. Sepertinya gerombolan Jessica.
“dia kemana sih! Sialan banget itu cewek, hari ini bukannya berhasil buat dia sengsara, tapi kenapa gagal?” itu suara Jessica.
“ya sudah, besok kita habisi dia! cuss Guys!” lalu mereka benar-benar pergi.
                Aku dan orang itu berdiri tegak tapi tenang seperti biasanya, kita membersihkan baju kita masing-masing, karena tadi mengumpet ditempat yang agak kotor.
“terima kasih sudah menolong….” Ucapanku terhenti ditengah-tengah sambil menatap orang yang menunduk membersihkan badannya.
“sudah menolongku” lanjutku.
                Dia mengarahkan kepalanya kepadaku, lalu tersenyum lembut. Ya allah, senyumnya manis sekali. Apakah dia anak baru disekolah ini, dia seperti orang asing alias Bule, matanya yang biru itu menunjukannya bahwa dia bukan asli orang Indonesia. Dia blasteran, wajah tirus dan lesung pipit dipipi kirinya menambah kesan manis dengan kulit putih sekali. Badannya yang tinggi membuatnya seakan nilai tambah buatnya, rambutnya yang terlihat lembut itu.
“hey! Kenapa bengong?” aku tersentak sambil nyengir tak jelas.
                Dia tersenyum….lagi? “namamu Raisa bukan? Aku Marvelin Diaz Pradinata, salam kenal” ujarnya sambil menyodorkan tangannya.
                Mataku berkedip beberapa kali, lalu menerima jabatan tangan darinya.
“kamu mengenaliku??” dia mengangguk.
“aku baru pindah beberapa hari ini tapi aku sudah mendengar beritamu” jelasnya.
                Aku ber Oh ria lalu, “tadi namamu siapa??” tanyaku sekali lagi.
“Marvelin Diaz Pradinata, panggil saja aku Diaz” tukasnya.
                Aku mengangguk sambil tersenyum, dan ketika itu juga kita berpisah. Itu pertemuan pertama aku dan anak baru itu, anak baru dengan sejuta pesona itu. ya allah, aku beruntung sekali diselamatkan anak baru itu.
*
“Adel, dia sangat tampan!” aku terus berteriak membuat Adel bosan mendengarkanku.
                Tapi kini dia benar-benar mau menatapku, “kamu sudah bisa Move on dari Adrian? Bagus!” hanya itu.
“ya benar katamu Raisa, dia memang blasteran. Dia adalah sahabat Adrian, itupun ujar Bobby kepadaku tadi di SMS” mulutku menganga.
“jangan membuatku tak yakin untuk berteman dengannya Del??” dia mengangguk.
“yang benar saja!” elakku.
                Kepalaku otomatis menunduk, “aku takut jika dia benar-benar sahabat Adrian, berarti sikapnya tak jauh dari Adrian” jelasku.
                Kulihat samar-samar Adel tersenyum ,”apa kamu berharap ingin dekat dengan Diaz? Kamu tak usah takut dengannya, dia dekat hanya dengan Bobby, ya walaupun dekat juga dengan Adrian” ucapnya.
“tapi besok kita menerima Raport dan insya allah kita pasti naik kelas 9” ucapku beralih informasi.
                Dia hanya mengangguk, “semoga aku masih diposisi itu” gumamnya.
“dan aku akan melebihimu, yeh!” teriakku membuatnya tersentak kaget.
“efek dari Diaz masih nempel sama kamu, begitu bahagianya kamu hari ini” ucapnya membuat aksiku terhenti.
                Setelah itu aku hanya tiduran sambil menonton TV, acara yang biasa ku tonton malam hari itu kalau tidak kartun pasti nyetel DVD. Ya, aku tidak suka sinetron bahkan drama asia seperti halnya, aku hanya suka film kartun dan Box office. Dan Box Office  nya pun tidak sembarangan, aku juga hanya menyukai Box Office yang bergenre Action.
“apa kamu tak capek menatap layar monitor seperti itu, Del??” tanyaku masih menatap layar TV.
“dan yaa, apa kamu juga tidak capek menatap layar TV seperti itu?” Tanya balik Adel.
                Aku mencibir dalam hati, pasti seperti itu jawabannya. Ya seperti biasa kalau Adel sudah menginap dirumahku, padahal aku dan dia bertetanggaan namun tetap, kita bahkan hampir setiap hari tidur bersama. Apalagi hobby Adel yang jago sekali bermain Games apapun itu bentuknya. Walaupun kita punya hobby yang berbeda, kita masih punya kesamaan yakni menyukai Tokoh Anime dari jepang, semua yang melekat pada kami berdua adalah Anime, mulai kostum, hiasan, dan film-filmnya.
Kurasa aku telah membocorkan rahasia ku… menyukai Anime? Heheh…itu bukan rahasia. Itu hanya sekedar penjelasan bahwa aku dan Adel memiliki kesamaan favorit.
“bagaimana dengan Games chat –mu Del?” kataku untuk mengetahui.
                Ya, aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan group games chat buatan Adel, dia sangatlah tergila-gila dengan Games. Mungkin aku rasa, dia sudah jadi Gamers, karena dia benar-benar sudah bisa menghasilkan uang. Sedangkan aku juga sudah menghasilkan uang walaupun sedikit, dari kemauanku membuat kerajinan tangan, tidak hanya itu dengan aku bermain piano biasanya aku dipanggil disebuah acara untuk mengisi, yaa sebut saja pekerjaan per proyek. Dan bahkan aku sudah menerbitkan beberapa buku novel kecil-kecilan.
                Awalnya itu semua dari Hobby aku dan Adel masing-masing, maka dari itu membuahkan hasil yang memuaskan.
“hmm, lumayan berkembang. Banyak yang minat masuk” ucapnya.
“WOW! Games seperti apa yang kamu buat digroup itu” ujarku.
                Kini aku berjalan mendekatinya yang sedang menatap layar monitor begitu pukat.
“ya semacam detective” aku kembali berkata ‘WOW’ untuk kesekian kalinya.
                Dia mematikan PC itu dengan cepat, “kamu tahu, Diaz juga masuk. Dia menginisialkan dirinya sebagai DI45 (DE I FOUR FIVE) , kamu tahu! Dia sangat jago sekali bermain games, membuatku kewalahan melawannya” jelasnya.
“hah, apa benar??” dia mengangguk pasti.
                Aku semakin mendekati Adel, ingin mengatahui informasi selanjutnya. Diaz benar-benar menghipnotisku, sungguh baru pertama kali aku bertemu dengannya, dia sudah membuatku seakan-akan dunia ini hanya akan mencari keberadaan apa yang dia sukai.
“bukannya saat bermain Games itu juga bisa berbicara dengan lawan kita??” tanyaku.
                Aku benar-benar kaget sekali, karena Adel melempariku dengan bantal kecil yang dipangkunya tadi. Sebal sekali rasanya, aku hanya ingin tahu saja tetapi Adel memang seperti itu orangnya, memberi informasi hanya setengah-setengah, tidak langsung semuanya membuatku penasaran jadinya.
“Raisa kamu tahu ‘kan arti dari GAMES CHAT??” aku mengangguk.
“ya jelaslah bisa, tidak lihatkah kamu setiap kali aku sedang bermain PS?. Aku memakai apa kalau sedang Games Chat?” lanjutnya.
                Alisku terangkat dua-duanya, “kamu akan memakai Earphone jika tidak itu, bisa saja kamu memakai Headphone yang memiliki Micro” ucapnya.
“sip!! Itu tahu!! Ayolah, kita tidur. Aku sudah benar-benar ingin memeluk bantal gulingku” dia sudah mengantuk.
*
                Setelah menerima raport, aku dan Adel benar-benar berkeinginan untuk mengunjungi kota tua, kita disana akan berfoto-foto ria. Tapi sebelum kesana kita harus memakai baju biasa, agar tak terlihat anak pelajar yang tidak baik.
“kira-kira di kota tua banyak pengunjungnya gak yaa??” gumamku entah dengan siapa itu.
“aku rasa tidak, karena belum mulai liburan panjang. Kan mulainya besok, paling besok Jakarta macet sekali” sahut Adel yang tiba-tiba sudah duduk di kursi kamarku.
“iya, ku rasa??” kataku.
                Akhirnya kitapun langsung Take up dengan diantarkan sopir pribadiku, kita berdua memiliki kesamaan suka jalan-jalan, tapi semua orang suka jalan-jalan. Oke, ini kesekian kalinya kita berkunjung untuk  menikmati suasana di Kota tua, Jakarta.  Disana asik pemandangannya, kota dimana dahulu itu.
“tapi Del, lihat deh! Ini juga udah mepet banget jalannya” kataku sambil melihati jalanan.
                Hilir para kendaraan yang begitu banyak, wara-wiri dijalanan ini. benar-benar, liburan panjang akan segera datang. Orang-orang yang ingin berlibur sengaja untuk mengisi waktu panjang itu dengan liburan, apalagi liburan ke Ibu kota, macet pun tak masalah buat mereka. Lihat saja kali ini, banyak sekali mobil pribadi dan Bus-bus Pariwisata.
“gak bisa lewat manapun, benar-benar” gumamku.
                Tangan Adel menepuk bahuku, “kamu sangat menyukai sekali pemandangan macet seperti ini” ucapnya.
                Kulirik sebentar Adel, dia tak menatapku melainkan menatap DS yang berada ditangannya. Dia sedang bermain DS, DS kesayangan yang selalu dibawa kemana-kemana itu, aku sempat berpikir bagaimana yaa suasana Adel jika sedang bertemu Bobby, apa Adel akan melakukan yang seperti dia lakukan selalu bersamaku. Aku tidak tahu, yang pasti hanya Adel dan Bobby yang merasakannya.
                Tak terasa perjalanan yang begitu panjang, sampailah kita di kota Tua itu. suasana yang banyak berhilirkan manusia. Mereka saling bercanda ria, mengobrol, atau groufi dan bahkan ada yang Selfie. Sudah cukup ramai, dengan orang-orang yang berkunjung ataupun dengan pedagangnya.
”wah, udah sekian lama kita gak kesini. Menurutku masih sangat menakjubkan” ucap Adel.
                Dia menarik tanganku, untuk berjalan kearah lebih dekat lagi. Senyum selalu mengumbar diwajah kita masing-masing, hari ini aku senang sekali. Bersama dengan Adel, merasakan kehangatan bahagia.
Persahabatan memang indah…

“hey, kamu kan bisa bermain gitar? Lihat deh, disana ada segerombolan orang bermain music, sepertinya seru lho!” girang Adel sambil menunjuk arah dimana gerombolan itu.
                Kepalaku clingak-clinguk mencari dimana segerombolan itu, mungkin menarik memang jika ada segerombolan music jalanan. Mereka kreatif, Adel terus menarik tanganku hingga akhirnya kita sampai pada kerumunan lautan manusia ini. mepet sekali kerumunannya. Tak sabar Adel melihatnya, dia dengan sekuat tenaga masih menarik tanganku untuk membelah walau secuil lautan para manusia ini.
                Hingga sampai disana kita berdua tersenyum lebar, melihat pemandangan indah didepan ini. mereka para pemusik jalanan sangat kreatif, memakai baju seragam yang sama, dan memainkan berbagai alat music untuk menghibur para penonton.
“tunggu disini!” ucap Adel membuatku harus menatapnya aneh.
                Dia berlari kecil menuju orang-orang yang berada ditengah itu, mereka bahkan tersenyum melihat Adel mendekati mereka. Lalu kulihat gerakan Adel yang aneh, dia berbisik kepada salah satu anggota pemusik tersebut. Setelahnya, dia menyodorkan jempol kepada pemusik tersebut.
                Dan kemudian Adel kembali lagi, “kamu ngapain tadi??” dia tak menjawab.
                Dan kulihat lagi orang-orang itu, mereka mengambil satu kursi dengan satu Gitar akustik, dan tidak lupa. Mereka juga menyiapkan Mic, sudah terlihat rapih salah satu dari mereka atau yang tadi berbisik dengan Adel, menuju kedepan.
“sepertinya ada yang mau menyanyi, apakah semua setuju melihat penampilan yang secara tiba-tiba ini, ini sungguh apresiasi dan antusias kepadanya. Dan kami persilahkan dia sekarang” tegasnya.
                Adel melirikku sambil tersenyum lebar, “dan dia cewek ternyata, WOW! Kita panggil untuk tampil didepan sini adalah Raisa!!!” teriaknya, membuat seluruhnya berteriak dan bertepuk tangan meriah.
                Mataku melotot, menatap Adel tak percaya. Yang dia lakukan membuatku tidak bisa apa-apa selain melongo dan melotot kepadanya.
“dari namanya saja sudah kelihatan yaa, kalau dia penyanyi. Mungkin akan menjadi pengganti dari Raisa Andriana heheh… Ayo Raisa! Show your Skill!!” katanya lagi.
                Adel mengangguk pasti, semua orang berteriak meriah, “AYO! AYO! AYO! AYO! AYO! AYO!” teriakan itu membuatku semakin yakin untuk tampil ditengah sana.
                Akhirnya dengan langkah yang begitu pasti, aku melangkah walaupun sedikit gugup, sampai disana aku langsung menyambut gitar akustik itu. dan tersenyum kepada semua penonton.
“memangnya dia bisa bermain gitar? Huuh, paling suaranya juga kaya radio rusak!” tiba-tiba seseorang berkata seperti itu membuatku menoleh.
                Dia Jessica, namun karena dia berkata seperti itu. semuanya menyoraki dia, membuatnya mencibir. Dan tidak hanya Jessica, ada Yoona, Dinda dengan Adrian?? Bobby, dan Diaz. Dan masih banyak lagi orang-orang terdekatku.
“Come on Raisa!” aku tersenyum kikuk.
Jreng….jreng….jreng…
See you calling again…
(melihat kamu menghubungiku lagi)
I don’t wanna pick up no oh…
(aku tidak ingin sama sekali mengangkatnya)
I’ve been lying in bed…
(aku sudah berada di kasur, tidur)
Probably thinking too much ooo…
(memikirkan sesuatu yang begitu banyak)
Sorry i…. not sorry for the time…
(maaf aku ….tidak Maaf untuk kesekian kalinya)
I don’t reply, you know the reason why…
(aku tidak ingin mengulang kembali, kamu tahu alasannya kenapa??)
                Ketika itu juga semuanya bertepuk tangan meriah, dan dengan semangat aku terus melantunkan lagu slow itu.
Maybe you shouldn’t come back…
(mungkin tidak seharusnya kamu kembali)
Maybe you shouldn’t come back to me…
(mungkin tidak seharusnya kamu kembali kepadaku)
Tired of being so such…
(lelah menghadapimu)
Tired of getting so much baby…
(sangat lelah, sayang)
Stop, right now! You’ll only let me down…
(berhenti, sekarang juga! Kamu hanya akan membuatku sakit)
Maybe you shouldn’t come back…
(mungkin tidak seharusnya kamu kembali)
Maybe you shouldn’t come back to me…
(mungkin tidak seharusnya kamu kembali kepadaku)
DEMI LOVATO – SHOULDN’T COME BACK TO ME
                Terus melantun lagu itu hingga berakhir, itu membuatku tak sadar. Tak sadar sudah berakhir, semuanya tetap bertepuk tangan meriah sekali. Akupun tersenyum lebar.
“suaramu sangatlah bagus! Mengalahkan penyanyinya” ucap orang tadi, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
                Dia lalu tersenyum kepadaku, “hhm, aku rasa lagu itu untuk seseorang” ucapnya membuatku tersentak.
                Aku tahu makna lagu itu, lagu itu bermakna agar seseorang yang dulu ada dan kini berpisah, namun dia selalu menganggu lagi akhirnya ingin seperti dulu lagi. Tapi tidak bisa karena sudah cukup satu kali saja?, yaa sama saja dengan ketika dua orang memiliki hubungan khusus tapi akhirnya berpisah, namun diantara mereka ada yang ingin meminta balikan lagi, tapi tidak bisa.
“bukan, aku hanya sekedar menyanyikan seperti itu. ya, aku sedang menyukai lagu ini. bukan apa-apa” jelasku dengan ragu.
“yakin?” dia berkata seperti itu sambil menatap entah siapa dia?.
                Hatiku berdebar, saat tahu orang ini melihati Adrian. Apa dia tahu ataukah hanya tidak sengaja, yang pasti itu sangat membuatku gusar.
FlashBack ON
1 juni 2010
                Kemarin setelah aku mendengar bahwa Adrian sudah jadian dengan Jessica, dia menghampiriku. Katanya, aku harus bertahan. Tapi aku sudah tidak bisa menahan itu. akhirnya aku memutuskan hubungan itu hingga sampai sekarang, dia selalu menghubungiku layaknya pacar sungguhan. Sempat aku berpikir, bahwa sebelum ini terjadi, kemana saja dia? kemana jati dirinya?.
                Tapi tidak hanya itu, dia bahkan sudah beberapa kali bilang berjanji tidak akan seperti itu, tapi nyatanya itu semua Bullshit sementara. Dan bahkan dia sudah memutuskan hubungan itu dengan Jessica, setelah aku memutuskan hubungan.
“maaf Adrian, untuk apa? Aku masih gadis SMP, yang masih punya harapan panjang. Buat apa aku bertahan?” ucapku.
“maafkan aku, karena telah menyakitimu” katanya sambil menunduk.
“kenapa kamu memutuskanku Adrian? Apa yang sedang kamu rasakan?” rengek Jessica.
“aku bukan cewek model Jessica, aku masih punya otak” tindasku.
“semuanya sudah berakhir, tidak ada kata kita. Bahkan setelah kita lulus, kita tidak akan bertemu lagi” jelasku.
“tapi aku sudah terlanjur membencimu” teriakku.
“bukan hanya kamu, aku juga merasakannya” ucapnya.
“sadarkah kamu jika karmamu sudah mulai menyapamu!” timpal Adel.
“aku sebagai sahabat Raisa, tidak sudi! Jika Raisa balikan lagi denganmu, dia masih gadis SMP, masih panjang perjalanan hidupnya. Kamu juga!” tutur Adel.
FlashBack OFF
                Aku baru menyadari satu hal menyakitkan itu. awalnya aku menunduk, namun ketika orang itu tertawa, membuatku risih sendiri dan akhirnya kepalaku terpaksa mendongak.
“ada yang malu, ya sudah? Boleh kembali jadi penonton” ucapnya, aku mengangguk.
                Aku berjalan lesu menuju Adel, sampai disana aku menarik lemas Adel. Dia menurutiku, mataku memanas, serasa air mata ini ingin jatuh. Apa aku juga akan terkena Karma? Karena sudah membuat orang sakit hati juga, walaupun sepertinya iya. Akankah takdir itu datang bertubi-tubi ataukah perlahan tapi terlalu sakit untuk menjadi beban hidup.
“apa yang sedang menghampirimu, Sa?” kata Adel.
                Sekarang kita sudah duduk dipinggiran jalananan kota Tua, melihat Adrian tadi aku merasa bersalah. Aku takut dia dendam kepadaku, apalagi jika aku terkena Karma.
“Del, aku takut” ucapku.
                Ucapanku itu membuatnya menoleh, “kamu takut apa? Anjing, kucing, lalat, atau….” Aku menggeleng.
“bukan itu semua” kataku dengan sangat lemas.
“lalu kamu takut apa?  Bukannya kamu kan takut anjing, kucing dan terakhir lalat” jelasnya.
                Aku tersenyum tipis, dia masih ingat aku takut dengan hewan-hewan yang tadi dia sebutkan, sahabat benar-benar sahabat.
“bukan, aku takut jika Adrian sakit hati karena semua perkataanku Del. Aku sudah menyakitinya, dia akan marah kepadaku mungkin selamanya. Dan membenciku!” kataku begitu lirih.
“kamu itu gimana sih Sa? Apa kamu tidak sadar kalau Adrian bahkan lebih banyak menyakitimu, itu bukan masalah. Itu imbang artinya” jelasnya.
                Aku tetap menggeleng tak yakin, “aku takut Del….” Rengekku.
“tidak usah takut, masih ada aku” ucapnya sambil menepuk pundakku.
                Aku tersenyum, lalu setelah itu kita melanjutkan perjalanan menuju jalanan yang lain.
“kali-kali kita mengunjungi patung pancoran, itu adalah hal yang menakjubkan. Dan akan menjadi apresiasi kita Del, kita selfie disana? Dan banyak lagi yang kita lakukan bukan? Dan patung pancoran sebagai Background liburan, termenarik! Yeh!” dan saat itu juga tangan Adel menempel didahiku.
“apa ini efeknya?” dia menggeleng-geleng.
“mungkin tidak patung pancoran, tapi kita juga bisa ke Ragunan Zoo” ucap Adel.
                Aku mencibir, “tidak, oh ya! Kamu ‘kan ingin hmmm…. Honeymoon di Roma tuh, ingin bersama siapa? Bobby kah?” dan dia menoyorku.
“uuh…” rengekku.
“kita itu masih muda, jangan sampai berpikiran sudah dewasa Sa? Nikmati yang ada saja, kalau bisa aku honeymoon ke Roma. Nyawa kita belum tentu sampai disana, nobody knows, right!” alisku berkerut.
“maksudmu??” tanyaku.
“kematian kapan saja bisa terjadi, jangan terlalu berkhayal tinggi. Ingat dulu sama pencipta, dan berdoa setiap hari” bijak sekali ucapan Adel.
                Membuatku terharu  mendengarnya, “kamu benar, belum tentu kita hidup selamanya dan dihirukan dengan huru-hara surge dunia, karena kematian adalah masih rahasia Tuhan. Nikmati yang ada saja, sepertimu” ucapku sambil cengengesan.
“semua yang terjadi adalah anugerah dari Tuhan Semata, dia memberikan kita rezeki seperti ini sudah termasuk cukup. Belum tentu rezeki banyak tapi kita tidak bisa menggunakan untuk apa? Kembali lagi, nikmati yang ada saja” aku kembali tersenyum lebar.
“yaa, karena seharusnya kita adalah manusia Qonaah” lanjutku.
“dan Tuhan tidak suka orang yang sedih ataupun putus asa” katanya.
                Dia mengangguk yakin, “ya, karena jika kita selalu putus asa dia akan marah, apalagi sedih. Seharusnya kita berusaha untuk selalu yakin kepada diri kita, bahwa hari esok itu lebih baik dari sebelumnya, tidak tuhan yang memberi keindahan hidup kita, lalu siapa lagi? Kita harus berusaha setiap hari untuk lebih baik dan mensyukuri nikmat yang beliau berikan” jelasnya.
                Kita terus berjalan sambil bergandengan tangan, kita saling berargumen terus seperti itu, hingga tak sadar kita sudah ada didataran tinggi. Bukit kecil yang menonjol tiba-tiba membuat kita tertarik untuk memandangi pemandangan disekitar sini, melihat Sunset yang akan tenggelam.
“indah surge dunia yang diberikan Tuhan, dia sangatlah hebat dalam segala hal” gumamku.
“hey, Sa kamu tahu? Anak dari  hhmmm tidak maksudku …Mischa sudah keluar dari pondok, dan dia akan meneruskan SMA bersamaku, tentu denganmu juga” mendengar kata Mischa aku bergejolak.
                Ada rasa nyeri dihatiku kali ini. sakit hati dulu yang dia lakukan tiba-tiba saja menyayat dengan tajam dihatiku, Mischa Karina. Gadis solehah, namun perkataannya sungguh tajam, membuatku seakan-akan harus terus membencinya.
“dia akan kembali??” tanyaku. Adel mengangguk.
                Aku masih menatap kedepan, melihat kosong kearah Sunset. Mengingat wajah tirus nan cantik milik Mischa membuatku semakin sakit, dia yang dulu pernah membuatku sakit hati dan aku membencinya. Dia yang dulu selalu berkata manis didepanku nyatanya dibalik dari omongan manis itu adalah raungan singa bodoh semata.
“berarti dia akan sekolah disekolah yang sama dengan kita?” kataku kembali, Adel mengangguk.
                Ya, aku dan Adel akan berencana meneruskan sekolah berbasis islam. Kami berdua sudah yakin ingin merubah diri kami menjadi manusia yang lebih baik dengan masuk SMA islam, kita sengaja karena kita akan menggunakan seragam tertutup. Tapi seketika mendengar berita bahwa Mischa sepupu Adel akan kembali, apalagi dia akan bersekolah dengan aku dan Adel.
“jangan takut, dia pasti berubah. Awalnya pas aku mendengar dari ibunya, dan dia mengatakan bahwa Mischa sudah sangat begitu dewasa diumurnya yang masih muda” ujar Adel.
FlashBack ON
“ayah, siapa gadis kecil itu??” tanyaku.
“dia bukan siapa-siapa? Dia hanya anak tetangga” ujar ayahku.
                Sewaktu kecil dulu, tiba-tiba saja ada anak kecil diarea sekitar komplek ini. dia bahkan tidak sering terlihat, hanya saja aneh jika ada anak seperti dia dikomplek ini. bahkan orangtuanya pun tak diketahui siapa mereka? Namun dia selalu kerumahku dan berkata ‘AYAH’ kepada ayahku.
“ibu, siapa gadis kecil bernama Mischa itu bu? Kenapa dia juga memanggil ayah?” kataku sambil menangis.
“tenang dia hanya anak orang lain, bukan siapa-siapa?” kulihat wajah ibu yang juga menangis.
“dan sekarang aku tidak terlalu melihat Bibi Anisa” ujarku lagi.
                Ibu menunduk sambil menangis terus, dia bahkan menangis lebih sedih. Entah apa yang terjadi dulu, sungguh aku masih kecil dan tidak tahu apa-apa tentang siapa Mischa sebenarnya dikeluargaku, dan kenapa bisa dia memanggil ayah juga kepada ayahku.
                Namun setelah aku masuk SMP, aku sudah mengetahui siapa Mischa itu sebenarnya, awal aku naik kelas 6, tiba-tiba wanita paruh baya yang dulu sering sekali kerumahku untuk membersihkan rumah, kembali dengan tangisan besar. Membuat seisi dirumah ini sontak kaget.
“Mas Jhony, tolong! Bertanggung jawablah kamu semestinya, apa kamu tidak sudi dengan anak yang dihasilkan dari kelakuan bejikmu itu! dia ada karena kamu sendiri” teriaknya sambil terus menangis deras.
“aku tahu anak itu adalah kesalahan, dan lebih fatalnya lagi aku adalah seorang pembantu rumah tanggamu, jadi kamu seenak jidatmu mempermainkan hidupku dan menelantarkanku dengan anakmu sendiri!” dia terus berteriak.
                Aku yang melihatinya saat itu meringis, dan tak lupa aku menangis juga melihat dia berteriak seakan-akan sakit hatinya meledak malam itu juga.
“jadi, Mischa itu anakmu dan dia? mengapa kamu tampung dia dirumah ini. apa kamu tidak merasakan bagaimana putri kita Mas, dia terus dijahati karena anak itu! anak itu tidak tahu diri, karena dihasilkan juga tidak tahu diri!” kini giliran ibuku yang berteriak dan menangis.
                Sekarang dia dipelukan kakek dan nenek, sedangkan aku memeluk erat Bang Afran yang juga hanya bisa diam melihat ini semua.
“aku membencimu, seharusnya tahun kemarin aku benar-benar menceraikanmu!  Mungkin kali ini aku memang sungguh-sungguh” bentak ibu sambil mendorong tubuh ayah.
“dan aku akan mendapatkan hak asuh anakku, mereka berdua! Afran dan Raisa harus ada ditanganku, dan kamu! Teruskan rumah tanggamu dengan dia!” teriak ibu sambil menunjuk Bibi Anisa yang juga menangis.
“tidak, itu tidak akan terjadi” lirih ayah sambil menggeleng.
                Ibu memukul ayah sekeras mungkin , “lalu, dengan cara apa? Menyakiti hatiku” kata ibu.
“tidak Arni, aku sudah menikahinya secara diam-diam. Aku akan secara adil menghidupkan kalian berdua, dengan ketiga anakku” ucap ayah meyakinkan.
“tidak semudah itu!!” ketus ibu lalu meninggalkan kita semua.
FlashBack OFF                                                                                  
“aku… aku tidak tahu bagaimana sikapku saat dia akan tinggal dirumahku itu” kataku.
                Adel menghembuskan nafasku, “jadi, kamu belum mengetahuinya?” aku mengangguk pasti.
“kenapa kamu yang belum tahu? Tapi kok Bang Afran tahu?” katanya, aku menoleh.
“masa?” kataku lalu dia mengangguk.
                Aku benar-benar marah dengan Bang Afran, apa yang dilakukannya secara diam-diam itu membuatku sakit hati. Aku berdiri dan langsung berlari sekencang mungkin, aku mendengar Adel berteriak namun aku tak menghiraukan teriakan dari Adel tersebut.
                Sampai dirumah aku benar-benar marah, dan mengamuk sejadinya. Melihat mereka berkumpul, mereka keluargaku hanya tersenyum lebar kepadaku.
“aku benci kalian!” bentakku.
                Mereka semua tersentak, “kenapa Mischa kembali dan kalian tidak memberitahuku! Apa kalian sengaja? Apa karena Micha akan tinggal disini dan aku tidak akan dipedulikan lagi!, iya!” kataku lalu berlari menuju kamar.
“Raisa! Tunggu, bukan maksud kita….?? Raisa!!” teriak Bang Afran.
BRAK!
“Raisa, buka pintunya. Abang mau bicara kepadamu” lirihnya.
“tidak semudah yang Bang Afran kira, kejarlah Mischa ketimbang aku!” dengusku.
                Kudengar hembusan nafasnya, sangat terdengar jelas. Mungkin dia lelah dengan sikapku yang selalu seperti ini.
*
10 bulan kemudian…
                10 bulan sudah terlewati, namun Mischa belum juga datang kerumah ini bersama Bibi Anisa. Katanya dia akan kembali kesini jika memang benar-benar sudah lulus dari SMP dipondoknya itu, sedangkan aku sudah benar-benar akan melanjutkan SMA Islam. Tekadku sudah bulat.
                Semenjak kejadian keluargaku menyembunyikan Mischa akan datang kesini, hidupku berubah, penuh dengan kesepian dan keheningan. Bahkan Adel sampai berkata bahwa aku sudah berubah, dia bahkan sempat memarahiku karena sikapku yang dingin, yang tak seperti biasanya lagi.
“besok kita MOS, kamu harus menyiapkan semua bahan yang sudah kakak OSIS umumkan. Jadi, jangan sampai lupa, dan besok hari pertama kita memakai kerudung disekolah. Tidakkah kita harus merayakannya dengan bahagia” ucap Adel kepadaku.
                Dia menatapku penuh kegirangan, namun aku hanya menatapnya diam. Sempat aku lirik sebentar kearahnya, dia mengerucutkan bibirnya kesal karena sikapku.
Maaf Del, aku hanya sedang sungkan untuk kembali kepadaku yang dulu….lagi.
                Sampai sinar mentari pagi terbit, aku dan Adel masih terdiam dalam keheningan. Adel sudah mengertikanku sekarang, dia sabar menahan amarahnya yang selalu muncul dari wajahnya, kapanpun dia marah sudah terlihat dari wajahnya. Wajahnya akan berubah menjadi merah padam dan mulutnya selalu melengkung, dia akan cemberut.
“kita sudah sampai, apa kita langsung ke kelas??” Tanya Adel, aku hanya mengangguk.
                Sampai dikelas, kudengar kebrakan dari Adel yang duduk, “Raisa, mau sampai kapan kamu seperti itu? aku tahu besok Mischa akan datang” katanya.
                Kulihat dia menundukan kepalanya, merasa bahwa dia sudah lelah sekali dengan menghadapi sikapku.
“apa perlu aku merubah hidupku sendiri?” kataku dengan ketus.
                Dia melongo, “itu perlu Sa, kamu berubah semenjak mendengar Mischa akan datang dan kamu…. Kamu pun berubah sikap jika bersamaku. Kamu tidak lagi seperti kamu yang dulu” ucapnya terengah-engah.
“aku tidak bisa memaksakan posisiku yang sudah nyaman seperti ini, jika memang harus. Akan kulakukannya, tapi…. Tidak dengan pemaksaan” kataku.
                Adel melengos, “butuh kebiasaan untuk sampai ke titik yang sama” ucapnya, lalu pergi meninggalkanku.
                Awalnya kau terkaget dengan perlakuan Adel, yang kukira sudah keterlaluan itu. dia sangat marah, karena sikapku. Tapi aku harus bagaimana, akupun sudah mengatakan beberapa kali kepadanya, jika aku tidak ingin dipaksa untuk merubah Mindset ku seperti dahulu. Seperti ucapan Adel sendiri, ‘Butuh kebiasaan untuk sampai ke titik yang sama’
                Saat itu juga aku menghembuskan nafas begitu berat, kudengar suara sepatu yang akan masuk kekelas ini. seseorang mungkin sedang berjalan menuju kesini.
“lho, kok kamu tidak bersama Adel?” Tanya seseorang itu.
                Aku terpengarah karena mendengar suara berat, “Diaz….???” Lirihku, dia berjalan mendekat kepadaku.
“apa benar, kamu dan Adel sedang marahan? Apa yang terjadi??” katanya.
                Aku menggeleng, “tidak, kita berdua tidak sedang marahan. Hanya saja kita sedang sibuk masing-masing” ucapku mengada-ada.
                Dia menatapku seolah-olah berkata ‘YAKIN??’, aku mengangguk pasti. Walaupun memang benar-benar bukan itu alasan yang logis. Aku hanya ingin masalah itu aku dan Adel yang tahu.
“ayolah, aku sebenarnya tahu ada masalah diantara persahabatanmu dan Adel. Tapi kumohon, jika memang berat kamu bisa meminta saran kepada siapapun? Termasuk aku” ucapnya.
                Aku tersenyum manis, “terima kasih… akan kucoba” ucapku.
*
DEMI LOVATO – NIGHTINGALE
                Suasana dikamarku semakin menyeruak, membuatku panas sendiri. karena tahu hari ini Mischa dan Bibi Anisa akan kembali, hatiku gemuruh. Suhu badanku mungkin sudah bisa meledak, pipiku merah padam. Ada rasa marah menggumpal tercampur bersabar. Aku tidak mau keluar namun Bang Afran memaksaku untuk keluar agar dapat terlihat sangat menyambut salah satu keluarga yang hilang itu.
Bisakah masalahku berhenti kali ini? aku bosan.
“Raisa, ayo! Mereka sudah datang” kata Bang Afran.
                Aku berjalan malas mengikuti Bang Afran dari belakang, dalam hatiku masih bergemuruh tak karuan. Rasanya sekarang juga aku berteriak, agar mereka tahu aku benci keadaan ini.
                Sampai disana kulihat Adel sudah berbincang ria dengan Mischa, ada sedikit rasa iri saat melihat mereka tersenyum dan bahkan terkekeh kecil. Saat mereka menoleh kepadaku aku melengos, aku sengaja melakukan itu agar mereka tidak tahu kalau aku melihatnya.
“ayo Raisa, beri selamat datang” ucap Ibu.
                Aku menatap kedua orang itu ,Bibi Anisa dan Mischa. Mereka tersenyum, aku tersenyum kaku terhadap mereka. Lalu sudah begitu, aku meninggalkan semuanya. Mungkin mereka akan kaget dengan sikapku kali ini.
                Sampai dikamar aku berkaca dicermin besar milikku, aku menatap wajahku yang kini sudah memakai kerudung dan baju yang menutup seluruh tubuhku. Sengaja aku lakukan itu, karena aku tidak tahu wajahku sekarang seperti apa. Lihatlah, wajahku kusam dan tidak enak sekali dilihat. Air mataku menetes.
                Beberapa kali tanganku mengusap air mata itu, namun tetap mereka saling berkejaran jatuh, bahkan sangat deras sekali. Membuatku ada rasa enek harus melakukannnya berkali-kali.
                Hari demi hari kulewati, hanya sendirian. Tidak dengan siapa-siapa, kini Adel selalu bersama Mischa. Aku tidak punya sahabat lagi, selain diriku sendiri. berbicara pada hatiku sendiri setiap hari, membuatku lebih baik. Walaupun selalu ada rasa ingin berteriak dan membentak kepada Adel dan Mischa, mereka selalu membuatku muak karena tingkah mereka.
                Dan sudah termasuk hari kegiatan belajar mengajar disekolah yang baru ini, di SMA. Awal yang menyedihkan bagiku, karena tiada lagi yang bisa aku manfaatkan, kecuali menangis sendirian dikamar. Orang yang selalu ada kini berganti, iya aku selalu bersama Diaz. Dia bahkan selalu menyarankanku agar berbaikan dengan Adel, namun aku selalu menolak.
                Untuk apa? Ini semua karena Mischa, dia yang sudah mengambil semuanya dariku. Dia yang sudah membuat hidupku hancur berkali lipat, dia yang sudah merebut ayah dariku. Dia sudah merebut semua perhatian orang terdekatku, termasuk ibu dan Bang Afran. Bahkan kakeh dan nenek selalu lebih memilih berbicara kepadanya ketimbang aku lagi. Aku benci semua orang yang ada dirumah.
“Raisa, ibuku ingin berbicara denganmu” kata Mischa yang tiba-tiba saja datang kekamarku.
                Aku hanya menatapnya, sampai ibunya sudah berada didepanku kini. Kemudian, dengan cepat tangan ibunya itu menjambak rambutku.
“heh! Kamu kira kita tidak tinggal diam hah, sikapmu itu sudah keterlaluan! Ingat yaa, aku akan merebut ayahmu lalu aku akan membawanya kesuatu tempat dan akan selamanya disana bersamaku dengan Mischa, kita bertiga menjadi keluarga. Sedangkan kamu! Ibumu, Afran akan menderita. Rasakan itu bocah!” dia sangat kuat sekali menjambak rambutku dan melepasnya dengan membentak.
                Aku hanya bisa menangis dan menatap mereka. Aku melihat wajah ibu dan Mischa yang sinis kepadaku.
“dan ingat selalu, kamu akan segera merasakan hidup terlantar!!” Tukas Mischa.
                Dia masih tersenyum sinis, “aku akan mendapatkan perhatian semua orang, agar kamu tidak sama sekali dianggap mereka ada! Dan aku akan merebut Adrian dari kamu!” mataku melotot.
“apa pantas gadis berkerudung memiliki sikap bengis sepertimu!” ketusku.
                Kini giliran ibu Mischa berada didepanku lagi, “tidak usah membawa-bawa kerudung” tukasnya.
                Awalnya tangan Ibunya itu sudah melayang diudara namun aku tampis dengan cepat dan berdiri, hingga seimbang.
“jadi, selama ini anakmu benar-benar bengis! Dia memakai kerudung hanya untuk kedok semata! Kalian ini hanya pura-pura, kalian kesini hanya akan menghabisi harta ayahku,lalu mengambil ayahku! Dan kalian akan pergi dengan kesenangan kalian. Dan akan membuat aku, ibuku, dan Bang Afran menyedihkan!” teriakku.
                Dan Mischa menamparku sangat keras, membuatku harus meringis. “begini caramu!!” tukasku.
“itu kamu sudah tahu! Maka dari itu, berbaiklah kamu dengan kami atau kalau tidak, rasakan hidup yang benar-benar seperti di neraka!” Mischa membantingku ke dinding, tangannya mencekik leherku.
                Lalu mereka pergi dengan tertawa, tanganku memegangi leher, sakit. Lalu memegangi pipiku, rasanya seperti dijepret sesuatu yang begitu keras, sakit juga.
KREK!
                Tangisku mereda, mendengar pintu dari balkon terbuka. Ada siapa? Kenapa bisa ada orang yang masuk kekamarku melewati balkon. Aku berlari kecil.
“hah!......” kagetku.
                Orang itu membekap mulutku, karena memang tadi aku akan menjerit meminta pertolongan orang yang ada dirumah ini. namun dia, dengan cepat membekapku dengan tangannya yang besar itu.
“sstt……” bisiknya.
                Aku memberontak, “Adrian……” dia tersenyum manis.
“aku mendengar semuanya, maaf” ucapnya.
                Kemudian dengan senang hati dia langsung duduk, duduk dikursi yang ada dikamarku. Dia terus menatapku, akupun juga menatapnya.
“kamu tahu rumahku? Dari siapa? Lalu, kenapa kamu bisa tahu kamarku?” tanyaku bertubi-tubi.
“iya, ada deh? Insting” katanya.
                Dengan sigap aku mengambil bantal besar dan melemparnya kepada Adrian. Dia mengaduh, kurasa itu sangat sakit. Itu salahnya sendiri, kenapa menjawab tidak baik terhadapku.
“aku kesini hanya ingin bertemu denganmu, sudah lama aku tidak bertemu mantan yang sudah berbeda sekali. Dan bukan hanya itu, aku juga ingin bertanya kepadamu” katanya.
                Aku melengos saat dia menatapku, “Tanya apa!” kudengar kekehan darinya.
“apa kamu sudah jadian dengan Diaz?” Tanya Adrian.
                Aku menggeleng, “kenapa kulihat kamu sangat dekat denganya, itu membuatku cemburu” saat itu juga aku menoleh.
“apa aku tak salah mendengar ucapanmu itu” kataku.
                Dia menggeleng, “aku mengatakan yang… sebenarnya. Aku cemburu jika kamu berdekatan dengan cowok lain” katanya dengan seenak jidatnya.
“kamu sedang bercanda” ucapku antusias.
“tidak, aku sungguh-sungguh. Sebentar lagi, kamu akan merasakan dunia bersamaku dan tidak akan seperti dulu….lagi” aku menatapnya.
“aku sudah berkerudung, aku bukan halnya seperti cewek-cewek yang gampang untuk kamu rayu. Aku bukan cewek yang gampangan!” teriakku.
                Alisnya naik keatas, lalu tersenyum , “aku tahu, maka dari itu… aku akan menunggumu. Tapi mulai dari sekarang, aku akan mencoba berbaik kepadamu” aku menggeleng.
“itu tidak akan mungkin… terjadi lagi” tekanku.
                Awalnya dia akan memegangiku namun aku tepis, “tidak akan semudah itu, ingat! Adrian Valdiano!” bekisku.
                Dia terkekeh renyah, “tapi aku akan berusaha, Raisa dengar! Aku sudah sungguh-sungguh, kalaupun kamu memang sama sekali tidak memedulikanku, aku akan terus mencobanya” tuturnya.
                Dia tersenyum manis kepadaku, aku ingat sesuatu dari senyum itu. aku mempunyai satu foto saat dia tersenyum seperti itu, ini kedua kalinya dia menunjukan itu, tapi bedanya. Kali ini dia menunjukan senyum itu benar-benar kepadaku.
“pulanglah, sebelum ada yang tahu” tegurku.
                Dia mengangguk, “iya, jangan lupa jika ada sesuatu padamu mintalah pertolongan. Hati-hati dengan Mischa dan ibunya” tuturnya.
“eh, kenapa kamu akan lewat pintu menuju bawah rumah. Itu sama saja kamu bunuh diri” kataku.
                Dia benar-benar lewat depan, bukan melewati balkonku tadi. Tanganku menarik kerah baju miliknya.
“ada yang salah jika aku lewat sini?” aku mengangguk.
“dibawah sana ada banyak keluargaku, aku tidak mau menjadi masalah jika kamu lewat sana” dia mengangguk.
                Saat dia sudah akan menuruni balkon ini, “hati-hati, jangan sampai ketahuan. Dan jangan terlalu mengebut jika mengendarai kendaraan” kataku.
“kamu sangat perhatian kepadaku, tenanglah? Semuanya akan baik-baik saja, jika kamu masih ada” aku mencibirnya.
“hey, jangan keras-keras saat bicara” tegurku.
                Dia malah cengengesan tak jelas, “aku tidak enak jika tidak bicara dengan suara keras!!” suaranya malah bertambah keras, membuatku tersentak.
“ADRIAN!!!” teriakku, dia tertawa sambil melambaikan tangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar