PROLOGUE :
Ada
yang tahu ‘kah? Aku diam karena terlalu banyak jahitan dihatiku, menyayatku
habis-habisan. Hingga rasanya kaku untuk diperbaiki lagi. Ada yang tahu? Bahkan
mendengar hembusan nafasku pun tak ada yang tahu. Ketika cinta itu benar-benar
khianat, semuanya sendirian. Sendirian…. Merasakan senyap begitu menyuruput.
Sesak
hingga menusuk kedalam pori-pori, menusuk hingga darah berhambur-hamburan. Aku
lakukan seperti ini karena aku tidak mau, aku tidak mau semua orang mengetahui
kesakitan ini dan mengubahnya menjadi bulan-bulanan. Biar aku menjaganya,
walaupun berat dan enek kutimang. Ini adalah satu-satunya cara agar aku
terlihat biasa saja.
Menangis,
aku terus menangis. Siapa bilang aku tidak menangis, aku menangis setiap hari.
Setiap apa yang dia lakukan adalah kesakitanku, tapi dia tak tahu. Dia tak tahu
yang sebenarnya, apa yang harus dia lakukan pun dia tak tahu. Dia hanya seperti
orang asing, orang asing yang membuat hidupku hancur berkali lipat. Dan
sampailah rasa benci itu terhadapku, dia datang penuh sejuta rumus yang dia
lakukan.
Namun,
aku tetap diam. Melihatnya dirubung karma. Melihatnya yang begitu susah untuk
mendapatkan apa yang dia mau, lagi. Aku hanya akan diam dan melihatnya,
seolah-olah menuntunnya melewati batin masing-masing. Aku akan tetap diposisi
itu sampai dia memang benar-benar menggapaiku, memperbaiki semuanya hingga tak
ada sisa luka.
Ya,
tapi itu hanya sebentar. Sekejap kilat petir saja, dia melakukannya hanya
setengah, tak semuanya dia lakukan secara tegas. Dia tak lagi melakukannya, dan
kembali seperti keadaan sebelumnya, senyap merasuki hidupku lagi. Selama waktu
begitu lama, dia tak ada kabar. Sampai hatiku benar-benar rusak, sampai
benar-benar suara tangisanku seperti radio rusak. Dan memoryku terhadapnya
seperti kaset eceran. Itu semua membuatku semakin hancur, semakin hancur lebur.
Dan
seperti tak ada lagi jiwa dan ragaku untuk hidup, mungkin dia akan kembali
setelah karmanya benar-benar terpenuhi. Dan semuanya berakhir dengan tangisan
haru.
---
Ada yang mau ketemu
kamu, besok….
Kata-kata
itu terus mengiang dipikiranku, membuatku onar sendiri dikamar ini. ya, Adel
orang yang memberitahuku tentang itu. oke, aku masih gadis SMP kelas 2. Aku
merasakan seolah-olah mendengar ada yang akan bertemu denganku , itu membuat
nyawaku akan hilang.
KLING!
FROM : UNKNOWN
Besok kita bertemu
dilapangan basket belakang, aku akan menunggumu. Datanglah tepat waktu, karena
aku akan disana sekitar pukul 6 pas.
Hatiku
bertambah degupan, degup demi degupnya menandakan aku semakin takut, orang ini semakin membuatku gusar. Siapa dia?
kenapa tiba-tiba saja membuat hidupku seperti diombang-ambing. Ini sudah tiga
hari, dia menerorku. Sebenarnya, dia penculik ataukah… kepalaku menggeleng.
Tidak, tidak mungkin penculik, toh Adel sahabatku juga memberitahuku.
*
Dan
sampailah hari ini, hari dimana aku harus bertemu dengan orang itu. aku
hembuskan nafasku, menunggu ayah yang akan mengantarkanku kesekolah hari ini.
tapi, aku sudah terlambat 5 menit, bahkan sudah berlalu dari tadi. Aku takut
orang itu akan menerkamku jika aku terlambat menemuinya.
“ayah, cepatlah!” tuturku penuh penekanan.
Ayahku
hanya manggut-manggut lalu menyalakan mesin mobilnya, “kenapa kamu hari ini
terlalu buru-buru, biasanya tidak?” ucapnya ditengah perjalanan.
Aku
yang sedari tadi membengong, tidak. Aku tidak membengong, maksudku, aku sedang
memikirkan orang yang sedang menunggu dilapangan basket belakang itu.
“aku ada piket, yah??” kataku dengan ragu-ragu.
Dia
tersenyum lembut, “wah, kamu sangat rajin. Tidak seperti biasanya” aku ikut
terkekeh dengan ayah namun sangat garing.
Ya
akhirnya berbincangan antara aku dan ayah berakhir, berakhir dengan sampainya
kita didepan sekolah. Hatiku benar-benar tak bisa berkompromi, dia semakin
cepat memompa, dan membuatku kaku. Setelah keluar dari mobil, aku berjalan
tanpa pikiran jernih menuju lapangan basket belakang. Aku benar-benar akan
kehilangan nyawaku karena telat.
Dan
sampailah aku disana, tapi tidak ada orang. Kecuali cowok yang sedang bermain
basket, dia Adrian. Hanya dia disini, lalu sebenarnya dia dimana? Aku
benar-benar sudah terburu-buru, tapi nyatanya seperti ini. ya, aku begitu lemas
dan berbalik untuk kembali arah, aku akan masuk ke kelas.
“Hey!!” teriakan itu membuat kakiku terhenti.
Kepalaku
menoleh kebelakang, ya Adrian yang berteriak. Aku hanya menatapnya datar, namun
dia berlari semakin mendekat kepadaku. Membuatku tidak bisa apa-apa. Dan
akhirnya dia sampai, tepat didepanku.
“kenapa pergi??” aku hanya menggeleng.
Kudengar
hembusan nafasnya, “kamu telat, terlalu telat” ucapnya membuatku semakin
tertekan.
Mataku
berkedip berkali-kali, menatap cowok berbadan tinggi ini dengan penuh keraguan.
Aku malu, yaa intinya campur aduk terhadapku.
“maksudmu??” ucapku.
“aku orang yang menunggumu sedaritadi, tapi kamu datang
telat dan membuatku enek” ujarnya dengan santai.
Mataku
membulat tak bisa diragukan lagi, apa yang dia katakana tadi. Sontak membuat
hatiku meledak, benar-benar tak bisa dipungkiri…. Orang itu adalah… Adrian
Valdiano. Cowok yang aku suka sejak pertama kali masuk SMP ini.
“ya, aku orang yang ingin menemuimu” lanjutnya.
Aku pun
berhenti menegang, itu terpaksa, “jadi, apa alasanmu ingin menemuiku??” kataku
penuh keterpaksaan.
Astaga…dia membuatku
harus bungkam.
“aku ingin menemuimu, karena aku ingin kau menjadi milikku.
Dan tentu kamu harus menerimaku” ujarnya.
Alisku
berkerut, apa yang dia maksud? “maksudmu, kita…”
“pacaran”
Ya
allah, apa hari ini hari bahagiaku ataukah awal mula permasalahan. Dan akan
datang permasalahan lebih dari ini, apa hal ini yang akan membuat hidupku
berwarna ataukah pupus. Aku tidak tahu, tapi kejadian ini membuatku harus
bungkam dan dia meninggalkanku…sendirian.
*
Setelah
kejadian hari itu, aku merasakan biasa saja. Tak ada perubahan dalam hidupku,
ya walaupun sebenarnya semua orang sudah tahu bahwa aku dan Adrian sudah
memiliki hubungan khusus. Tapi kamu tahu, hari inipun aku tidak menemui
sosoknya, dikantinpun tidak. Di jalanan koridor, apalagi itu.
Itu
membuatku semakin gusar, aku bingung apa yang dimaksud Adrian kemarin.
Sebenarnya, dia benar-benar mengatakan seperti itu ataukah hanya sekedar
bercandaan. Apa mungkin dia bermain Truth or dare dengan para temannya. Aku
tidak tahu.
“ssst, itu Adrian” senggol Adel.
Tapi
kemudian kepalaku menoleh kearah dimana Adrian duduk. Dia duduk di tempat duduk
lapangan basket tersebut, ini bukan lapangan basket belakang tapi lapangan
utama sekolah ini. dia duduk ditepiannya. Ya, dia sedang berlatih untuk
mengikuti Tournament beberapa hari lagi. Dan info itupun yang memberitahu
adalah Adel.
Apa mungkin Adrian
benar-benar hanya bercanda kepadaku, dan aku terlalu dibuat sepertinya terjadi.
Lihat! Dia benar-benar biasa saja.
“hey! Kenapa Jessica mengelap keringat Adrian, apa dia
sedang membuatmu cemburu, dia benar-benar…” ucap Adel, membuat tanganku
menghentikan aksi mencaknya kali ini.
Kepalaku
alih-alih mencari Jessica, dimana dia katanya mengelap keringat Adrian. Hatiku
sesak seketika, apa aku pantas cemburu. Padahal aku belum tahu pasti apa
hubunganku dengan Adrian.
“Raisa, lihat deh! Kok bisa Jessica yang ngelap gitu, kenapa
bukan kamu??” ucap salah satu cewek yang berdiri disampingku tak jauh.
Aku
hanya menatapnya penuh kebingungan, aku tidak tahu. Aku tidak tahu, hey aku
masih gadis SMP. Bahkan aku tidak tahu caranya untuk menunjukan kasih sayangku
terhadap pacar, tapi sadarlah aku juda tidak tahu. Aku punya pacar atau
tidaknya? Aku bingung.
“aku harus memberinya perhitungan Sa, enak aja dia! semua
ini kan karena dia yang memulai, aku muak Sa! Aku muak, kalau ada cowok yang
berani-beraninya buat kamu sedih” tukas Adel penuh emosi.
Tapi
aku hanya tersenyum, aku menyembunyikan sakit hatiku agar tak terlihat. Aku
masih remaja SMP, aku ingat itu. bahkan perjalanan hidupku masih panjang, aku
tak usah membuat hal ini menjadi bulan-bulananku. Ingat, aku masih anak remaja
SMP, yang tidak tahu apa-apa.
“Del, kamu tahu. Aku juga tidak tahu kenapa bisa dia
tiba-tiba datang kepadaku, tapi ingat ,aku tidak akan membalasnya, biarkan
saja. Sepuasnya dia saja” ucapku.
“apa aku tidak salah dengar? Apa kamu mau disakiti
terus-menerus, awalnya saja sudah gak baik Sa, apalagi kedepanya” timpalnya.
Aku
menatap dimana Adrian dan Jessica kini berbincang ria, “Adel, aku tahu aku
menyukainya. Tapi jika caraku salah untuk menunjukan rasa sukaku, aku yang akan
tertimpa banyak masalah. Jadi, kumohon jangan coba-coba untuk melakukan sesuatu
tanpa aku tahu. Dan biarkan dia sampai sadar apa yang telah dia lakukan, karena
pada dasarnya aku bukan siapa-siapa” ucapku lalu berjalan cepat menuju entah
kemana.
Dan
hingga aku sampai di koridor Lab.Musik ini, aku berhenti dan duduk
dipinggirannya. Tapi aku kira dengan duduk saja aku akan cepat bosan, mungkin
aku harus masuk kedalam Lab. Musik. Itu lebih baik.
TING…
Suara tekanan
not Piano terdengar, membuatku berjalan penuh hati-hati. Siapa yang sudah ada
didalam Lab Musik ini? dia cowok atau cewek, membuatku semakin penasaran
akhirnya aku berjalan cepat.
“hmmm…..”
Sontak
deheman keras itu membuatku terlonjak dan terhenti akan aksiku. Kepalaku
mengalih kearah dimana Piano itu ditempatkan, di sana ada seorang cewek. Aku rasa
dia adik kelasku.
“hey, kamu kah yang bernama kak Raisa??” ucapnya sambil
tersenyum.
Aku
yang berdiri tanpa bergeming ini, hanya menatapnya tak dapat dimengerti. Tapi,
dengan ragu kakiku terpaksa ku angkat sekuat tenaga untuk mendekati cewek itu.
“iya. Namamu?” ucapku.
Dan dia
bergeser seakan menawariku untuk duduk disebelahnya, dan memainkan piano
tersebut.
“Yoona Valdiano” ucapnya dengan seutas senyuman.
Awalnya
aku kaget namun kini ku netralkan, “jadi, kamu adiknya Adrian” ucapku.
Dia
mengangguk, “iya, yang sekarang sudah menjadi pacarmu” katanya lalu menekan
tuts-tuts piano tersebut begitu lentik.
“apa hobbymu bermain piano??” tanyaku diselih-selih
permainannya.
“iya, aku sangat menghobbykannya. Bagaimana denganmu??”
katanya berbalik.
“wah, kita punya kesamaan. Aku juga menghobbykannya” ucapku.
Dia
menoleh kepadaku seakan tak percaya, “seharusnya Kak Adrian membawamu kerumah,
agar aku bisa battle denganmu. Itu ide yang bagus bukan??” ujarnya penuh
semangat.
Tapi
karena dia berkata seperti itu, membuat ingat sesuatu. Bahwa aku pun masih
bingung, entah aku sebenarnya siapa untuk Adrian? Siapa coba. Aku menghembuskan
nafasku.
“apa ada yang salah dengan perkataanku??” aku menggeleng.
*
“kak, aku ingin kakak membawa kak Raisa kerumah. Kamu tahu,
dia hobby bermain piano, aku ingin battle dengannya” ucap adikku itu.
Aku
hanya mendengarkannya penuh lesu, membuatku ingat. Ya, aku ingat bahwa aku
sudah mempunyai pacar dan itu sangat cepat, karena aku dan dia masih SMP. Aku
yang sedaritadi tiduran kini beralih duduk, dan menatap adikku. Ya Yoona, yang
sudah masuk dan duduk ditempat belajarku.
“aku baru ingat, kalau aku punya pacar” ucapku penuh
kejujuran.
Alih-alih
aku berkata seperti itu, adikku terkejut. “apa? Apa maksudnya kak??” ucapnya.
“kak, aku mohon. Jangan sakiti banyak cewek kak, kakak tahu
sendiri. kakak punya aku, aku cewek kak. Kakak, gak mau kan kalau aku juga
disakiti cowok macam kakak, gak ‘kan??” ucapnya penuh emosi.
Aku
tersenyum sinis, “salahnya sendiri, kenapa suka dengan kakak” dan kali ini pun
membuatnya harus menghembuskan nafas keras.
“kakak, jaga omongan kak! Please, sudah berapa banyak cewek
yang kakak sakiti hah? Apa kakak gila?” timpalnya membuat darahku meninggi.
“ini semua karena ibu! Maka dari itu aku benci semua
perempuan macam apapun, karena ibu!” bentaku.
Awalnya
Yoona terdiam, “kak, itu sudah lalu bahkan ibu sudah tidak ada lagi dalam
checklist kehidupan kita kak. Sudah tidak ada lagi, apa kakak gak mikir? Kakak
pasti nikah pun dengan cewek kan kak?” tegasnya.
“kakak tidak akan menikah…. Dengan siapapun dia!” tekanku
lalu menghentakan pintu kamarku.
Ya, aku
meninggalkan adikku Yoona. Dia benar-benar cerewet jika mempermasalahkan soal
cewek, ya aku tahu posisi dia.
Hingga
ragaku sekarang, berdiri dirumah karibku Bobby. Dia benar-benar orang yang
tepat untuk menjadi sandaran.
“Bob, kamu gak sibukkan??” dia menggeleng.
Dan
akhirnya aku dan Bobby terduduk ditaman miliknya. “pasti, kamu kesini ada
masalah. Kalau gak sama ayahmu, yaa sama Yoona. Iya ‘kan??” aku mengangguk.
Dia
menghembuskan nafasnya, “kenapa gak coba kerumah pacarmu??” tanyanya. Membuatku
menoleh.
“aku tidak mau” ketusku.
“sebenarnya apa alasanmu menembak dia? aku tidak mau semakin
banyak cewek yang kamu sakiti, semakin besar karma yang akan kamu hadapi man??
Hati-hati” ujarnya penuh keseriusan.
Kini
aku juga menatapnya lebih dari serius, “apa karena itu aku akan mendapatkan
Karma??”
“iya, itu jelas Yan. Aku pikir, sudah cukup. Dan jangan
sakiti Raisa, masalahnya dia cewek baik-baik, jangan permainkan dia Yan”
lanjutnya.
Kini
aku yang hembuskan nafasku, “salahmu mengenalkan aku dengan Raisa, katamu dia
benar-benar menyukaiku. Jadilah aku merasa itu menarik” kataku.
“sebenarnya, aku mempunyai rencana Yan. Aku ingin merubah
perlakuanmu terhadap cewek, aku tahu kamu trauma karena ibumu. Tapi, please.
Mungkin dengan aku perkenalkan kamu dengan Raisa, akan berbuah hasil” tuturnya.
Aku
terkekeh sinis, “Bob, Raisa mana bisa? Aku sudah memulainya dengan kebencian”
perkataanku itu membuat Bobby terkejut.
“ya allah Yan, seharusnya kamu confirm hal itu dong Yan.
Yan, rubahlah? Aku rasa. Kamu benar-benar akan mendapatkan yang setimpalnya”
dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
*
“ibu dengar kamu ada hubungan dengan anaknya Pak Valdiano??”
Tanya ibu tiba-tiba.
Ya,
kini aku berada dimeja makan. Aku sedang berkumpul dengan semuanya, tai
diselah-selah itu ibuku membuatku harus mengeluarkan kembali makanan yang akan
masuk kedalam mulutku.
“aku tidak tahu” dan ucapanku itu malah membuat semuanya
terkejut.
“kenapa kamu tidak tahu??” ucap Bang Afran.
Kakaku,
aku benar-benar lupa aku sedang berkumpul dengan semuanya. Aku benar-benar
bingung harus menjawab apa sekarang, tapi aku memang lebih bingung dengan
hubunganku.
“ya, maksudku… kalian tahukan aku baru pertama kali. Jadi,
beberapa hari setelah kejadian itu, aku masih bingung” ucapku dengan tergagap.
Malah
semuanya terkekeh, “ya ampun, keponakan tante yang polos ini? ternyata masih
kaku yaa soal begituan, ya semoga dengan kebiasaan kamu akan lebih tahu. Tapi,
tante mohon. Jaga harga diri kamu” tuturnya, aku mengangguk.
“ayah sebenarnya mendengar hal itu agak sedikit kecewa, tapi
disisi itu ada rasa senangnya. Kamu sudah mengenal cinta dengan kamu yang masih
siswa SMP? Tapi sisi senangnya, kamu sudah tahu memilih cowok yaa…. Dan benar
apa kata Tante mu Raisa. Jaga harga diri kamu” timpal ayah membuat semakin
merasa ada sesuatu.
Tapi
dengan itu aku menunduk untuk menyembunyikan rasa gugupku, aku benar-benar
seperti sedang melamar pekerjaan, dan tahap inilah aku sedang di wawancarai.
“tak usah gugup, memangnya sudah berapa banyak Adrian
memanggilmu sayang??” ledek Ibuku.
Membuatku
semakin plonga-plongo, aku benar-benar tidak tahu lagi harus melakukan apa dan
berkata apa, aku bahkan sepertinya sudah agak labil untuk menghadapi sesuatu.
Mungkin ini saatnya.Aku tersenyum kikuk mendengar ucapan ibuku, dipanggil
Sayang… tak tahukah. Memberi pesanpun tidak, apalagi harus memanggilku sayang.
Bertemupun seperti orang asing.
Setelah
makan malam tadi, aku langsung berlari menuju kamar. Hatiku benar-benar sakit,
aku harus apa? Apa aku harus bertanya kepada Adrian soal hubungan ini. tapi
sepertinya itu tidak mungkin, karena gak mungkin kan kalau Adrian akan membalas
Pesan ataupun telfon dariku. Jangan berharap yang aneh.
KLING!
FROM : ADRIAN
Besok kamu harus
kerumahku… jadi kita pulang bareng tapi kerumahku.
Sontak
itu membuatku senang tapi nyatanya isi pesan tersebut seperti ini. hal itu
lantas membuatku menjadi lemas kembali, tapi ada apa yaa kok bisa Adrian
mengirimi pesan, dan menyuruhku untuk kerumahnya.
Awalnya
aku ingin membalas pesan tersebut, tapi karena aku yakin sepertinya aku tak
pantas buat membalasnya lebih baik aku tidur saja. Yang penting aku sudah tahu
informasinya.
KLEK!!
“Raisa, abang mau bicara sebentar denganmu. Bolehkah??” aku
menghentikan pergerakan.
Dan
kini menatap Bang Afran yang tengah memandangi diambang pintu, dia samar-samar
tersenyum tipis kepadaku. Lalu aku mengangguk, dan akhirnya Bang Afran berjalan
mendekatiku. Setelahnya, dia duduk disampingku.
“ada apa Bang??” tanyaku untuk mengawalinya.
Kudengar
hembusan nafas dari Bang Afran, “Abang Cuma mau menyarankan kamu. Supaya kamu
tahu, Abang mohon, sesuka kamu dengan Adrian. Abang tidak mau kamu menjadi
korban gadis yang dia akan lakukan, mungkin ini awalnya memang seperti ini,
tapi? Abang tidak mau setelah itu kamu harus menangis karena Adrian. Hati-hati
dengannya” ujar Bang Afran.
Ya itu
membuatku sangat takut, tubuhku sudah berkeringat dingin dan campur aduk
rasanya. Apa maksud Bang Afran dengan aku setelah ini menangis.
“apa ada sesuatu yang sudah Abang ketahui, dari Adrian”
ucapku dengan takut-takut.
Dia
menatapku dengan nanar, “yang tadi Abang ucapkan itu adalah yang Abang ketahui
dari Adrian, tenang saja. Kalau memang Adrian berbuat sesuatu yang membuatmu
sakit hati, dia harus menanggung semuanya” mataku sontak melotot.
“kenapa Bang Afran bisa mengenal Adrian?” ucapku penuh
penasaran.
Namun
respon yang Bang Afran tanggapi hanyalah tersenyum, lalu dia berdiri dan
mengelus rambutku.
“tidurlah, sudah malam” ucapnya dan berlalu.
Dan
hingga terik matahari menusuk, mataku perlahan bangun. Entahlah, rasanya malam
ini aku tidak merasakan nyenyak saat tidur, seperti ada sesuatu yang
mengganjal. Bahkan pikiranku selalu melayang pada perkataan orang-orang
terdekatku, termasuk Adel, Tante Hilmi, ayah,
dan yang selalu mengiang adalah perkataan Bang Afran.
Namun
kini aku tepis semua pikiran itu, dan beralih untuk bersiap kesekolah.
Setelahnya, aku benar-benar sudah berniat tidak akan sarapan pagi untuk pagi
ini. aku begitu malas.
“Raisa, makan dulu gih. ibu sudah buatkan makanan
kesukaanmu” ujar ibu sambil tersenyum.
Disana
bukan hanya ibuku, tapi seperti tadi malam. Banyak orang yang kini melihatiku,
menatapku seolah olah berkata ‘ada apa
dengan Raisa?’ tapi aku menjawab ucapan ibu dengan gelengan kepala.
*
Sampai
disekolah sudah begitu banyak siswa yang berangkat, tapi yang kucari kini
hanyalah Adel seorang. Cewek supel yang satu itu memang benar-benar karibku.
Dia bahkan sudah aku anggap seperti keluarga, dan yaa kami berdua sudah
bersahabat dari zaman orok, bukan hanya itu ibu Adel dan aku juga bersahabat
semenjak zaman yang juga oroknya.
Dimana yaa Adel??
Kepalaku
clingak-clinguk mencari sosok Adel, biasanya dia adalah siswa tergasik, karena
setiap hari dia orang pertama yang sudah duduk manis dibangkunya. Sedangkan aku
sendiri, berbeda sekali walaupun aku dan Adel sama-sama pinternya, tapi tetap
ada perbedaannya.
“heh! Kamu Raisa, ikut aku!” tukas cewek itu.
Ya
cewek itu adalah Jessica, aku hanya menatapnya penuh keheranan. Kenapa yang
datang Jessica, kenapa bukan Adel. Dia tidak sendirian melainkan seperti biasa,
membawa dua sidekick – nya, Amel dan
Masha.
“seret dia ketempat itu!” suruh Jessica.
Dan ya
dua Sidekick nya ini menyeretku begitu kasar, mereka bahkan selalu
mencak-mencak tak jelas, awalnya memang aku memberontak tapi kini sudah aku
netralkan. Kemudian aku dilempar hingga menabrak sebuah wadah yang entah apa
itu, ini tempat gudang. Mereka bertiga membawaku ketempat yang senyap ini.
“kalian mau mengapakanku??” ucapku bernada tinggi.
Tapi
mereka malah tertawa meremehkanku, “apa benar kamu sudah jadian dengan Adrian,
hah??” ucapnya dan mengangkat daguku dengan jari telunjuknya.
Setelah
itu aku menepisnya, dan berani menatap cewek tolol ini dengan tatapan sinisku.
Dia hanya tersenyum sinis.
“iya” ucapku lantang.
Dia
tersenyum miris lalu mengambil pisau kecil lancip yang tiba-tiba saja ada di
sekitar sini, aku kira memang mereka sudah merencanakan hal ini untuk membuatku
takut.
“putuskan hubungan kalian, karena toh Adrian tak menyukaimu
melainkan menyukaiku” katanya lalu menempelkan ujung lancip pisau itu ke
wajahku, tepatnya di daguku.
Namun
kemudian, ia menekan pisau itu hingga terasa sakit. Benar-benar, bahkan sebelum
aku bergerak tanganku dicekal dua sidekick
–nya yang tolol. Dan dengan tenaga yang kukeluarkan keras, hingga dua orang
yang mencekal tanganku harus terlempar. Tapi pisau itu sudah menyayat hingga
darahku harus mengalir dibagian dagu.
“ternyata kamu tipe orang yang menjaga harga diri kamu”
ujarnya membuang kasar pisau itu.
Kemudian
tanganya tiba-tiba meremas kerah seragamku, namun bukan itu yang dia lakukan
dia akan menamparku.
“berhenti!” teriakan itu membuat aksi Jessica terhenti.
Jessica
sangat terkejut, termasuk dua gerombolannya itu. aku hanya menatap datar Bobby
dan Adel yang kini berdiri dan mendekat kearah sini.
“apa yang….astaga. kalian ternyata tolol ya, cari-cari
masalah. Kalian gak ngaca apa? Kalian cewek” bentak Adel.
Adel
langsung menggeret lenganku untuk berada dibelakangnya, mencoba melindungiku.
Sedangkan Bobby, dia kini menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu mendekat lagi
kearah dimana ketiga orang yang sudah menganiayaku.
“jangan lakukan hal itu lagi, cukup satu kali. Kalau emang
iya, rasakan apa yang sudah kalian lakukan itu!” ancam Bobby.
Mereka
bertiga mencibir, “oh, sekarang banyak yang membela anak lemah seperti Raisa
ini. semakin banyak orang yang membelanya semakin kejam aku menganggunya” itu
kata Jessica, dan mereka pergi.
Ya
mereka pergi dengan sengaja menyenggol keras kami bertiga, tanpa sadar aku
sudah menangis karena terlalu diam. Adel memelukku, dia ikutan menangis, lalu
mengelap wajahku dengan bajunya.
“Adel….” Lirihku dengan suara membeku.
“aku tahu” kita masih berpelukan.
Dan
akhirnya Adel melepaskan pelukan itu, dia menyentuh luka didaguku. Sambil
menatapku dengan senyuman tipisnya.
“kita obati luka ini, kelihatannya pisau itu menusuk terlalu
dalam. Hingga sobek seperti ini, ayo Bob!” ajak Adel.
Ya kita
bertiga, dan mereka berdua yakni Adel dan Bobby mengantarku ke UKS untuk
mengobati luka sayatan tadi. Rasanya perih, tadipun kata Adel bahwa luka
sayatannya sudah merobek. Didalam sana, di UKS aku mengaduh-aduh. Sakit sekali
rasanya.
“tuh ‘kan lukanya tambah robek Sa. Jangan ngeyel kalau lagi
diobatin, mau cepet sembuh gak” ujarnya.
Bahkan
dia sudah seperti ibuku, cerewet tapi ngangenin ini. ya, Adel dan Bobby memang
sudah berpacaran, namun mereka tetap nyaman dengan hubungan yang biasa saja. Karena
tahu kalau mereka masih SMP, mereka tahan.
“terima kasih Del” kataku dengan tulus.
Selesai
sudah mengobatiku, dia mendongak kearahku “anytime for you” ucapnya.
“oh ya Sa, sebaiknya kamu ke kelas dulu. Aku dan Bobby harus
pergi dulu, hati-hati jalannya yaa” aku mengangguk.
*
Hingga
akhir pelajaran hari ini berakhir, aku hanya bertemu Adel ketika itu juga. Aku
tiba-tiba saja ingin menceritakan keluhanku kepadanya, namun nyatanya dia kini
sedang bersama Bobby. Ya sudahlah, dan mungkin hari ini aku harus jalan kaki
sendirian.
TAP!
Oh iya, aku kan ada
janji untuk kerumah Adrian…
“heh, cepet! Kenapa bengong sih disitu??” kata seseorang membuatku tersentak.
Aku
terpengarah keambang pintu, disana berdiri Adrian dengan tangan yang dimasukan
ke saku celana masing-masing, aku berhembus. Ya allah, dia sudah ada disana
nyatanya. Kini aku berjalan santai menujunya.
“kamu gak ikhlas yaa mau kerumahku??” katanya lagi membuatku
memandanginya.
Aku
mencoba untuk berani menatapnya, “apa ada yang salah sama perlakuanku?” tapi
aku mencoba untuk setenang mungkin.
Dan ya,
dia tak merespon melainkan mengacuhkanku dengan berjalan. Tapi aku juga tidak
peduli dengan sikapnya, aku juga mengikuti arah jalannya Adrian. Suasana hening
dan senyap sepertinya adalah satu-satunya suasana yang cocok saat aku dan
Adrian bertemu.
“kita pulang jalan kaki” ujarnya ketus.
Ya
setelah itu aku hanya menuruti apa kata Adrian, tak masalah kalau dia
mengajakku untuk berjalan kaki, karena toh sudah biasa buatku karena setiap
haripun aku dan Adel selalu berjalan kaki, walaupun jauh sekolahnya.
Dan
beberapa lama kemudian, aku mengikuti langkah Adrian yang sudah memasuki
pekarangan rumahya, rumah dengan desain yang sederhana tapi menarik ini adalah
desain Komplek khas untuk blok B. ya ternyata rumahnya ada di Blok B, berarti
dia bertetangga dengan Bobby, jelas dia dan Bobby adalah karib.
“masuk gih! Aku mau pergi” mataku sontak harus melotot.
Tapi
dia menatapku dengan tatapan datarnya, “kamu menyuruhku kesini, tapi kenapa
kamu harus pergi? Aneh” kataku penuh heran.
Kudengar
decakan sebal darinya, “adikku yang menyuruhku untuk kamu kerumah ini, jadi
pahamkan? Aku mau pergi dulu” ketusnya.
Sebelum
dia pergi, aku mencoba mencegatnya. Tanpa rasa takut yang seperti biasanya, aku
kini sudah berani mencekal tangan Adrian. Walaupun sebentar, karena dia menepis
kasar tanganku membuatku sakit hati awalnya.
“memangnya kamu mau pergi kemana?” tanyaku intens.
“urusan kamu!” timpalnya.
Aku
menghembuskan nafasku dalam-dalam, “aku hanya ingin tahu” ucapku dengan lirih.
“aku akan pergi untuk menemui Jessica, puas!” tindasnya.
Setelah
dia mengucapkan kata itu, kepalaku melengos hingga dia benar-benar telah pergi
dari hadapanku sekarang. Aku benar-benar sudah muak dan ingin menjotos wajahnya
agar dia sadar, dia telah membuat permainan hitam didalam kehidupanku. Awas
saja yaa, aku akan membalasnya walaupun dengan diam. Aku akan mendoakanmu
Adrian, mendoakan agar kamu cepat sadar dari mimpi hitammu.
Aku akan membencimu
Adrian, suatu saat nanti…akan kucoba.
“kak Raisa, ayo masuk” ucap Yoona yang tiba-tiba saja
datang.
Aku
hanya mengangguk, lalu mengikuti alur jalannya yoona. Dan sampailah kita
disebuah ruangan penuh music ini, ada banyak alat music, percusi pisah bahkan
Drum, gitar, dan juga piano tapi tidak itu juga. Ada banyak yang lainnya lagi
seperti harmonica, suling, biola, ya banyaklah.
“ayo kak, duduk” dia menepuk kursi yang didepannya piano.
Aku
tersenyum ,”apa kamu ingin kita battle” kataku.
Tapi
ketika aku mengucapkan seperti itu, Yoona sendiri tiba-tiba menunjukan wajah
kusam membuatku aneh sendiri. dia kenapa, aku pun tidak tahu. Dia memegang
tanganku senambi tersenyum lembut. Ya, dia meneteskan air matanya. Membuatku
menduga bahwa ada masalah sepertinya.
“kak, kenapa kakak tidak mencoba untuk berhenti. Aku ingin
kakak tidak jadi korban untuk yang kesekian kalinya” ujarnya.
Alisku
bertaut, “apa maksudmu??”
“aku ingin kakak berhenti berharap kepada kak Adrian, aku
tidak mau hidup kakak berubah karena Kak Adrian. Aku tidak mau, kak Raisa
membenci keluargaku seperti orang-orang sekitar ataupun cewek yang sudah kak
Adrian jadikan korban, aku tidak mau” ucapnya begitu deras, ya dia benar-benar
menangis.
Namun
aku hanya meneteskan air mata setitik saja, dan mengelapnya dengan cepat. Lalu
aku menatap kembali wajah cantiknya yang mirip sekali dengan Adrian.
“aku masih bingung Yoona, entah kenapa aku merasakan bahwa
aku tidak bisa apa-apa kecuali hanya diam” ucapku.
“aku tahu, kalaupun kak Raisa hanya bisa diam. Aku tahu,
karma sedang menguntit kak Adrian” ujarnya.
Ya,
kita berdua tak jadi Battle, karena Yoona selalu mengajakku untuk berbicara
tentang Adrian, dan lebih mengejutkan lagi setelah tahu apa yang sebenarnya
telah terjadi dan merubah hidup Adrian. Hingga sepertinya sudah larut malam,
akupun pamit untuk pulang awalnya Yoona memaksaku untuk diantarkan sopirnya
namun aku menolak, aku akan naik kendaraan umum saja.
“sampai jumpa Yoona, sampai ketemu lagi” ucapku senambi
berjalan menuju luar rumah.
Setidaknya
aku harus berjalan kaki hingga menemukan jalan raya disana, karena jika
menunggu diarea komplek itu tidak akan terjadi. Karena tidak akan ada kendaraan
umum yang lewat, jadi jangan berharap.
“neng mau ngojek?” orang itu menepukku dari belakang.
Sontak
aku kaget dan menoleh kearahnya, “ya allah, kok mamang Ojek bisa disini??” dia
nyengir sangat lebar.
“iya neng, soalnya mamang disuruh Bang Afran buat jemput
neng kesini” ucapnya, akupun heran, Bang Afran?
“kok bisa Bang Afran tahu aku disini” gumamku, aku merasakan
keganjalan dengan Bang Afran.
“ayo neng, naik! Udah mau maghrib, nanti solatnya bisa telat
neng” aku mengangguk dan langsung naik ke motor Mamang Ojek.
*
“dari mana saja kamu?” tuding Bang Afran.
Aku
baru sadar ternyata Bang Afran sudah berdiri di depan rumah seperti ini. aku
benar-benar shock.
“bukannya Bang Afran sudah tahu ‘kan?” dia memutarkan bola
matanya.
“Raisa, Abang mohon. Jauhi Adrian!” tuntut Bang Afran.
Aku
meneteskan air mataku, “sebenarnya aku juga ingin menjauhinya, tapi… aku tidak
bisa Bang. Karena aku tidak bisa untuk jauh dari Adrian, ini kesempatanku untuk
bisa bersama Adrian walaupun dia tidak mau” ujarku.
“kamu masih SMP sa, masih panjang perjalanan hidup kamu. Apa
Cuma Adrian? Masih banyak lagi ‘kan?” katanya dengan enteng.
“perasaan itu tidak bisa dipaksa Bang, aku sudah memaksanya
tapi tetap! Aku masih tidak bisa menjauhinya apalagi harus melupakannya!”
tegasku.
Kulihat
Bang Afran meraup wajahnya dengan gusar, “Abang tidak mau kamu masih gadis SMP
seperti ini harus merasakan pedih, karena kamu sebenarnya harus merasakan hidup
yang lebih bahagia, kamu tidak pantas berada diposisi seperti itu Sa! Abang
tidak terima!” tukas Bang Afran senambi
membentak.
Aku
bungkam, “Abang itu sayang sama kamu Sa, Abang tidak mau adik abang
satu-satunya harus seperti ini” ujarnya dengan penuh kasih sayang.
Tapi
aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi setelah Bang Afran berkata seperti, yang
aku lakukan hanyalah pergi dari hadapan Bang Afran. Aku sedang muak dan
bercampur bingung, entahlah… aku bimbang. Diantara menjauhi Adrian atau
bertahan.
“Raisa! Raisa!” teriak Bang Afran.
Aku
mencoba untuk tidak memedulikan teriakanya, aku hanya ingin beristirahat penuh
agar aku bisa berpikir bagaimana caranya untuk mengatasi masalah ini.
Sampai
dikamarku, dan sudah membersihkan badanku. Aku sengaja untuk rebahan diranjang
dan menatap langit-langit kamarku, aku menangis tapi tidak dengan suara. Suara
Bang Afran pun masih menggema ditelingaku.
“sebenarnya aku juga
ingin menjauhinya, tapi… aku tidak bisa Bang. Karena aku tidak bisa untuk jauh
dari Adrian, ini kesempatanku untuk bisa bersama Adrian walaupun dia tidak mau”
“kamu masih SMP sa,
masih panjang perjalanan hidup kamu. Apa Cuma Adrian? Masih banyak lagi ‘kan?”
“perasaan itu tidak
bisa dipaksa Bang, aku sudah memaksanya tapi tetap! Aku masih tidak bisa
menjauhinya apalagi harus melupakannya!”
“Abang tidak mau kamu
masih gadis SMP seperti ini harus merasakan pedih, karena kamu sebenarnya harus
merasakan hidup yang lebih bahagia, kamu tidak pantas berada diposisi seperti
itu Sa! Abang tidak terima!”
“Abang itu sayang sama
kamu Sa, Abang tidak mau adik abang satu-satunya harus seperti ini”
Benar
semua kata Bang Afran, namun aku mencoba untuk menenangkan segalanya yang
sedang aku rasakan.
*
“Adrian! Kamu keterlaluan yaa? Ngapain kamu pergi bersama
Jessica hah! Seharusnya kamu jaga perasaan dengan Raisa! Apa kamu tidak tahu
kalau…”
Aku
menghembuskan nafasku, “Bob, aku main kesini bukan untuk membahas Raisa, aku
kesini ingin bersantai denganmu. Sudahlah, tidak usah membelanya” ucapku penuh
santai walaupun aku benar-benar muak sekarang.
“Yan, Raisa sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan
masalahmu, bahkan dia orang lain, dia bukan siapa-siapa! Dia tidak tahu dan
tidak bersalah!....” dia sejenak berhenti.
Lalu,
dia berkacak pinggang dengan menatapku, “sebenarnya apa sih kemauanmu! Sudahkah
belum puas dengan menyakiti satu perempuan? Apa motto kamu Yan?” katanya.
“Bob, kamu punya Adel. Tapi kenapa kamu sungguh-sungguh
sekali membela Raisa… apa kamu menyukainya?” sontak perkataanku membuatnya
terkejut.
Dia
awalnya menggaruki tengkuk leher yang tak gatal itu, “aku membelanya karena dia
sama sekali tidak tahu apa-apa! Dan kamu pengecut yang sudah membuat hidupnya
sengsara, kamu bukan tuhan. Seenaknya mempermainkan hidup orang lain!”
bentaknya, lalu dia masuk kerumahnya sambil membentak pintu.
Aku
hanya menghembuskan nafasku dalam-dalam, dan menuju kerumah dengan semua yang
masih melekat dipikiranku hingga rasanya telinga ini benar-benar panas, terus
mengiang perkataan orang terdekatku dari Yoona hingga Bobby, karibku.
Sampai
dirumah aku tiba-tiba saja sudah dihadang Ayah yang berdiri tegak, dia
memasukan sakunya kedalam celana, wajahnya menatapku datar.
“Adrian” sahutnya.
Kini
kepalaku mendongak kearahnya, “besok bawa pacarmu kerumah, untuk makan malam
bersama” ujarnya dengan datar.
Alisku
berkerut, darimana Ayah tahu Raisa. Kenapa tiba-tiba saja ia berkata seperti
itu seolah-olah memang dia sudah tahu, aku hanya diam dan meneruskan jalanku
untuk menuju kekamar. Beribu pertanyaan yang masih memutari otakku begitu
banyak, soal ayah tadi membuatku penasaran apa yang terjadi sebenarnya.
Ya sudahlah, tidak
penting mengurusi hal itu…
KLEK!
Ketika
aku membukan knop pintu, terdengar suara kecil yang membuatku harus terhenti.
Disana terlempar kado besar, tapi kelihatannya isinya enteng dan ya mengapa
bisa sampai terlempar. Aku perlahan mengambilnya, kado berwarna merah hati
dengan pita yang berwarna cream.
Diatasnya
terdapat sebuah tulisan ‘give it for your
girlfriend’ . sepertinya ini dari ayahku, kenapa bisa dia membelikan sebuah
gaun yang begitu mahal untuk perempuan
yang sama sekali tidak kusukai.
Dan
sampailah dipagi hari ini, aku benar-benar malas untuk masuk sekolah namun ya
begitulah. Dengan jalan yang begitu malas, aku berjalan untuk kebawah rumah.
Mungkin aku berangkat jam sekarang sajalah, dengan berjalan kaki pasti sampai
sana seperti biasa aku berangkat. Dengan mau tidak mau aku berjalan, tapi tak lupa aku memasukan kado
ayah kemarin untuk Raisa.
Tidak
lama sudah aku berjalan, nyatanya sudah sampai didepan gerbang sekolah.
Benarkan dugaanku, aku akan sampai disekolah seperti biasanya. Kini aku
berjalan agak cepat untuk sampai kekoridor kelas Raisa, mumpung tidak banyak
yang masuk sekolah jadi tidak akan melihatnya. Sampai disana, mula-mula aku
berhenti diambang memastikan tidak ada siapa-siapa, ya Raisa dan Adel sudah ada
dikelas, mereka berdua sedang berbincang-bincang ria.
“hmm, Raisa!” panggilku, dia menoleh.
Ya
seperti biasanya, wajah Raisa akan berekspresi seperti orang takut jika aku
yang memanggilnya. Dia berlari kecil menuju dimana aku berdiri, sebenarnya aku
tahu dia malu dan kaku denganku, namun aku tak memedulikannya.
“ini untukmu” kataku sambil menyodorkan kado tersebut.
Dia pun
segera mengambilnya tapi, “haaa so sweet! Woy guys! Lihat sini, Adrian ngasih
kado ke Raisa coba! Woy sini!” teriak cewek Toa itu.
Mataku
melotot, ketahuan. Aku benar-benar kesal dengan ini, aku bahkan sudah berusaha
untuk tidak ketahuan siapa-siapa tapi nyatanya… gara-gara cewek tadi membuatku
ilfeel sendiri. ingin sekali membekap mulutnya yang toa itu, tidak malu apa
berteriak dipagi hari. Dengan kekesalanku ini, sudah kulihat gerombolan
anak-anak lain sudah berada disini, membuatku semakin kesal.
“ciieeeeee…….” Sorak mereka.
“waaah, aku juga dong Adrian masa Raisa doang sih”
“hih, aku pengen kaya gitu”
“kapan aku kaya gitu?”
“haaah, pengen punya pacar tapi gak dapet-dapet, huuh!
Sebel!”
Gumaman
demi gumaman dari gerombolan ini jelas terdengar oleh telingaku. Entahlah, aku
merasakan bahwa aku sedang melayang? Benarkah itu, tiba-tiba kepalaku
menggeleng, itu tidak mungkin. Jangan kesampean, aku tidak mau.
“siapa yang ngasih kado? Dan siapa yang nerima?” ucap suara
itu membuat semuanya hening.
Dia
keluar dari kerumunan dengan dua karibnya, iya dia Jessica. Lalu dengan percaya
diri, tangannya melipat dan menatapku dengan Raisa bergantian.
“oh! Jadi kamu ngasih kado ke Raisa, huuuh…” ucapnya dengan
nada sinis.
Tapi
awalnya aku membiarkan dia mendekatiku dengan Raisa, namun tiba-tiba dia
merebut kado itu dan membuka isinya.
“wow! Gaun mahal ternyata… apa kalian mau kencan, hah?”
ujarnya.
Setelah
itu dia menatapku dengan Raisa, “tapi itu tidak akan terjadi!”
SREK!
Kita
semua dibuat melongo karena aksi yang satu ini, dia benar-benar nekad.
Membuatku harus tidak percaya, dia perempuan galak. Aku tidak tahu dia
benar-benar segalak ini.
“lihat ‘kan? Kencan
itu tidak mungkin bisa terjadi!” lalu dia menginjak-injak gaunnya.
Aku
meringis melihat gaun malang itu, “rasakan ini, jalang!!” dan Adelpun ikut
beraksi dengan menyiram air minumnya ke Jessica.
Aku
melihat dia terkaget, “sudah kubilang ya jalang, jangan coba-coba ganggu
sahabatku! Rasakan ini sekali lagi!” dia benar-benar marah sampai dasi yang
dipakai Jessica harus ditariknya.
“kamu!!” bentak Jessica.
“apa hah! Makanya, kalau tidak mau merasakan hal itu
seharusnya kamu itu pikir dong! Punya OTAK gak sih!” teriak Adel dengan
menunjuk kepalanya.
Dia
Adel, kini berkacak pinggang “satu sama jalang! Sadar ‘kan, apa yang sudah kamu
lakukan kepada Raisa. Tidak lihat luka pisau yang sengaja kamu sayatkan ini!
dan hari ini giliranmu merasakannya!” semuanya bersorak.
“what!, jadi Jessica nyiksa Raisa nih maksudnya? Wah, dasar
jalang emang!” tutur salah satu dari gerombolan diikuti sorakan.
Tapi
setelah itu Jessica pergi meninggalkan gerombolan ini, diikuti dua karibnya.
Sedangkan gerombolan ini juga berakhir, aku pun ikut meninggalkan tempat ini.
aku sengaja meninggalkannya karena aku rasa sudah cukup.
*
KLING!
FROM : ADRIAN
Kamu tetap kerumahku,
pakailah pakaian yang menurutmu nyaman.
“Adel…”
Aku
sengaja memberikan ponselku ini kepada Adel, karena aku bingung harus menjawab apa
kepada Adrian. Ya, sebenarnya pesan ini sudah lama sekali, bahkan sampai aku
sudah berada dikamarku bersama dengan Adel. Pesan ini sudah ada sejak istirahat
pertama disekolah, tapi aku biarkan.
“balas saja, ‘ya’ sudah ‘kan?” katanya.
Akupun
mengikuti alurnya. Setelah membalasnya, aku mengambil pungutan gaun dan kado
tadi ketanganku, diatas kado itu terdapat secarik kertas biasa yang menempel
pada kado bagian atas itu.
Pakailah gaun ini, dan
kerumahku untuk makan malam bersama. Datanglah tepat waktu.
“tak usah memandangi tulisan si Brengsek Adrian, percuma!”
ketus Adel dan merebut kado tersebut.
Setelah
itu dia membuangnya, dan itu membuatku terkejut. Aku tahu Adel sedang
benar-benar marah, dengan apa yang terjadi beberapa hari ini terhadapku. Dia
bahkan antusias sekali jika aku berada disekolah dan sendirian tanpanya.
“apa kamu bisa mendandaniku?” tanyaku dengan ragu.
Dia
menoleh kearahku, “kamu mau kesana, sendirian?” Tanya balik Adel namun aku
menganggukan kepalaku.
“aku akan menemanimu” ucapnya membuat sukses harus terdiam.
“tapi tidak dirumah Adrian melainkan…aku akan main kerumah
Bobby. Dan disana mungkin aku bisa menjagamu, jadi kalau ada apa-apa aku berada
dirumah Bobby” jelasnya.
Aku
menghela nafas, “kamu begitu… ya maksudku. Kamu seperti pahlawan, kamu wanita
sejati. Terima kasih Del, kamu memang sahabatku yang paling hebat. Terima kasih
atas semuanya” kataku lalu memeluk Adel.
Dan
setelah itu dia benar-benar mendandaniku, memakai gaun sederhana ini. entah aku
mau diapakan disana, tapi yang jelas sebelum hujan turun aku harus menyiapkan
payungku, agar disana tak memalukan sekali, karena yang pasti Adrian bahkan
sampai membelikanku gaun, berarti acara makan malam itu sangat membuatku
antusias.
Setelah
selesai mendandani kini Adel mulai berdandan kasual untuk mengikutiku, dia
memang sahabat yang baik, misalnya sekarang. Yang dia lakukan adalah serepot
mungkin menurutnya dia akan melakukannya dengan kesabaran maksimal, membuatku
selalu merasakan dia terbebani, karena dia menyayangiku. Akupun sebaliknya,
bahkan sangat menyayanginya.
“apa kamu benar-benar ingin mengikutiku, dengan menuju
kerumah Bobby??” dia mengangguk.
Lalu
dengan sigap dia mengambil Tas gendong kecil, dan memakainya dengan cepat.
Kemudian, dia menatapku tanpa ragu untuk berangkat sekarang. Selain perempuan
sejati, dia adalah perempuan cekatan.
“apa perlu aku tunggu saja disini, sedangkan kamu… mungkin
disana ternyata sedang mengintai marabahaya” ucapnya dengan gaya bahasa yang
agak membuatku risih.
“kamu sepertiku pacarku” ujarku.
Tetapi
yang dia respon adalah terkekeh, tidak lama dia menggaet tanganku untuk menuju
kebawah. Katanya mobil sudah disiapkan, tinggal kita take up kerumahnya Adrian.
*
Sampailah
mobil ini dipekarangan rumah Adrian, dengan menuju tepat depan rumahnya, aku
dan Adel masing-masing memandangi rumah sederhana ini. aku sungguh ingin pulang
saja, aku takut jika didalam sudah sangat siap menerimaku sedangkan aku
sendiri, aku masih gugup ya walaupun Adrian tidak sama sekali mengantusiaskan
keberadaanku.
“berdoalah sebelum kamu masuk, hati-hati!” tegas Adel. Aku
mengangguk.
Lalu
pak Ijal membukakan pintu penumpang dibagianku, diapun mempersilahkanku dengan
lembut seperti biasannya. Aku meresponnya dengan senyuman yang lembut juga.
“selamat datang dikediaman rumah keluarga Valdiano” ucap
salah satu dari dua pelayan tersebut.
Yang
tadi mempersilahkanku berambut lurus pendek, dan yang satunya sama namun
badannya agak tinggi dia, mereka berdua tersenyum. Membuatku ikut tersenyum.
“silahkan masuk, nona” ucap yang agak tinggi.
Dengan
jalan yang begitu gemetar, aku terus mengikuti dua pelayan ini dari belakang
awalnya mereka mengizinkanku untuk aku berada didepan mereka namun, aku bahkan
menolak mentah-mentah izin mereka.
“hey, kak Raisa! Kamu sangat cantik, ayolah duduk!” teriak
Yoona dari meja makan.
Dia
tersenyum lembut kearahku, aku pun juga tersenyum. Namun, tiba-tiba saja aku
sengaja mengalihkan pandanganku kearah ayah Adrian dan Yoona, dia ikut
tersenyum, aku juga membalasnya dengan senyuman yang sama. Dan kali akhir ini,
aku memandangi dimana Adrian duduk, dia hanya menunduk. Tapi tak lama menatapku
dengan wajah datar biasanya.
“kenapa pacarmu tidak memakai gaun yang sudah dibelikan
yan??” Tanya ayah Adrian, setelah aku sudah duduk manis berhadapan dengan
Adrian.
“dia tidak menyukai gaun itu” ucap Adrian.
Awalnya
aku ingin menjawab namun sudah terlebih dahulu dijawab oleh Adrian, membuatku
harus bungkam karena jawaban Adrian benar-benar salah, itu membuatku kesal.
Sedangkan Yoona, kini dia menatapku dengan alis berkerut.
“tidak, bahkan setelah kado itu diterima. Ayah tahu, gadis
yang bernama Jessica? Dialah penyebab kak Raisa tak memakai gaun itu” ujar
Yoona sangat menyolot karena tidak terima.
Ayahnya
kini yang bergantian berkerut, “maksudmu??” ucapnya.
“ayah, Jessica anaknya pak Jono itu sengaja merobek gaun
untuk kak Raisa. Karena pada dasarnya dia menyukai kak Adrian, dia menyebalkan
ayah. Bahkan, luka didagu kak Raisa itu karena disayat pisau miliknya” tegasnya
dengan tukas.
Aku
melihat wajah Adrian yang geram dengan perlakuan adiknya, “sudahlah cukup
Yoona!” bentak Adrian.
Namun
dengan bentakan Adrian, ayahnya melotot. Dia memperlihatkan wajah paruh baya
yang tegas itu, membuatku takut. Aku juga takut jika ayahku seperti itu apalagi
ayah Adrian. Mungkin dia benar-benar kaget dengan perlakuan anaknya sendiri.
dengan begitu suasana berubah begitu hening dan senyap.
“kenapa kamu berani sekali membentak adikmu sendiri!” ketus
ayahnya.
Sekarang
giliran Adrian menatap tajam ayahnya, “karena aku tidak suka dia mengada-ada!”
sekaknya.
BRAK!
Adrian
marah, dia pergi menyisakan aku, ayahnya, dan adiknya dimeja makan ini.
sedangkan ayahnya, sekarang hanya mengusap wajahnya dengan kasar. Dan
kupandangi Yoona, dia menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
“maafkan aku, sudah menghancurkan acara ini” dia pun ikut
meninggalkanku dan ayahnya.
“tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Karena sudah
merepotkan kalian, aku minta maaf” aku berdiri dan sanggup berbicara.
Kulihat
ayah Adrian menatapku tak percaya, “karena masalah sepele seperti itu, membuat
kalian harus bertengkar. Itu semua karena aku! Karena kehadiranku, aku minta
maaf!” ucapnya, dan tanpa sadar air mataku menetes.
“kak Raisa jangan menangis, aku tidak tahu kalau perlakuan
keluargaku membuatmu sakit hati. Kita minta maaf” ucap Yoona begitu lembut,
dengan tangan yang memegangi tanganku.
“iya Raisa, maafkan keluarga saya. Dan maafkan tingkah laku
Adrian” dia pun ikut berdiri dan tersenyum kepadaku.
Namun
senyumnya hilang sekejap, “sebenarnya kamu dan Adrian benar-benar ada hubungan
atau tidak??” katanya dengan shock.
Tidak
hanya ayah Adrian, aku dan Yoona pun ikut shock mendengar ucapan alias
pertanyaan mengejutkan itu. aku bingung harus menjawab seperti apa. Sedangkan
mereka berdua kini sudah menungguku untuk menjawab.
“ayah, biarkan kak Raisa tenang” timpal Yoona.
Ayahnya
mengangguk, dia meninggalkanku dan Yoona disini. “Yoona, aku harus pulang”
ujarku.
“kenapa pulang? Ini masih jam sore bukan?” katanya.
“aku tidak mau berlama-lama disini, aku harus pulang”
elakku.
Akhirnya
Yoona mengangguk, walaupun aku sedikit tenggang rasa dengannya. Mungkin dia
ingin berbincang denganku namun kali ini aku tidak bisa. Aku harus pulang agar
melupakan semuanya malam ini.
*
Tiga bulan kemudian…
Setelah
kejadian dimalam hari itu, aku benar-benar vakum dengan semuanya yang
berhubungan dengan Adrian. Yoona pun aku tidak pernah bertemu, aku hanya selalu
bersama Adel, selama tiga bulan ini. aku begitu sudah berniat untuk melupakan
semuanya. Awalnya aku sudah berpikir, setelah kejadian malam itu aku ingin
memutuskan hubungan ini kepada Adrian. Namun aku tidak berani dan inilah salah
satu cara untuk menjauhkan aku dan melupakan hubungan itu.
“Raisa, apa kamu tidak dengar kalau Adrian sudah jadian
dengan Jessica!” ucap Dinda.
Dia
juga teman sekelasku, bahkan selama kurang lebih dua tahun ini berteman dekat
dengannya. Karena dia gadis yang cermat untuk diajak berbicara, dan sangat
supel sekali.
“aku tidak tahu” dia melongo.
“apa!! Yang benar saja, apa kamu sudah putus dengan Adrian?
Apa yang terjadi Raisa?” ucapnya begitu antusias.
Aku
hanya menatapnya dengan datar, walaupun sebenarnya aku sakit sekali mendengar
berita bahwa Adrian sudah jadian dengan Jessica, bukannya hubunganku dengan
Adrian sama sekali belum ada yang memutuskan. Apa yang sebenarnya terjadi
selama tiga bulan ini.
“aku tidak menyangka Adrian Playboy, aku kasian denganmu.
Tapi aku sangat Respect sekali dengan hubunganmu itu, kalian sangat cocok
walaupun tidak selalu terlihat bersama” ujarnya dengan tersenyum.
Aku
kaget dengan ucapan Dinda, kenapa dia memuji hubunganku. Aku bahkan tidak sama
sekali menganggap ini sebuah hubungan antara aku dengan Adrian, melainkan aku
yang dipermainkan oleh Adrian. Bahkan aku sampai menyesali itu semua sampai aku
bermuslihat untuk membenci Adrian karena perlakuannnya terhadapku.
Tapi apanya yang
cocok?
“apa benar seperti itu beritanya, Dinda??” Tanya Adel yang
tiba-tiba saja datang.
Kulihat
Dinda mengangguk, “bukannya yang nembak duluan Jessica? Bukan Adrian ‘kan,
kemarin dilapangan basket iya ‘kan??” lanjut Adel.
Mataku
melotot, aku lega mendengar bahwa Jessica lah yang menembak duluan Adrian bukan
Adrian. Berarti aku lebih dihargai ketimbang harga diri Jessica yang mudah
sekali itu.
“iya benar, tapi aneh.. bukannya Adrian belum putus dengan
Raisa yaa? Tapi kenapa dia menerima Jessica, apa yang terjadi ‘kan??” ucap
Dinda begitu intens.
Sedangkan
aku dan Adel hanya menatap bergantian, aku tahu maksud Dinda. Dia curiga dengan
masalah ini, apa jangan-jangan dia akan melakukan hal nekad setelah tahu
masalah ini? apa yang akan Dinda lakukan? Aku menghembuskan nafasku
dalam-dalam.
“sudahlah, tak usah dipermasalahkan. Toh mereka sudah
bersatu, buat apa diributkan? Hanya menguras emosi saja” ucapku lalu meninggalkan
mereka berdua di kantin ini.
Didalam
aku berjalan menelusuri koridor demi koridor kelas ini, semua anak-anak
benar-benar melihatiku penuh keanehan, apa yang terjadi ‘kan? Bahkan ada juga
yang tiba-tiba saja tersenyum kepadaku walaupun aku sama sekali tidak
mengenalinya. Tapi aku mencoba untuk tidak memedulikan tatapan mereka, aku
hanya ingin kekelas dan duduk manis disana, menunggu bel masuk.
“apa yang sebenarnya terjadi yaa??”
“kenapa Adrian setega itu dengan Raisa?”
“hiih, aku jijik deh sama pernyataan Jessica kemarin. Dia
tidak tahu diri”
“ini benar-benar membuatku merasa kasian dengannya, dasar
cowok pengecut!”
“dua-duanya sama-sama gatel, kepengen pacaran aja sampai
segala pakai perantara orang lain, gak tahu diri banget jadi bocah! Gak nalar
tuh Adrian sama Jessica, amit-amit dah!”
Gumaman
dari anak tiap anak terdengar jelas ditelingaku, hanya saja aku tepis semua
perkataan mereka. Itu hanya akan membuatku kesal sendiri.
“apa ingin bersatu harus mengorbankan perasaan yang lain,
bukannya itu sama saja dengan egois? Mereka berdua egois, ya! Tanpa tahu dan
sadar atas perlakuan mereka. Mereka telah menyakiti hatimu. Aku turut berduka
Raisa” kata Dandy.
Aku
menyerngit, “kamu terlalu lebay Dan, aku biasa saja kok? Tak usah dipikirkan,
sudah berlalu” ucapku, dia tersenyum lembut.
“tapi mereka jadian sedangkan kamu dan Adrian belum putus
‘kan??” ucapnya dengan intens.
Mataku
berkedip-kedip tak karuan, “aku sudah putus kok Dan” dia menatapku seolah-olah
berkata ‘yakin?’. Dan akupun mengangguk.
Perjalananku
kembali ku lanjutkan untuk menuju ke kelas, namun tiba-tiba saja gerombolan
Jessica dari kejauhan terlihat, mereka berjalan cepat. Sepertinya mereka akan
menuju kepadaku, dengan segera kakiku kuarahkan untuk menjauh dari gerombolan
itu, kalau saja bertemu dan bertengkat dengan mereka hanya akan memakan hati
sendiri.
“HEH! Mau lari kemana kamu!” teriaknya.
Aku
tetap berlari kecil untuk menjauhi mereka, dan tetapi tubuhku tiba-tiba seperti
ada yang membawanya, aku seperti diambil seseorang untuk mengumpet di tempat
ini.
“sssttt, jangan berisik nanti ketahuan” bisik orang
tersebut.
“siapa kamu??” lirihku.
Tangannya
membekap mulutku, karena sudah terdengar telapak kaki kasar menuju kearah sini.
Sepertinya gerombolan Jessica.
“dia kemana sih! Sialan banget itu cewek, hari ini bukannya
berhasil buat dia sengsara, tapi kenapa gagal?” itu suara Jessica.
“ya sudah, besok kita habisi dia! cuss Guys!” lalu mereka
benar-benar pergi.
Aku dan
orang itu berdiri tegak tapi tenang seperti biasanya, kita membersihkan baju
kita masing-masing, karena tadi mengumpet ditempat yang agak kotor.
“terima kasih sudah menolong….” Ucapanku terhenti
ditengah-tengah sambil menatap orang yang menunduk membersihkan badannya.
“sudah menolongku” lanjutku.
Dia mengarahkan
kepalanya kepadaku, lalu tersenyum lembut. Ya allah, senyumnya manis sekali.
Apakah dia anak baru disekolah ini, dia seperti orang asing alias Bule, matanya
yang biru itu menunjukannya bahwa dia bukan asli orang Indonesia. Dia
blasteran, wajah tirus dan lesung pipit dipipi kirinya menambah kesan manis
dengan kulit putih sekali. Badannya yang tinggi membuatnya seakan nilai tambah
buatnya, rambutnya yang terlihat lembut itu.
“hey! Kenapa bengong?” aku tersentak sambil nyengir tak
jelas.
Dia
tersenyum….lagi? “namamu Raisa bukan? Aku Marvelin Diaz Pradinata, salam kenal”
ujarnya sambil menyodorkan tangannya.
Mataku
berkedip beberapa kali, lalu menerima jabatan tangan darinya.
“kamu mengenaliku??” dia mengangguk.
“aku baru pindah beberapa hari ini tapi aku sudah mendengar
beritamu” jelasnya.
Aku ber
Oh ria lalu, “tadi namamu siapa??” tanyaku sekali lagi.
“Marvelin Diaz Pradinata, panggil saja aku Diaz” tukasnya.
Aku
mengangguk sambil tersenyum, dan ketika itu juga kita berpisah. Itu pertemuan
pertama aku dan anak baru itu, anak baru dengan sejuta pesona itu. ya allah,
aku beruntung sekali diselamatkan anak baru itu.
*
“Adel, dia sangat tampan!” aku terus berteriak membuat Adel
bosan mendengarkanku.
Tapi
kini dia benar-benar mau menatapku, “kamu sudah bisa Move on dari Adrian?
Bagus!” hanya itu.
“ya benar katamu Raisa, dia memang blasteran. Dia adalah
sahabat Adrian, itupun ujar Bobby kepadaku tadi di SMS” mulutku menganga.
“jangan membuatku tak yakin untuk berteman dengannya Del??”
dia mengangguk.
“yang benar saja!” elakku.
Kepalaku
otomatis menunduk, “aku takut jika dia benar-benar sahabat Adrian, berarti
sikapnya tak jauh dari Adrian” jelasku.
Kulihat
samar-samar Adel tersenyum ,”apa kamu berharap ingin dekat dengan Diaz? Kamu
tak usah takut dengannya, dia dekat hanya dengan Bobby, ya walaupun dekat juga
dengan Adrian” ucapnya.
“tapi besok kita menerima Raport dan insya allah kita pasti
naik kelas 9” ucapku beralih informasi.
Dia
hanya mengangguk, “semoga aku masih diposisi itu” gumamnya.
“dan aku akan melebihimu, yeh!” teriakku membuatnya
tersentak kaget.
“efek dari Diaz masih nempel sama kamu, begitu bahagianya
kamu hari ini” ucapnya membuat aksiku terhenti.
Setelah
itu aku hanya tiduran sambil menonton TV, acara yang biasa ku tonton malam hari
itu kalau tidak kartun pasti nyetel DVD. Ya, aku tidak suka sinetron bahkan
drama asia seperti halnya, aku hanya suka film kartun dan Box office. Dan Box
Office nya pun tidak sembarangan, aku
juga hanya menyukai Box Office yang bergenre Action.
“apa kamu tak capek menatap layar monitor seperti itu,
Del??” tanyaku masih menatap layar TV.
“dan yaa, apa kamu juga tidak capek menatap layar TV seperti
itu?” Tanya balik Adel.
Aku
mencibir dalam hati, pasti seperti itu jawabannya. Ya seperti biasa kalau Adel sudah
menginap dirumahku, padahal aku dan dia bertetanggaan namun tetap, kita bahkan
hampir setiap hari tidur bersama. Apalagi hobby Adel yang jago sekali bermain
Games apapun itu bentuknya. Walaupun kita punya hobby yang berbeda, kita masih
punya kesamaan yakni menyukai Tokoh Anime dari jepang, semua yang melekat pada
kami berdua adalah Anime, mulai kostum, hiasan, dan film-filmnya.
Kurasa aku telah
membocorkan rahasia ku… menyukai Anime? Heheh…itu bukan rahasia. Itu hanya
sekedar penjelasan bahwa aku dan Adel memiliki kesamaan favorit.
“bagaimana dengan Games chat –mu Del?” kataku untuk
mengetahui.
Ya, aku
hanya ingin tahu bagaimana keadaan group games chat buatan Adel, dia sangatlah
tergila-gila dengan Games. Mungkin aku rasa, dia sudah jadi Gamers, karena dia
benar-benar sudah bisa menghasilkan uang. Sedangkan aku juga sudah menghasilkan
uang walaupun sedikit, dari kemauanku membuat kerajinan tangan, tidak hanya itu
dengan aku bermain piano biasanya aku dipanggil disebuah acara untuk mengisi,
yaa sebut saja pekerjaan per proyek. Dan bahkan aku sudah menerbitkan beberapa
buku novel kecil-kecilan.
Awalnya
itu semua dari Hobby aku dan Adel masing-masing, maka dari itu membuahkan hasil
yang memuaskan.
“hmm, lumayan berkembang. Banyak yang minat masuk” ucapnya.
“WOW! Games seperti apa yang kamu buat digroup itu” ujarku.
Kini
aku berjalan mendekatinya yang sedang menatap layar monitor begitu pukat.
“ya semacam detective” aku kembali berkata ‘WOW’ untuk
kesekian kalinya.
Dia
mematikan PC itu dengan cepat, “kamu tahu, Diaz juga masuk. Dia menginisialkan
dirinya sebagai DI45 (DE I FOUR FIVE)
, kamu tahu! Dia sangat jago sekali bermain games, membuatku kewalahan
melawannya” jelasnya.
“hah, apa benar??” dia mengangguk pasti.
Aku
semakin mendekati Adel, ingin mengatahui informasi selanjutnya. Diaz
benar-benar menghipnotisku, sungguh baru pertama kali aku bertemu dengannya,
dia sudah membuatku seakan-akan dunia ini hanya akan mencari keberadaan apa
yang dia sukai.
“bukannya saat bermain Games itu juga bisa berbicara dengan
lawan kita??” tanyaku.
Aku
benar-benar kaget sekali, karena Adel melempariku dengan bantal kecil yang
dipangkunya tadi. Sebal sekali rasanya, aku hanya ingin tahu saja tetapi Adel
memang seperti itu orangnya, memberi informasi hanya setengah-setengah, tidak
langsung semuanya membuatku penasaran jadinya.
“Raisa kamu tahu ‘kan arti dari GAMES CHAT??” aku
mengangguk.
“ya jelaslah bisa, tidak lihatkah kamu setiap kali aku
sedang bermain PS?. Aku memakai apa kalau sedang Games Chat?” lanjutnya.
Alisku
terangkat dua-duanya, “kamu akan memakai Earphone jika tidak itu, bisa saja
kamu memakai Headphone yang memiliki Micro” ucapnya.
“sip!! Itu tahu!! Ayolah, kita tidur. Aku sudah benar-benar
ingin memeluk bantal gulingku” dia sudah mengantuk.
*
Setelah
menerima raport, aku dan Adel benar-benar berkeinginan untuk mengunjungi kota
tua, kita disana akan berfoto-foto ria. Tapi sebelum kesana kita harus memakai
baju biasa, agar tak terlihat anak pelajar yang tidak baik.
“kira-kira di kota tua banyak pengunjungnya gak yaa??”
gumamku entah dengan siapa itu.
“aku rasa tidak, karena belum mulai liburan panjang. Kan
mulainya besok, paling besok Jakarta macet sekali” sahut Adel yang tiba-tiba
sudah duduk di kursi kamarku.
“iya, ku rasa??” kataku.
Akhirnya
kitapun langsung Take up dengan diantarkan sopir pribadiku, kita berdua
memiliki kesamaan suka jalan-jalan, tapi semua orang suka jalan-jalan. Oke, ini
kesekian kalinya kita berkunjung untuk
menikmati suasana di Kota tua, Jakarta.
Disana asik pemandangannya, kota dimana dahulu itu.
“tapi Del, lihat deh! Ini juga udah mepet banget jalannya”
kataku sambil melihati jalanan.
Hilir
para kendaraan yang begitu banyak, wara-wiri dijalanan ini. benar-benar,
liburan panjang akan segera datang. Orang-orang yang ingin berlibur sengaja
untuk mengisi waktu panjang itu dengan liburan, apalagi liburan ke Ibu kota,
macet pun tak masalah buat mereka. Lihat saja kali ini, banyak sekali mobil
pribadi dan Bus-bus Pariwisata.
“gak bisa lewat manapun, benar-benar” gumamku.
Tangan
Adel menepuk bahuku, “kamu sangat menyukai sekali pemandangan macet seperti
ini” ucapnya.
Kulirik
sebentar Adel, dia tak menatapku melainkan menatap DS yang berada ditangannya.
Dia sedang bermain DS, DS kesayangan yang selalu dibawa kemana-kemana itu, aku
sempat berpikir bagaimana yaa suasana Adel jika sedang bertemu Bobby, apa Adel
akan melakukan yang seperti dia lakukan selalu bersamaku. Aku tidak tahu, yang
pasti hanya Adel dan Bobby yang merasakannya.
Tak
terasa perjalanan yang begitu panjang, sampailah kita di kota Tua itu. suasana
yang banyak berhilirkan manusia. Mereka saling bercanda ria, mengobrol, atau
groufi dan bahkan ada yang Selfie. Sudah cukup ramai, dengan orang-orang yang
berkunjung ataupun dengan pedagangnya.
”wah, udah sekian lama kita gak kesini. Menurutku masih
sangat menakjubkan” ucap Adel.
Dia
menarik tanganku, untuk berjalan kearah lebih dekat lagi. Senyum selalu
mengumbar diwajah kita masing-masing, hari ini aku senang sekali. Bersama
dengan Adel, merasakan kehangatan bahagia.
Persahabatan memang
indah…
“hey, kamu kan bisa bermain gitar? Lihat deh, disana ada
segerombolan orang bermain music, sepertinya seru lho!” girang Adel sambil
menunjuk arah dimana gerombolan itu.
Kepalaku
clingak-clinguk mencari dimana segerombolan itu, mungkin menarik memang jika
ada segerombolan music jalanan. Mereka kreatif, Adel terus menarik tanganku
hingga akhirnya kita sampai pada kerumunan lautan manusia ini. mepet sekali
kerumunannya. Tak sabar Adel melihatnya, dia dengan sekuat tenaga masih menarik
tanganku untuk membelah walau secuil lautan para manusia ini.
Hingga
sampai disana kita berdua tersenyum lebar, melihat pemandangan indah didepan
ini. mereka para pemusik jalanan sangat kreatif, memakai baju seragam yang
sama, dan memainkan berbagai alat music untuk menghibur para penonton.
“tunggu disini!” ucap Adel membuatku harus menatapnya aneh.
Dia
berlari kecil menuju orang-orang yang berada ditengah itu, mereka bahkan
tersenyum melihat Adel mendekati mereka. Lalu kulihat gerakan Adel yang aneh,
dia berbisik kepada salah satu anggota pemusik tersebut. Setelahnya, dia
menyodorkan jempol kepada pemusik tersebut.
Dan
kemudian Adel kembali lagi, “kamu ngapain tadi??” dia tak menjawab.
Dan
kulihat lagi orang-orang itu, mereka mengambil satu kursi dengan satu Gitar
akustik, dan tidak lupa. Mereka juga menyiapkan Mic, sudah terlihat rapih salah
satu dari mereka atau yang tadi berbisik dengan Adel, menuju kedepan.
“sepertinya ada yang mau menyanyi, apakah semua setuju
melihat penampilan yang secara tiba-tiba ini, ini sungguh apresiasi dan
antusias kepadanya. Dan kami persilahkan dia sekarang” tegasnya.
Adel
melirikku sambil tersenyum lebar, “dan dia cewek ternyata, WOW! Kita panggil
untuk tampil didepan sini adalah Raisa!!!” teriaknya, membuat seluruhnya
berteriak dan bertepuk tangan meriah.
Mataku
melotot, menatap Adel tak percaya. Yang dia lakukan membuatku tidak bisa
apa-apa selain melongo dan melotot kepadanya.
“dari namanya saja sudah kelihatan yaa, kalau dia penyanyi.
Mungkin akan menjadi pengganti dari Raisa Andriana heheh… Ayo Raisa! Show your
Skill!!” katanya lagi.
Adel
mengangguk pasti, semua orang berteriak meriah, “AYO! AYO! AYO! AYO! AYO! AYO!”
teriakan itu membuatku semakin yakin untuk tampil ditengah sana.
Akhirnya
dengan langkah yang begitu pasti, aku melangkah walaupun sedikit gugup, sampai
disana aku langsung menyambut gitar akustik itu. dan tersenyum kepada semua
penonton.
“memangnya dia bisa bermain gitar? Huuh, paling suaranya
juga kaya radio rusak!” tiba-tiba seseorang berkata seperti itu membuatku
menoleh.
Dia
Jessica, namun karena dia berkata seperti itu. semuanya menyoraki dia,
membuatnya mencibir. Dan tidak hanya Jessica, ada Yoona, Dinda dengan Adrian??
Bobby, dan Diaz. Dan masih banyak lagi orang-orang terdekatku.
“Come on Raisa!” aku tersenyum kikuk.
Jreng….jreng….jreng…
See you calling again…
(melihat kamu
menghubungiku lagi)
I don’t wanna pick up
no oh…
(aku tidak ingin sama
sekali mengangkatnya)
I’ve been lying in
bed…
(aku sudah berada di
kasur, tidur)
Probably thinking too
much ooo…
(memikirkan sesuatu
yang begitu banyak)
Sorry i…. not sorry
for the time…
(maaf aku ….tidak Maaf
untuk kesekian kalinya)
I don’t reply, you
know the reason why…
(aku tidak ingin
mengulang kembali, kamu tahu alasannya kenapa??)
Ketika
itu juga semuanya bertepuk tangan meriah, dan dengan semangat aku terus
melantunkan lagu slow itu.
Maybe you shouldn’t
come back…
(mungkin tidak
seharusnya kamu kembali)
Maybe you shouldn’t
come back to me…
(mungkin tidak
seharusnya kamu kembali kepadaku)
Tired of being so
such…
(lelah menghadapimu)
Tired of getting so
much baby…
(sangat lelah, sayang)
Stop, right now! You’ll
only let me down…
(berhenti, sekarang
juga! Kamu hanya akan membuatku sakit)
Maybe you shouldn’t
come back…
(mungkin tidak
seharusnya kamu kembali)
Maybe you shouldn’t
come back to me…
(mungkin tidak
seharusnya kamu kembali kepadaku)
DEMI LOVATO – SHOULDN’T COME BACK TO ME
Terus
melantun lagu itu hingga berakhir, itu membuatku tak sadar. Tak sadar sudah
berakhir, semuanya tetap bertepuk tangan meriah sekali. Akupun tersenyum lebar.
“suaramu sangatlah bagus! Mengalahkan penyanyinya” ucap
orang tadi, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia
lalu tersenyum kepadaku, “hhm, aku rasa lagu itu untuk seseorang” ucapnya
membuatku tersentak.
Aku
tahu makna lagu itu, lagu itu bermakna agar seseorang yang dulu ada dan kini
berpisah, namun dia selalu menganggu lagi akhirnya ingin seperti dulu lagi.
Tapi tidak bisa karena sudah cukup satu kali saja?, yaa sama saja dengan ketika
dua orang memiliki hubungan khusus tapi akhirnya berpisah, namun diantara
mereka ada yang ingin meminta balikan lagi, tapi tidak bisa.
“bukan, aku hanya sekedar menyanyikan seperti itu. ya, aku
sedang menyukai lagu ini. bukan apa-apa” jelasku dengan ragu.
“yakin?” dia berkata seperti itu sambil menatap entah siapa
dia?.
Hatiku
berdebar, saat tahu orang ini melihati Adrian. Apa dia tahu ataukah hanya tidak
sengaja, yang pasti itu sangat membuatku gusar.
FlashBack ON
1 juni 2010
Kemarin setelah aku mendengar bahwa Adrian
sudah jadian dengan Jessica, dia menghampiriku. Katanya, aku harus bertahan.
Tapi aku sudah tidak bisa menahan itu. akhirnya aku memutuskan hubungan itu
hingga sampai sekarang, dia selalu menghubungiku layaknya pacar sungguhan.
Sempat aku berpikir, bahwa sebelum ini terjadi, kemana saja dia? kemana jati
dirinya?.
Tapi tidak hanya itu, dia bahkan
sudah beberapa kali bilang berjanji tidak akan seperti itu, tapi nyatanya itu
semua Bullshit sementara. Dan bahkan dia sudah memutuskan hubungan itu dengan
Jessica, setelah aku memutuskan hubungan.
“maaf Adrian, untuk
apa? Aku masih gadis SMP, yang masih punya harapan panjang. Buat apa aku
bertahan?” ucapku.
“maafkan aku, karena
telah menyakitimu” katanya sambil menunduk.
“kenapa kamu
memutuskanku Adrian? Apa yang sedang kamu rasakan?” rengek Jessica.
“aku bukan cewek model
Jessica, aku masih punya otak” tindasku.
“semuanya sudah
berakhir, tidak ada kata kita. Bahkan setelah kita lulus, kita tidak akan
bertemu lagi” jelasku.
“tapi aku sudah
terlanjur membencimu” teriakku.
“bukan hanya kamu, aku
juga merasakannya” ucapnya.
“sadarkah kamu jika
karmamu sudah mulai menyapamu!” timpal Adel.
“aku sebagai sahabat
Raisa, tidak sudi! Jika Raisa balikan lagi denganmu, dia masih gadis SMP, masih
panjang perjalanan hidupnya. Kamu juga!” tutur Adel.
FlashBack OFF
Aku
baru menyadari satu hal menyakitkan itu. awalnya aku menunduk, namun ketika
orang itu tertawa, membuatku risih sendiri dan akhirnya kepalaku terpaksa
mendongak.
“ada yang malu, ya sudah? Boleh kembali jadi penonton”
ucapnya, aku mengangguk.
Aku
berjalan lesu menuju Adel, sampai disana aku menarik lemas Adel. Dia
menurutiku, mataku memanas, serasa air mata ini ingin jatuh. Apa aku juga akan
terkena Karma? Karena sudah membuat orang sakit hati juga, walaupun sepertinya
iya. Akankah takdir itu datang bertubi-tubi ataukah perlahan tapi terlalu sakit
untuk menjadi beban hidup.
“apa yang sedang menghampirimu, Sa?” kata Adel.
Sekarang
kita sudah duduk dipinggiran jalananan kota Tua, melihat Adrian tadi aku merasa
bersalah. Aku takut dia dendam kepadaku, apalagi jika aku terkena Karma.
“Del, aku takut” ucapku.
Ucapanku
itu membuatnya menoleh, “kamu takut apa? Anjing, kucing, lalat, atau….” Aku
menggeleng.
“bukan itu semua” kataku dengan sangat lemas.
“lalu kamu takut apa?
Bukannya kamu kan takut anjing, kucing dan terakhir lalat” jelasnya.
Aku
tersenyum tipis, dia masih ingat aku takut dengan hewan-hewan yang tadi dia
sebutkan, sahabat benar-benar sahabat.
“bukan, aku takut jika Adrian sakit hati karena semua
perkataanku Del. Aku sudah menyakitinya, dia akan marah kepadaku mungkin
selamanya. Dan membenciku!” kataku begitu lirih.
“kamu itu gimana sih Sa? Apa kamu tidak sadar kalau Adrian
bahkan lebih banyak menyakitimu, itu bukan masalah. Itu imbang artinya”
jelasnya.
Aku
tetap menggeleng tak yakin, “aku takut Del….” Rengekku.
“tidak usah takut, masih ada aku” ucapnya sambil menepuk
pundakku.
Aku
tersenyum, lalu setelah itu kita melanjutkan perjalanan menuju jalanan yang
lain.
“kali-kali kita mengunjungi patung pancoran, itu adalah hal
yang menakjubkan. Dan akan menjadi apresiasi kita Del, kita selfie disana? Dan
banyak lagi yang kita lakukan bukan? Dan patung pancoran sebagai Background
liburan, termenarik! Yeh!” dan saat itu juga tangan Adel menempel didahiku.
“apa ini efeknya?” dia menggeleng-geleng.
“mungkin tidak patung pancoran, tapi kita juga bisa ke
Ragunan Zoo” ucap Adel.
Aku
mencibir, “tidak, oh ya! Kamu ‘kan ingin hmmm…. Honeymoon di Roma tuh, ingin
bersama siapa? Bobby kah?” dan dia menoyorku.
“uuh…” rengekku.
“kita itu masih muda, jangan sampai berpikiran sudah dewasa
Sa? Nikmati yang ada saja, kalau bisa aku honeymoon ke Roma. Nyawa kita belum tentu
sampai disana, nobody knows, right!” alisku berkerut.
“maksudmu??” tanyaku.
“kematian kapan saja bisa terjadi, jangan terlalu berkhayal
tinggi. Ingat dulu sama pencipta, dan berdoa setiap hari” bijak sekali ucapan
Adel.
Membuatku
terharu mendengarnya, “kamu benar, belum
tentu kita hidup selamanya dan dihirukan dengan huru-hara surge dunia, karena
kematian adalah masih rahasia Tuhan. Nikmati yang ada saja, sepertimu” ucapku
sambil cengengesan.
“semua yang terjadi adalah anugerah dari Tuhan Semata, dia
memberikan kita rezeki seperti ini sudah termasuk cukup. Belum tentu rezeki
banyak tapi kita tidak bisa menggunakan untuk apa? Kembali lagi, nikmati yang
ada saja” aku kembali tersenyum lebar.
“yaa, karena seharusnya kita adalah manusia Qonaah”
lanjutku.
“dan Tuhan tidak suka orang yang sedih ataupun putus asa”
katanya.
Dia
mengangguk yakin, “ya, karena jika kita selalu putus asa dia akan marah,
apalagi sedih. Seharusnya kita berusaha untuk selalu yakin kepada diri kita,
bahwa hari esok itu lebih baik dari sebelumnya, tidak tuhan yang memberi
keindahan hidup kita, lalu siapa lagi? Kita harus berusaha setiap hari untuk
lebih baik dan mensyukuri nikmat yang beliau berikan” jelasnya.
Kita
terus berjalan sambil bergandengan tangan, kita saling berargumen terus seperti
itu, hingga tak sadar kita sudah ada didataran tinggi. Bukit kecil yang
menonjol tiba-tiba membuat kita tertarik untuk memandangi pemandangan disekitar
sini, melihat Sunset yang akan
tenggelam.
“indah surge dunia yang diberikan Tuhan, dia sangatlah hebat
dalam segala hal” gumamku.
“hey, Sa kamu tahu? Anak dari hhmmm tidak maksudku …Mischa sudah keluar
dari pondok, dan dia akan meneruskan SMA bersamaku, tentu denganmu juga”
mendengar kata Mischa aku bergejolak.
Ada
rasa nyeri dihatiku kali ini. sakit hati dulu yang dia lakukan tiba-tiba saja
menyayat dengan tajam dihatiku, Mischa Karina. Gadis solehah, namun
perkataannya sungguh tajam, membuatku seakan-akan harus terus membencinya.
“dia akan kembali??” tanyaku. Adel mengangguk.
Aku
masih menatap kedepan, melihat kosong kearah Sunset. Mengingat wajah tirus nan
cantik milik Mischa membuatku semakin sakit, dia yang dulu pernah membuatku
sakit hati dan aku membencinya. Dia yang dulu selalu berkata manis didepanku
nyatanya dibalik dari omongan manis itu adalah raungan singa bodoh semata.
“berarti dia akan sekolah disekolah yang sama dengan kita?”
kataku kembali, Adel mengangguk.
Ya, aku
dan Adel akan berencana meneruskan sekolah berbasis islam. Kami berdua sudah
yakin ingin merubah diri kami menjadi manusia yang lebih baik dengan masuk SMA
islam, kita sengaja karena kita akan menggunakan seragam tertutup. Tapi
seketika mendengar berita bahwa Mischa sepupu Adel akan kembali, apalagi dia
akan bersekolah dengan aku dan Adel.
“jangan takut, dia pasti berubah. Awalnya pas aku mendengar dari
ibunya, dan dia mengatakan bahwa Mischa sudah sangat begitu dewasa diumurnya
yang masih muda” ujar Adel.
FlashBack ON
“ayah, siapa gadis
kecil itu??” tanyaku.
“dia bukan
siapa-siapa? Dia hanya anak tetangga” ujar ayahku.
Sewaktu kecil dulu, tiba-tiba
saja ada anak kecil diarea sekitar komplek ini. dia bahkan tidak sering
terlihat, hanya saja aneh jika ada anak seperti dia dikomplek ini. bahkan
orangtuanya pun tak diketahui siapa mereka? Namun dia selalu kerumahku dan berkata
‘AYAH’ kepada ayahku.
“ibu, siapa gadis
kecil bernama Mischa itu bu? Kenapa dia juga memanggil ayah?” kataku sambil
menangis.
“tenang dia hanya anak
orang lain, bukan siapa-siapa?” kulihat wajah ibu yang juga menangis.
“dan sekarang aku
tidak terlalu melihat Bibi Anisa” ujarku lagi.
Ibu menunduk sambil menangis
terus, dia bahkan menangis lebih sedih. Entah apa yang terjadi dulu, sungguh
aku masih kecil dan tidak tahu apa-apa tentang siapa Mischa sebenarnya
dikeluargaku, dan kenapa bisa dia memanggil ayah juga kepada ayahku.
Namun setelah aku masuk SMP, aku
sudah mengetahui siapa Mischa itu sebenarnya, awal aku naik kelas 6, tiba-tiba
wanita paruh baya yang dulu sering sekali kerumahku untuk membersihkan rumah,
kembali dengan tangisan besar. Membuat seisi dirumah ini sontak kaget.
“Mas Jhony, tolong!
Bertanggung jawablah kamu semestinya, apa kamu tidak sudi dengan anak yang
dihasilkan dari kelakuan bejikmu itu! dia ada karena kamu sendiri” teriaknya
sambil terus menangis deras.
“aku tahu anak itu
adalah kesalahan, dan lebih fatalnya lagi aku adalah seorang pembantu rumah
tanggamu, jadi kamu seenak jidatmu mempermainkan hidupku dan menelantarkanku
dengan anakmu sendiri!” dia terus berteriak.
Aku yang melihatinya saat itu
meringis, dan tak lupa aku menangis juga melihat dia berteriak seakan-akan
sakit hatinya meledak malam itu juga.
“jadi, Mischa itu
anakmu dan dia? mengapa kamu tampung dia dirumah ini. apa kamu tidak merasakan
bagaimana putri kita Mas, dia terus dijahati karena anak itu! anak itu tidak
tahu diri, karena dihasilkan juga tidak tahu diri!” kini giliran ibuku yang
berteriak dan menangis.
Sekarang dia dipelukan kakek dan
nenek, sedangkan aku memeluk erat Bang Afran yang juga hanya bisa diam melihat
ini semua.
“aku membencimu,
seharusnya tahun kemarin aku benar-benar menceraikanmu! Mungkin kali ini aku memang sungguh-sungguh”
bentak ibu sambil mendorong tubuh ayah.
“dan aku akan
mendapatkan hak asuh anakku, mereka berdua! Afran dan Raisa harus ada
ditanganku, dan kamu! Teruskan rumah tanggamu dengan dia!” teriak ibu sambil
menunjuk Bibi Anisa yang juga menangis.
“tidak, itu tidak akan
terjadi” lirih ayah sambil menggeleng.
Ibu memukul ayah sekeras mungkin
, “lalu, dengan cara apa? Menyakiti hatiku” kata ibu.
“tidak Arni, aku sudah
menikahinya secara diam-diam. Aku akan secara adil menghidupkan kalian berdua,
dengan ketiga anakku” ucap ayah meyakinkan.
“tidak semudah itu!!”
ketus ibu lalu meninggalkan kita semua.
FlashBack
OFF
“aku… aku tidak tahu bagaimana sikapku saat dia akan tinggal
dirumahku itu” kataku.
Adel
menghembuskan nafasku, “jadi, kamu belum mengetahuinya?” aku mengangguk pasti.
“kenapa kamu yang belum tahu? Tapi kok Bang Afran tahu?”
katanya, aku menoleh.
“masa?” kataku lalu dia mengangguk.
Aku
benar-benar marah dengan Bang Afran, apa yang dilakukannya secara diam-diam itu
membuatku sakit hati. Aku berdiri dan langsung berlari sekencang mungkin, aku
mendengar Adel berteriak namun aku tak menghiraukan teriakan dari Adel
tersebut.
Sampai
dirumah aku benar-benar marah, dan mengamuk sejadinya. Melihat mereka
berkumpul, mereka keluargaku hanya tersenyum lebar kepadaku.
“aku benci kalian!” bentakku.
Mereka
semua tersentak, “kenapa Mischa kembali dan kalian tidak memberitahuku! Apa
kalian sengaja? Apa karena Micha akan tinggal disini dan aku tidak akan
dipedulikan lagi!, iya!” kataku lalu berlari menuju kamar.
“Raisa! Tunggu, bukan maksud kita….?? Raisa!!” teriak Bang
Afran.
BRAK!
“Raisa, buka pintunya. Abang mau bicara kepadamu” lirihnya.
“tidak semudah yang Bang Afran kira, kejarlah Mischa
ketimbang aku!” dengusku.
Kudengar
hembusan nafasnya, sangat terdengar jelas. Mungkin dia lelah dengan sikapku
yang selalu seperti ini.
*
10 bulan kemudian…
10
bulan sudah terlewati, namun Mischa belum juga datang kerumah ini bersama Bibi
Anisa. Katanya dia akan kembali kesini jika memang benar-benar sudah lulus dari
SMP dipondoknya itu, sedangkan aku sudah benar-benar akan melanjutkan SMA
Islam. Tekadku sudah bulat.
Semenjak
kejadian keluargaku menyembunyikan Mischa akan datang kesini, hidupku berubah,
penuh dengan kesepian dan keheningan. Bahkan Adel sampai berkata bahwa aku
sudah berubah, dia bahkan sempat memarahiku karena sikapku yang dingin, yang
tak seperti biasanya lagi.
“besok kita MOS, kamu harus menyiapkan semua bahan yang
sudah kakak OSIS umumkan. Jadi, jangan sampai lupa, dan besok hari pertama kita
memakai kerudung disekolah. Tidakkah kita harus merayakannya dengan bahagia”
ucap Adel kepadaku.
Dia
menatapku penuh kegirangan, namun aku hanya menatapnya diam. Sempat aku lirik
sebentar kearahnya, dia mengerucutkan bibirnya kesal karena sikapku.
Maaf Del, aku hanya
sedang sungkan untuk kembali kepadaku yang dulu….lagi.
Sampai
sinar mentari pagi terbit, aku dan Adel masih terdiam dalam keheningan. Adel
sudah mengertikanku sekarang, dia sabar menahan amarahnya yang selalu muncul
dari wajahnya, kapanpun dia marah sudah terlihat dari wajahnya. Wajahnya akan
berubah menjadi merah padam dan mulutnya selalu melengkung, dia akan cemberut.
“kita sudah sampai, apa kita langsung ke kelas??” Tanya
Adel, aku hanya mengangguk.
Sampai
dikelas, kudengar kebrakan dari Adel yang duduk, “Raisa, mau sampai kapan kamu
seperti itu? aku tahu besok Mischa akan datang” katanya.
Kulihat
dia menundukan kepalanya, merasa bahwa dia sudah lelah sekali dengan menghadapi
sikapku.
“apa perlu aku merubah hidupku sendiri?” kataku dengan
ketus.
Dia
melongo, “itu perlu Sa, kamu berubah semenjak mendengar Mischa akan datang dan
kamu…. Kamu pun berubah sikap jika bersamaku. Kamu tidak lagi seperti kamu yang
dulu” ucapnya terengah-engah.
“aku tidak bisa memaksakan posisiku yang sudah nyaman
seperti ini, jika memang harus. Akan kulakukannya, tapi…. Tidak dengan
pemaksaan” kataku.
Adel
melengos, “butuh kebiasaan untuk sampai ke titik yang sama” ucapnya, lalu pergi
meninggalkanku.
Awalnya
kau terkaget dengan perlakuan Adel, yang kukira sudah keterlaluan itu. dia
sangat marah, karena sikapku. Tapi aku harus bagaimana, akupun sudah mengatakan
beberapa kali kepadanya, jika aku tidak ingin dipaksa untuk merubah Mindset ku seperti dahulu. Seperti
ucapan Adel sendiri, ‘Butuh kebiasaan
untuk sampai ke titik yang sama’
Saat
itu juga aku menghembuskan nafas begitu berat, kudengar suara sepatu yang akan
masuk kekelas ini. seseorang mungkin sedang berjalan menuju kesini.
“lho, kok kamu tidak bersama Adel?” Tanya seseorang itu.
Aku
terpengarah karena mendengar suara berat, “Diaz….???” Lirihku, dia berjalan
mendekat kepadaku.
“apa benar, kamu dan Adel sedang marahan? Apa yang
terjadi??” katanya.
Aku menggeleng,
“tidak, kita berdua tidak sedang marahan. Hanya saja kita sedang sibuk
masing-masing” ucapku mengada-ada.
Dia
menatapku seolah-olah berkata ‘YAKIN??’, aku mengangguk pasti. Walaupun memang
benar-benar bukan itu alasan yang logis. Aku hanya ingin masalah itu aku dan
Adel yang tahu.
“ayolah, aku sebenarnya tahu ada masalah diantara
persahabatanmu dan Adel. Tapi kumohon, jika memang berat kamu bisa meminta
saran kepada siapapun? Termasuk aku” ucapnya.
Aku
tersenyum manis, “terima kasih… akan kucoba” ucapku.
*
DEMI LOVATO – NIGHTINGALE
Suasana
dikamarku semakin menyeruak, membuatku panas sendiri. karena tahu hari ini
Mischa dan Bibi Anisa akan kembali, hatiku gemuruh. Suhu badanku mungkin sudah
bisa meledak, pipiku merah padam. Ada rasa marah menggumpal tercampur bersabar.
Aku tidak mau keluar namun Bang Afran memaksaku untuk keluar agar dapat
terlihat sangat menyambut salah satu keluarga yang hilang itu.
Bisakah masalahku
berhenti kali ini? aku bosan.
“Raisa, ayo! Mereka sudah datang” kata Bang Afran.
Aku
berjalan malas mengikuti Bang Afran dari belakang, dalam hatiku masih
bergemuruh tak karuan. Rasanya sekarang juga aku berteriak, agar mereka tahu
aku benci keadaan ini.
Sampai
disana kulihat Adel sudah berbincang ria dengan Mischa, ada sedikit rasa iri
saat melihat mereka tersenyum dan bahkan terkekeh kecil. Saat mereka menoleh
kepadaku aku melengos, aku sengaja melakukan itu agar mereka tidak tahu kalau
aku melihatnya.
“ayo Raisa, beri selamat datang” ucap Ibu.
Aku
menatap kedua orang itu ,Bibi Anisa dan Mischa. Mereka tersenyum, aku tersenyum
kaku terhadap mereka. Lalu sudah begitu, aku meninggalkan semuanya. Mungkin
mereka akan kaget dengan sikapku kali ini.
Sampai
dikamar aku berkaca dicermin besar milikku, aku menatap wajahku yang kini sudah
memakai kerudung dan baju yang menutup seluruh tubuhku. Sengaja aku lakukan
itu, karena aku tidak tahu wajahku sekarang seperti apa. Lihatlah, wajahku
kusam dan tidak enak sekali dilihat. Air mataku menetes.
Beberapa
kali tanganku mengusap air mata itu, namun tetap mereka saling berkejaran
jatuh, bahkan sangat deras sekali. Membuatku ada rasa enek harus melakukannnya
berkali-kali.
Hari
demi hari kulewati, hanya sendirian. Tidak dengan siapa-siapa, kini Adel selalu
bersama Mischa. Aku tidak punya sahabat lagi, selain diriku sendiri. berbicara
pada hatiku sendiri setiap hari, membuatku lebih baik. Walaupun selalu ada rasa
ingin berteriak dan membentak kepada Adel dan Mischa, mereka selalu membuatku
muak karena tingkah mereka.
Dan
sudah termasuk hari kegiatan belajar mengajar disekolah yang baru ini, di SMA.
Awal yang menyedihkan bagiku, karena tiada lagi yang bisa aku manfaatkan,
kecuali menangis sendirian dikamar. Orang yang selalu ada kini berganti, iya
aku selalu bersama Diaz. Dia bahkan selalu menyarankanku agar berbaikan dengan
Adel, namun aku selalu menolak.
Untuk
apa? Ini semua karena Mischa, dia yang sudah mengambil semuanya dariku. Dia
yang sudah membuat hidupku hancur berkali lipat, dia yang sudah merebut ayah
dariku. Dia sudah merebut semua perhatian orang terdekatku, termasuk ibu dan
Bang Afran. Bahkan kakeh dan nenek selalu lebih memilih berbicara kepadanya
ketimbang aku lagi. Aku benci semua orang yang ada dirumah.
“Raisa, ibuku ingin berbicara denganmu” kata Mischa yang
tiba-tiba saja datang kekamarku.
Aku
hanya menatapnya, sampai ibunya sudah berada didepanku kini. Kemudian, dengan
cepat tangan ibunya itu menjambak rambutku.
“heh! Kamu kira kita tidak tinggal diam hah, sikapmu itu
sudah keterlaluan! Ingat yaa, aku akan merebut ayahmu lalu aku akan membawanya
kesuatu tempat dan akan selamanya disana bersamaku dengan Mischa, kita bertiga
menjadi keluarga. Sedangkan kamu! Ibumu, Afran akan menderita. Rasakan itu
bocah!” dia sangat kuat sekali menjambak rambutku dan melepasnya dengan
membentak.
Aku
hanya bisa menangis dan menatap mereka. Aku melihat wajah ibu dan Mischa yang
sinis kepadaku.
“dan ingat selalu, kamu akan segera merasakan hidup
terlantar!!” Tukas Mischa.
Dia
masih tersenyum sinis, “aku akan mendapatkan perhatian semua orang, agar kamu
tidak sama sekali dianggap mereka ada! Dan aku akan merebut Adrian dari kamu!”
mataku melotot.
“apa pantas gadis berkerudung memiliki sikap bengis
sepertimu!” ketusku.
Kini
giliran ibu Mischa berada didepanku lagi, “tidak usah membawa-bawa kerudung”
tukasnya.
Awalnya
tangan Ibunya itu sudah melayang diudara namun aku tampis dengan cepat dan
berdiri, hingga seimbang.
“jadi, selama ini anakmu benar-benar bengis! Dia memakai
kerudung hanya untuk kedok semata! Kalian ini hanya pura-pura, kalian kesini
hanya akan menghabisi harta ayahku,lalu mengambil ayahku! Dan kalian akan pergi
dengan kesenangan kalian. Dan akan membuat aku, ibuku, dan Bang Afran
menyedihkan!” teriakku.
Dan
Mischa menamparku sangat keras, membuatku harus meringis. “begini caramu!!”
tukasku.
“itu kamu sudah tahu! Maka dari itu, berbaiklah kamu dengan
kami atau kalau tidak, rasakan hidup yang benar-benar seperti di neraka!”
Mischa membantingku ke dinding, tangannya mencekik leherku.
Lalu
mereka pergi dengan tertawa, tanganku memegangi leher, sakit. Lalu memegangi
pipiku, rasanya seperti dijepret sesuatu yang begitu keras, sakit juga.
KREK!
Tangisku
mereda, mendengar pintu dari balkon terbuka. Ada siapa? Kenapa bisa ada orang
yang masuk kekamarku melewati balkon. Aku berlari kecil.
“hah!......” kagetku.
Orang
itu membekap mulutku, karena memang tadi aku akan menjerit meminta pertolongan
orang yang ada dirumah ini. namun dia, dengan cepat membekapku dengan tangannya
yang besar itu.
“sstt……” bisiknya.
Aku
memberontak, “Adrian……” dia tersenyum manis.
“aku mendengar semuanya, maaf” ucapnya.
Kemudian
dengan senang hati dia langsung duduk, duduk dikursi yang ada dikamarku. Dia
terus menatapku, akupun juga menatapnya.
“kamu tahu rumahku? Dari siapa? Lalu, kenapa kamu bisa tahu
kamarku?” tanyaku bertubi-tubi.
“iya, ada deh? Insting” katanya.
Dengan
sigap aku mengambil bantal besar dan melemparnya kepada Adrian. Dia mengaduh,
kurasa itu sangat sakit. Itu salahnya sendiri, kenapa menjawab tidak baik
terhadapku.
“aku kesini hanya ingin bertemu denganmu, sudah lama aku
tidak bertemu mantan yang sudah berbeda sekali. Dan bukan hanya itu, aku juga
ingin bertanya kepadamu” katanya.
Aku
melengos saat dia menatapku, “Tanya apa!” kudengar kekehan darinya.
“apa kamu sudah jadian dengan Diaz?” Tanya Adrian.
Aku
menggeleng, “kenapa kulihat kamu sangat dekat denganya, itu membuatku cemburu”
saat itu juga aku menoleh.
“apa aku tak salah mendengar ucapanmu itu” kataku.
Dia
menggeleng, “aku mengatakan yang… sebenarnya. Aku cemburu jika kamu berdekatan
dengan cowok lain” katanya dengan seenak jidatnya.
“kamu sedang bercanda” ucapku antusias.
“tidak, aku sungguh-sungguh. Sebentar lagi, kamu akan
merasakan dunia bersamaku dan tidak akan seperti dulu….lagi” aku menatapnya.
“aku sudah berkerudung, aku bukan halnya seperti cewek-cewek
yang gampang untuk kamu rayu. Aku bukan cewek yang gampangan!” teriakku.
Alisnya
naik keatas, lalu tersenyum , “aku tahu, maka dari itu… aku akan menunggumu.
Tapi mulai dari sekarang, aku akan mencoba berbaik kepadamu” aku menggeleng.
“itu tidak akan mungkin… terjadi lagi” tekanku.
Awalnya
dia akan memegangiku namun aku tepis, “tidak akan semudah itu, ingat! Adrian
Valdiano!” bekisku.
Dia
terkekeh renyah, “tapi aku akan berusaha, Raisa dengar! Aku sudah
sungguh-sungguh, kalaupun kamu memang sama sekali tidak memedulikanku, aku akan
terus mencobanya” tuturnya.
Dia
tersenyum manis kepadaku, aku ingat sesuatu dari senyum itu. aku mempunyai satu
foto saat dia tersenyum seperti itu, ini kedua kalinya dia menunjukan itu, tapi
bedanya. Kali ini dia menunjukan senyum itu benar-benar kepadaku.
“pulanglah, sebelum ada yang tahu” tegurku.
Dia
mengangguk, “iya, jangan lupa jika ada sesuatu padamu mintalah pertolongan.
Hati-hati dengan Mischa dan ibunya” tuturnya.
“eh, kenapa kamu akan lewat pintu menuju bawah rumah. Itu
sama saja kamu bunuh diri” kataku.
Dia
benar-benar lewat depan, bukan melewati balkonku tadi. Tanganku menarik kerah
baju miliknya.
“ada yang salah jika aku lewat sini?” aku mengangguk.
“dibawah sana ada banyak keluargaku, aku tidak mau menjadi
masalah jika kamu lewat sana” dia mengangguk.
Saat
dia sudah akan menuruni balkon ini, “hati-hati, jangan sampai ketahuan. Dan
jangan terlalu mengebut jika mengendarai kendaraan” kataku.
“kamu sangat perhatian kepadaku, tenanglah? Semuanya akan
baik-baik saja, jika kamu masih ada” aku mencibirnya.
“hey, jangan keras-keras saat bicara” tegurku.
Dia
malah cengengesan tak jelas, “aku tidak enak jika tidak bicara dengan suara
keras!!” suaranya malah bertambah keras, membuatku tersentak.
“ADRIAN!!!” teriakku, dia tertawa sambil melambaikan tangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar